READ.ID – Festival lampu Tumbilotohe memang menjadi tradisi yang selalu dinanti masyarakat Gorontalo setiap akhir Ramadan.
Namun bagi Rema Muda Bengsol 08 Masjid Al-Mujahidin, tradisi itu tidak berhenti pada pemasangan lampu semata. Mereka juga menghidupkan kembali permainan tradisional Bunggo, sebagai cara mengenalkan budaya lama kepada generasi muda.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari partisipasi masyarakat dalam memeriahkan Festival Tumbilotohe 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Gorontalo. Berbagai persiapan dilakukan oleh para pemuda setempat sejak awal Ramadan, mulai dari penataan lampu tradisional hingga menyiapkan permainan rakyat yang pernah populer di masa lalu.
Ketua Panitia Bengsol 08, Risno Pakaya, mengatakan bahwa keterlibatan remaja masjid dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian tradisi yang telah lama menjadi identitas masyarakat Gorontalo. Ia menjelaskan bahwa selain pemasangan lampu tradisional, panitia juga menghadirkan permainan bunggo yang dahulu sering dimainkan anak-anak dan remaja di lingkungan masyarakat.
“Bunggo ini kalau dilihat dari filosofinya menggambarkan kebersamaan dan kegembiraan. Yang paling penting, ini juga menjadi cara untuk melestarikan budaya Gorontalo yang mungkin sudah lama tidak dimainkan oleh generasi sekarang,” ujarnya.
Permainan bunggo dikenal sebagai salah satu permainan tradisional yang dimainkan secara berkelompok. Selain menjadi hiburan, permainan ini juga memperkuat interaksi sosial karena melibatkan kebersamaan dan kerja sama antar pemain.
Tidak sedikit anak-anak dan remaja yang ikut mencoba permainan tersebut, sekaligus mengenal kembali permainan rakyat yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gorontalo tempo dulu.
Festival Tumbilotohe sendiri merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap tiga malam terakhir Ramadan. Tradisi ini identik dengan pemasangan lampu minyak di halaman rumah, jalan, dan lingkungan masjid sebagai simbol menyambut malam Lailatul Qadar.
Pemerintah Kota Gorontalo terus mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga tradisi tersebut agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Dukungan terhadap kegiatan keagamaan dan budaya juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat identitas serta kearifan lokal masyarakat.
Melalui kreativitas generasi muda seperti yang dilakukan Rema Muda Bengsol 08, tradisi Tumbilotohe tidak hanya menghadirkan keindahan lampu di malam Ramadan, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang hampir terlupakan.











