READ.ID,- Gorontalo kembali bersinar dalam kemilau lampu botol dan obor bambu saat perayaan malam tumbilotohe berlangsung di halaman rumah jabatan Gubernur Gorontalo, Rabu (26/3/2025). Dengan tangan mantap, Gubernur Gusnar Ismail menyalakan lampu pertama pada alikusu, gerbang adat khas yang menandai awal tradisi penerangan Ramadan. Cahaya-cahaya kecil yang bertaut itu seolah menjadi pertanda bahwa bulan suci segera mencapai puncaknya, dan umat Islam akan menyongsong Idulfitri dalam hitungan hari.
Malam itu, suasana begitu syahdu. Kilauan lampu-lampu tumbilotohe menciptakan pemandangan magis yang membawa nostalgia bagi warga Gorontalo. Tradisi ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga warisan budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. “Malam tumbilotohe ini pertanda bahwa beberapa hari ke depan, insyaa Allah kita akan menyelesaikan ibadah puasa dan bertemu dengan Idulfitri 1 Syawal 1446 Hijriah,” ujar Gubernur Gusnar dengan penuh haru.
Bagi masyarakat Gorontalo, tumbilotohe bukan sekadar menyalakan lampu, melainkan simbol cahaya keberkahan dan doa yang dipanjatkan pada malam-malam terakhir Ramadan. Gubernur Gusnar juga mengajak seluruh umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah, mengingat akhir Ramadan diyakini sebagai momen penuh rahmat dan ampunan. “Mari kita manfaatkan akhir Ramadan ini sebaik-baiknya. Kita berdoa agar bisa bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan,” imbuhnya.
Tumbilotohe, yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak 2014, masih lestari hingga kini. Selama tiga malam berturut-turut, jalanan dan halaman rumah warga akan dipenuhi dengan cahaya lampu botol yang menggantung di pagar-pagar bambu. Dulu, lampu-lampu ini berbahan minyak kelapa, tetapi kini banyak yang menggunakan lampu listrik demi mempertahankan estetika tradisi dalam sentuhan modern.
Perayaan malam tumbilotohe juga diisi dengan prosesi moheupa zakati, yaitu doa bersama sebelum menunaikan zakat fitrah. Gubernur Gusnar turut serta dalam prosesi ini, diiringi lantunan doa yang dipimpin oleh seorang imam. Suasana haru menyelimuti para hadirin, mengingat zakat fitrah menjadi wujud kepedulian sosial di bulan suci.
Seiring lampu-lampu yang terus menyala, masyarakat Gorontalo larut dalam kekhidmatan tumbilotohe, menikmati keindahan malam yang dipenuhi cahaya dan doa. Tradisi ini bukan hanya bagian dari budaya, tetapi juga manifestasi keimanan dan harapan, bahwa cahaya kebaikan akan terus bersinar di hati setiap insan hingga Ramadan berikutnya tiba.*****