Opini  

Ramadan, Laut, dan Ujian Kesadaran Manusia

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Albert Einstein pernah mengingatkan bahwa manusia sejatinya hidup dengan keterbatasan kesadaran dalam memahami alam. Kesadaran ini semestinya melahirkan sikap rendah hati bahwa manusia bukan penguasa mutlak, melainkan tamu yang seharusnya tahu diri. Sayangnya, yang sering lahir justru sebaliknya: keberanian mengeksploitasi, dibungkus rasa paling tahu.

Jauh sebelum Einstein hadir dengan rumus-rumusnya, Al-Qur’an telah lebih dulu mendidik manusia untuk rendah diri. Menahan nafsu, mengendalikan keserakahan, dan tidak melampaui batas. Sikap itu dilatih secara intensif setiap Ramadan, sebuah sekolah tahunan bagi pengendalian diri. Berpuasa, tentu, bukan sekadar menunda lapar dan haus. Ia adalah latihan merasa cukup. Latihan untuk tidak selalu menuruti keinginan, apalagi mengangkanginya dengan dalih kebutuhan. Melatih kita lebih peduli.

Peduli, kata ini lebih sering terdengar daripada dipraktekan. Masih teringat lantangnya suara Presiden Prabowo tentang kebersihan dalam Rakornas Kepala Daerah beberapa saat lalu. Tanpa basa basi, Presiden menyentil pantai yang kotor penuh sampah di Bali. Pesan itu hingga kini masih berdengung di telinga kita. Maknanya terbaca bahwa kita tidak peduli pesisir dan laut.

Al Quran mengatakan telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Kerusakan ini akibat keserakahan dan kelalaian manusia Karenanya kitab suci ini mengingatkan kita untuk kembali ke jalan benar, rendah diri dan tidak serakah.

Laut dalam diamnya menjadi laboratorium paling jujur tentang rendah diri dan keserakahan manusia. Di permukaan, ia berkilau cantik, siap dipotret, diunggah, dan dipamerkan di media sosial. Namun di kedalaman, laut menyimpan luka yang jarang masuk ceramah. Terumbu yang memutih, ikan yang kehilangan rumah, dan plastik yang lebih setia menetap dibanding manusia yang merasa beradab.

Kita sering lebih cemas pada hasil tangkapan hari ini daripada keberadaan ikan esok hari. Lebih resah pada menurunnya pamor wisata bahari ketimbang rusaknya ekosistem. Kita menertawakan ombak yang kotor, tanpa sadar bahwa kitalah yang meninggalkan jejaknya. Ironi ini bahkan tidak berhenti saat Ramadhan tiba, bulan yang seharusnya penuh jeda dan perenungan.

Hakikat puasa adalah belajar merasa cukup. Di bulan Ramadan, rasa cukup itu seharusnya menjelma menjadi empati terutama atas ketidakadilan kita terhadap laut. Namun laut terus dipaksa memberi lebih dari kemampuannya. Ikan ditangkap melampaui regenerasinya. Terumbu karang remuk oleh kaki-kaki yang tak pernah belajar menoleh ke bawah. Ruang hidupnya dipersempit, seolah alam tidak punya hak untuk berkata, “cukup.”

Ironinya, semua ini menguap saat manusia sibuk mensucikan diri. Ceramah menjadi sempit, sekadar soal isi perut. Sementara di tempat lain, perut bumi justru dijadikan tempat pembuangan dosa ekologis, tentang limbah, plastik, dan keserakahan yang diberi nama kemajuan.

Jika manusia mampu menahan lapar dari subuh hingga magrib, mengapa begitu sulit menahan nafsu saat mengeksploitasi sumber daya alam? Mengapa sabar hanya berlaku di meja makan, tapi gugur di meja kebijakan? Apakah puasa hanya membersihkan perut, bukan perilaku?

Ramadan seharusnya menjadi momentum tobat ekologis. Jika Ramadan adalah bulan taubat, maka merawat laut adalah bentuk taubat kolektif. Bukan sekadar menyesali dosa personal, tetapi juga dosa terhadap alam yang menopang kehidupan.

Puasa bukan hanya soal mengurangi porsi makan, tetapi menata ulang cara mengambil keputusan bijak mulai dari dapur rumah tangga hingga pengelolaan laut. Menahan nafsu konsumsi di meja makan hingga menata meja kebijakan pengelolaan laut seharusnya menjadi praktek nyata setelah Puasa.

Menjaga laut bukan semata urusan teknis yang dibahas panjang di ruang rapat dan workshop. Ia adalah perpanjangan nilai puasa tentang keadilan, keseimbangan, dan tanggung jawab. Apa artinya rajin beribadah kepada Sang Pencipta, jika abai terhadap kerusakan ciptaan-Nya?

Laut tidak bisa berkhutbah, tidak pandai mengeluh. Maka puasa seharusnya menumbuhkan empati pada makhluk yang memilih diam menanggung akibat.

Suatu saat Ramadhan berakhir. Tapi empati menjaga laut seharusnya tidak ikut pamit. Ramadhan hanyalah bulan latihan—ujian sesungguhnya dimulai setelahnya.

Apakah manusia kembali rakus, menguras laut tanpa jeda? Atau membawa ruh puasa dalam cara memperlakukan laut dan sumber dayanya secara lebih beradab dan berkelanjutan?

 

oleh Aryanto Husain

Minggu, 21 Februari 2026

Baca berita kami lainnya di