Opini  

Kepemimpinan Tanpa Gaduh, Refleksi Awal Menjaga Arah Pembangunan Provinsi Gorontalo

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Tidak terasa 12 bulan berlalu dibawah kepemimpinan Gusnar Ismail dan Idah Syaidah Rusli Habibie sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo.

Meski terlalu dini menyimpulkan kesuksesan, nalar kita tidak bisa memungkiri berbagai capaian. Mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga penurunan angka kemiskinan, angka dan grafiknya sudah diulas diberbagai media, oleh berbagai kalangan. Semuanya jelas menggambarkan kemana arah pembangunan daerah. Gorontalo maju dan sejahtera.

Satu tahun bukan soal hasil final, melainkan arah dan suasana. Gusnar dan Idah membingkai keduanya dalam stabilitas sebagai modal yang tak terlihat. Tulisan ini khusus membedah praktek kepemimpinan antara Gubernur dan Wakil Gubernur yang menjadi pondasi pencapaian di atas. Kepemimpinan itu digambarkan sebagai kemitraan win-win, saling melengkapi antar keduanya. Tidak seperti daerah lain yang gaduh, keharmonisan Gusnar dan Idah membuktikan birokrasi Pemprov berjalan baik, kondusif dan bisa memproduksi kerja nyata, terarah dan terukur.

 

Program Unggulan Penyangga Utama Arsitektur Kebijakan

Birokrasi pemerintahan sering digambarkan sebagai arsitektur, bukan kembang api. Ada kebijakan, ada strategi, program hingga kegiatan. Ini adalah choice architecture yang oleh Richard Taller, pakar ekonomi perilaku, membantu aktor birokrasi “memilih dengan benar” tanpa harus dipaksa. Gusnar dan Idah menyadari birokrasi tidak perlu diseret tapi cukup ditata jalurnya.

Melalui Program Unggulan tercipta bayangan bagaimana Gorontalo membangun masa depannya. Kearah mana kebijakan Pemda disalurkan. Manajemen program unggulan dan sektoral menjadi rangka yang memungkinkan kebijakan lintas OPD berjalan. 5 program unggulan ditetapkan. Tidak banyak untuk membuat keunggulan itu sendiri tidak kehilangan makna.

Dalam struktur jajaran genjang program unggulan, pengembangan SDM disetting sebagai payung sekaligus motor mengelola berbagai program/kegiatan. Di tengahnya, berjejer rapi 3 sektor ekonomi utama untuk menggerakan roda pembangunan: AgroMaritim, UMKM dan Pariwisata. Infrastruktur menjadi kaki yang menopang semuanya berjalan dengan ancar. Semua tertata dan terarah.

Program unggulan bukan etalase, pajangan kebijakan. Dia adalah alat konsolidasi arah pembangunan. Sebagai arah, keberhasilannya tidak hanya diukur pada angka, tapi pada kejelasan pesan dan konsistensi eksekusi. Terbukti kelimanya memberikan warna yang direkam sebagai catatan kemajuan.

 

Tenang, Tidak Tergesa, Tapi Bergerak

Menata arah dan jalur pembangunan bukan sebuah ketergesaan. Ada pesan kehatian-hatian, konsistensi berkelanjutan. Gusnar dan Idah adalah figur dengan gaya kepemimpinan yang tenang, tidak tergesa, tapi bergerak. Gaya kepemimpinan yang tidak reaktif seperti ini, umumnya tidak larut pada sensasi jangka pendek.

Dalam setahun ini, keputusan yang diambil tidak selalu keras, tapi konsisten.

Daniel Kahneman, mendukung gaya kepemimpinan ini dengan teorinya Thinking System. Manusia memiliki 2 cara berfikir, system thinking 1 yang cepat dan systim thinking 2 yang lambat. Kebijakan publik membutuhkan kehati-hatian, bukan sekadar kecepatan. Gusnar dan Idah memadukan keduanya. Di era semua ingin viral, keduanya justru memilih tidak selalu tampil, tapi segera hadir saat diperlukan.

Ibarat pawang hujan yang bisa mengendalikan hujan. Tipe kepemimpinan membuat langit relatif teduh untuk bekerja. Birokrasi pemerintahan berjalan kondusif. Ini adalah kondisi status quo bias yang tidak diharamkan. Birokrasi bekerja lebih produktif ketika stabilitas dijaga, karena ketidakpastian adalah musuh keputusan rasional.

Stabilitas sering dianggap “tidak bekerja”, padahal justru itu tanda tidak gaduh. sebaliknya kegaduhan dalam kepemimpinan bisa jadi tanda “tidak bekerja”.

 

Dari Koordinasi ke Kolaborasi

Arah dan tujuan sudah jelas. Target-target sudah tercapai. Satu tahun pertama telah berlalu. Ini adalah fase merapikan meja, tahun berikutnya fase mempercepat lari. Mendorong pembangunan lebih cepat, koordinasi saja menjadi tidak cukup. Kolaborasi menjadi kata kunci, baik kolaborasi Pusat Daerah, maupun kolaborasi Provinsi dengan Kabupaten/Kota.

Dalam Nudge Theory, kolaborasi dibangun tidak dengan memerintah, tapi mendorong. Pemerintah provinsi tidak harus memerintah, cukup memberi dorongan cerdas agar daerah bergerak searah. Gusnar dan Idah mengajak Pemimpin Daerah lainnya untuk menyadari kemajuan tidak lahir dari siapa paling keras bicara, tapi siapa paling konsisten melangkah. Kabupaten/kota diajak keluar dari pola menunggu dan menyalahkan, tapi berkolaborasi menyelesaikan persoalan lokal dan isu-isu antar daerah.

Otonomi daerah tidak perlu lagi disalahartikan sebagai berjalan sendiri-sendiri. Kemajuan daerah tidak bisa berjalan dalam arti ego sektoral dan kedaerahan. Kemajuan itu hanya mungkin jika aturan main kolaborasi berjalan partisipatif, adil dan dipercaya. Kabupaen/kota dengan otonominya tidak lagi menunggu bola dari provinsi, tapi bisa menggulirkan bola pembangunannya sendiri.

Dengan kewenangan yang ada, merek bisa mendesain arah kemajuan daerah. Saat semua ingin maju, perlu diingat bahwa perahu bocor tidak bisa didayung sendiri. Disinilah peran provinsi hadir. Tanpa perlu bertindak sebagai komandan lapangan, Provinsi menjalankan peran penting sebagai okestrator pembangunan di daerah.

Perjalanan kepemimpinan setahun Gusnar dan Idah mempelihatkan hal ini. Peran itu diwujudkan dalam bentuk keadilan kebijakan lintas wilayah. Meski menjadi figur politik dengan warna yang berbeda, kepemimpinan keduanya tidak memamerkan kedekatan politik tapi menciptakan rasa aman dan kondusif bagi semua daerah yang memiliki balutan warna politik yang mungkin berbeda.

Perjalanan 5 tahun RPJMD masih panjang. Di balik pencapaian tahun pertama ini, Gusnar dan Idah telah menunjukan kepemimpinan adalah ruang untuk bertumbuh bersama. Bahwa kepemimpinan bukan tentang hanya membuat daerah bergerak cepat, tapi yang penting semuanya bergerak ke arah yang sama. Lebih penting lagi, kepemimpinan Gusnar dan Idah membawa pesan moral, masa depan Gorontalo ditentukan stabilitas, suasana kondusif, didukung oleh praktek kepemimpinan yang bergandengan tangan tanpa gaduh.

 

oleh Aryanto Husain

Selasa, 24 Februari 2026

Baca berita kami lainnya di