READ.ID – Kenaikan suhu global yang memicu gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di Provinsi Gorontalo, kini menjelma menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia, terutama kesehatan jantung dan pembuluh darah. Kajian ilmiah terbaru dari peneliti Fakultas Kedokteran UNG membawa kabar yang jauh lebih personal dan mendesak: perubahan iklim sedang mengincar denyut jantung kita.
Kajian yang dipimpin oleh Nayla Prima Dyta bersama tim mengungkap bahwa fenomena heat stroke akibat gelombang panas ekstrem bukan sekadar masalah kepanasan biasa. Ini adalah krisis kardiovaskular akut yang bisa berujung pada kegagalan organ hanya dalam hitungan jam.
Data epidemiologis dalam penelitian ini menunjukkan korelasi yang mengerikan. Diketahui bahwa setiap kenaikan suhu lingkungan sebesar 1°C di atas ambang batas lokal, risiko kematian akibat penyakit jantung meningkat hingga 2,1%.
Hal yang perlu diwaspadai adalah “efek jeda”. Kematian sering kali tidak terjadi tepat saat suhu mencapai puncaknya, melainkan muncul beberapa hari setelah paparan panas. Inilah alasan mengapa lonjakan kasus serangan jantung mendadak dan gangguan irama jantung di berbagai belahan dunia-termasuk wilayah tropis-sering kali terlambat dikaitkan dengan cuaca ekstrem. Kelompok paling rentan adalah lansia, penderita penyakit jantung, pekerja luar ruang, serta masyarakat perkotaan yang tinggal di wilayah padat dan minim ruang hijau.
Badai Biologis: Bagaimana Jantung “Lumpuh” karena Panas
Secara alami, tubuh akan berkeringat dan melebarkan pembuluh darah kulit untuk mendinginkan diri. Namun, saat suhu ekstrem, jantung dipaksa bekerja layaknya mesin yang dipacu melampaui batasnya.
Penelitian ini menemukan fenomena bernama myocardial stunning. Pada fase awal heat stroke, jantung bekerja secara hiperaktif. Namun, dalam waktu 24–48 jam, pompa jantung bisa anjlok drastis akibat stres panas dan peradangan hebat. Dampaknya? Tekanan darah jatuh dan organ vital lainnya mulai gagal berfungsi. Hal ini bisa menimpa siapa saja, bahkan mereka yang sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit jantung.
Bahaya Tersembunyi di Dalam Darah
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah peran biomarker jantung dan peradangan sebagai penanda bahaya dini. Lebih dari 70 persen pasien heat stroke menunjukkan peningkatan troponin, penanda kerusakan otot jantung, sementara lebih dari separuh mengalami peningkatan BNP, indikator gagal jantung. Selain itu, tingginya IL-6 dan D-dimer menandakan peradangan hebat dan gangguan pembekuan darah, yang sering kali mendahului kegagalan multi-organ. Dengan kata lain, heat stroke adalah badai biologis, bukan sekadar suhu tubuh tinggi.
Mengapa Diagnosis Sering Terlambat?
Salah satu masalah krusial dalam penanganan heat stroke adalah kesalahan diagnosis. Penelitian ini mencatat kasus heat stroke berat dengan suhu ketiak yang tampak normal, padahal suhu inti tubuh pasien telah melampaui 40°C. Kondisi ini terjadi karena kegagalan sirkulasi membuat kulit terasa lebih dingin, sehingga pengukuran suhu permukaan menjadi tidak akurat.
Akibatnya, pasien terlambat mendapatkan pendinginan agresif—langkah paling penting untuk menyelamatkan nyawa. Temuan ini menegaskan bahwa dalam kondisi darurat panas, pengukuran suhu inti tubuh jauh lebih relevan dibanding suhu permukaan.
Heat Stroke sebagai Darurat Kesehatan Akibat Iklim
Kajian ini memperkuat pandangan bahwa perubahan iklim telah memasuki ruang gawat darurat rumah sakit. Heat stroke perlu dipahami sebagai penyakit kardiovaskular akut yang dipicu oleh faktor lingkungan, bukan sekadar gangguan cuaca.
Pendekatan penanganan heat stroke tidak bisa dilakukan secara sektoral. Diperlukan sistem peringatan dini gelombang panas, perlindungan bagi pekerja luar ruang, pembangunan infrastruktur kota yang ramah iklim, serta kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dengan protokol pendinginan cepat dan pemantauan jantung yang memadai.
Tanpa adaptasi kebijakan kesehatan yang serius, beban penyakit jantung akibat panas ekstrem diperkirakan akan meningkat tajam, terutama di negara beriklim tropis seperti Indonesia.
Menjaga Denyut Jantung di Tengah Iklim yang Memanas
Penelitian ini menyampaikan pesan yang jelas: iklim yang memanas adalah ujian baru bagi ketahanan jantung manusia. Melindungi masyarakat dari dampak heat stroke tidak cukup dengan imbauan minum air atau berteduh. Dibutuhkan sistem kesehatan yang siap menghadapi krisis iklim. Pada akhirnya, perubahan iklim bukan hanya soal suhu bumi, tetapi juga tentang denyut jantung manusia yang semakin terancam.











