Bagaimana Orang Gorontalo Berupaya Mencintai Nabi?

Orang Gorontalo

READ.ID – Sebagai penghormatan terhadap hari kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAAW, tulisan ini adalah tentang bagaimana orang Gorontalo menyambut hari kelahiran Nabi termasuk bagaimana orang-orang Gorontalo berupaya mencintai Nabi.

Nabi bukan saja sosok manusia bagi orang Gorontalo, tapi juga sebagai rangkaian sifat, perilaku dan keteladanan yang harus dicontoh, walaupun awal Islam masuk di Gorontalo baru sekitar tahun 1300 – 1500, yang rentang waktu perbedaan dengan kelahiran Nabi sekitar 1000 tahun.

Bagi orang Gorontalo, Nabi tidak saja sebagai “kata” yang harus diucapkan dalam salawat atau praktek sholat semata. Nabi “mesti” diinternalisasi dalam praktek kehidupan seperti pada bahasa, perilaku dan kegiatan sehari-sehari.

Sebagai contoh Shalawat yang dalam bahasa Gorontalo disebut dengan salawati. Salawati bukan saja tutur kata, atau ucapan, atau bacaan. Salawati dalam praktek kebudayaan Gorontalo adalah kebiasaan yang hidup dalam semua unsur kehidupan (Chimot Hunowu, 2022)

Sejak kita lahir, mulai tumbuh rambut, disunat, nikah, ulang tahun, sampai prosesi kematian, Salawati selalu mengiringi proses tersebut.

Uniknya, pada prosesi “mohundingo” bagi bayi yang baru lahir, selalu ada pembacaan Maulid yang didalamnya ada Mahlul Qiyam, yakni di tengah-tengah pembacaan Maulid, seluruh orang yang hadir berdiri bersama-sama untuk melantunkan puji-pujian kepada Nabi. Pada prosesi itu, bayi yang baru lahir digendong oleh orang tuanya untuk keliling ke jamaah yang sedang Mahlul Qiyam sambil setiap orang menggunting rambut bayi tersebut.

Rangkaian diatas termaktub dalam 186 pola adat yang berdasarkan kedudukan dan rumpunnya dapat digolongkan menurut 7 rumpun adat, terdiri dari: (a) pola adat ketika
sang ibu mengandung jabang bayi dan saat bayi dilahirkan disebut awal pertumbuhan, (b) pola adat ketika sang anak menjelang akil balik, (c) pola adat ketika dilangsung perkawinan menurut tradisi Gorontalo, (d) pola adat ketika seseorang menderita sakit sampai saat kematian menjelang, (e) pola adat penerimaan tamu, (f) pola adat menyelenggarakan atau membina kehidupan sosial kemasyarakatan dan agama, dan (g) pola adat membina silaturahim dalam pergaulan antara masyarakat. (Prof Karmin Baruadi, 2012).

Secara praktikal, dalam setiap kegiatan harian diatas, biasanya selalu ada “mongadi salawati” (mengaji/membacakan sholawat). Jadi, mongadi bukan saja berarti mengaji, tapi membacakan sholawat adalah juga mengaji bagi orang Gorontalo.

Ulang tahun biasanya disertai dengan mongadi salawati lalu ada hidangan nasi kuning, tiliaya dan lauk pauk, ada ikan ataupun ayam.

Bahkan, saat beli mobil, motor atau sepeda baru, selalu ada mongadi salawati, tujuannya untuk mendapat keselamatan dalam menggunakan kenderaan tersebut. Saat memasuki rumah baru juga hal demikian “wajib” dilakukan oleh orang Gorontalo.

Di hari-hari besar Islam seperti Isra’ Mi’raj yang biasa disebut drngan Meeraji, biasanya membaca kitab Meeraji yang didalamnya banyak untaian sholawat. Demikian pula saat 10 Muharram, ada juga bacaan Sholawat. Dan di semua kegiatan hari besar Islam lainnya.

Pada puncaknya, salawati lebih ramai daripada biasanya saat memasuki bulan Maulid, atau tepatnya tanggal 12 Rabiul Awal yakni hari kelahiran Baginda Nabi. Sebulan penuh biasanya dilantunkan Dikili yang di dalamnya adalah sholawat (salawati). Dikili Biasanya di awal dipusatkan di masjid besar Kota/Kabupaten atau Kecamatan/Kelurahan/Desa, setelah itu baru digelar di masjid-masjid se antero Gorontalo.

Dikili saat bulan Maulid dilantunkan sepanjang malam, mulai dari setelah sholat Isya hingga pagi hari. Dikili memakan waktu sekitar 10 – 12 jam dengan pelantun yang cukup banyak. Dikili mengisahkan perjalanan hidup Baginda Nabi.

Selain ada Dikili sebagai sastra lisan, ada pula Meeraji yang konon disusun oleh Syekh Ali bin Abubakar Al – Hasani yang dikenal dengan Bapu Ju Panggola (keterangan ini berdasarkan hasil Focus Group Discussion “Penyempurnaan Kitab Meeraji”, PIU UNG 2022). Meeraji terdiri dari tiga bagian yakni Meeraji itu sendiri, Sifati dan Wafati. Biasanya lebih banyak yang dilantunkan adalah Meeraji, untuk Sifati dan Wafati bersifat opsional.

Pertanyaanya, bagaimana sampai begitu kuatnya penghargaan dan praktek kecintaan orang Gorontalo sedemikian besar, bahkan sudah tersusun dalam suatu pola kehidupan.

Tentu hal itu tidak terlepas pula dari rangkaian dan jalinan Ulama yang datang ke Gorontalo dalam kesatuan pengaruh Kesultanan Ottoman atau Utsmaniyah. Hal ini terlihat dari banyaknya Ulama-ulama apakah itu dari kalangan Habaib, Syekh ataupun ulama lainnya. Sebagai contoh, kehadiran Bapu Ju Panggola dari Fez-Maghrib, yang kini dikenal dengan Maroko. Termasuk banyaknya keturunan dari Maulana Yusuf bin Abid dari garis Sayyidina Hasan di Gorontalo seperti marga Al Hasni, Al Hasani dan Al Masyhur yang pada tahun 1932 dalam catatan Maktab Daimi – Rabithah Alawiyah mencapai angka sekitar 500 – 700 jiwa yang tercatat. Bahkan, marga-marga tersebut adalah yang komunitas yang terbesar di Asia Tenggara (Bagir Haddad, Sekretaris Maktab Daimi – Rabithah Alawiyah)

Jaringan ulama lain yang datang ke Gorontalo adalah trio Hadramaut yakni As-Sayyid As-Sharief Thaha Al Habsyi, As Sayyid Syarief Rum Assegaf, dan Sayyid Syarif Abdullah Assegaf pada kurun waktu tahun 1700 – 1800. Jauh sebelum itu, di Batudaa ada makam Syarifah yang tertera tahun 1300 an. Ada pula beberapa makam tua di Gorontalo seperti makam Ta Bala-bala dengan nama Maulana Ahmad bin Sulaiman (Ta Bala-bala adalah gelar dari warga, bisa distilahkan dalam pagar, atau menjaga daerah). Tokoh-tokoh lokal pun banyak yang makamnya dikeramatkan di seputaran Gorontalo, dengan gelar lokal seperti Ta Ilayabe, Bapu Pelehu, Pitu Lo Lango, Batu Mato Mela, Nene Tane Mela, dan banyak yang lain yang tersebar, apakah itu sudah dikenal secara luas maupun yang masih mastur (tertutup).

Pada kurun waktu 1900 an, mulailah banyak gelombang para Habaib, Syekh dan ulama yang datang ke Gorontalo, baik dari Maroko, Hadramaut ataupun dari daerah-daerah sekitar Gorontalo termasuk Jawa.

Salah satu bukti jejaring Maroko itu adalah kopiah merah yang dipakai pemangku adat Gorontalo. Fez nama dari peci merah yang dipakai pada masa Kesultan Ottoman. (Rozan Yunos dalam The Origin of The Songkok or Kopiah ; “In South Asia — India, Pakistan and Bangladesh — the fez was known as the Roman Cap or Rumi Topi. It became a symbol of Islamic identity and showed the support of Indian Muslims for the Caliphate headed by the Ottoman Empire”).

Selain jejaring Maroko, ada pula jejaring Hadramaut baik yang langsung datang ke Gorontalo maupun mewakilkan muridnya ke Gorontalo.

Mereka inilah yang membawa panji-panji Islam khususnya tentang Nabi untuk “dihangatkan” senantiasa pada setiap lipatan zaman, agar jangan sampai “dingin” dan membeku.

Perbedaan waktu antara masyarakat Islam di Gorontalo saat ini (1443 H) dan Nabi (600 an H) selama kurang lebih 1400 tahun tentu membuat setiap generasi merespon Risalah Kenabian secara berbeda-beda. Cara merespon itulah yang dirangkai dan dijaring serta dipelihara oleh jejaring Ulama yang datang secara bergelombang ke Gorontalo, hingga di Gorontalo lahir generasi Ustad, Kyai, Habaib, Guru di Gorontalo.

Rangkaian dan jejaring itu biasa disebut sanad, atau silsilah keilmuan yang bersambung melalui guru ke guru hingga Nabi. Sanad itulah yang diperkuat lagi nasab Nabi yakni para keluarga dan turunannya.

“Setiap hasab dan nasab terputus pada hari kiamat kecuali hasab dan nasabku”, demikian kata Nabi terkait dengan ilmu dan garis darahnya.

Pertanyaannya, kenapa keduanya selalu bergandengan, sebab volume risalah Kenabian dengan jarak sekitar 1400 tahun memerlukan “speaker”, “mixer” dan juga “microphone” agar nada yang diperdengarkan senantiasa harmonis, enak dengar dan mudah dipahami, bahkan “nada” itu bisa menjadi solusi atas setiap permasalahan yang dihadapi.

Dalam arti lain, selama keduanya (nasab dan sanad) masih ada, maka kiamat belum akan terjadi. Karena baru pada saat kiamat, sanad maupun nasab Nabi telah terputus.

Dari rangkaian diatas, yang kemudian membentuk sebuah pola, maka bagi orang Gorontalo pelaksanaan Maulid itu bukan saja nanti pada saat Maulid, setiap praktik kehidupan adalah Maulid, hal ini terlihat jelas bagaimana bacaan Maulid termasuk salawati hadir dalam setiap tindakan dan peristiwa. Sebagai contoh adalah jabat tangan saat ketemu, ini disebut mosalawati di Gorontalo.

Makanya, kalau ada yang mengatakan tradisi Maulid di Gorontalo adalah “sesuatu yang berlebihan”, sebenarnya perkataan tersebut mengingkari aspek historis dan mengabaikan fondasi kultural Gorontalo. Menghidupkan maulid, hingga menerjemahkan Nabi dalam setiap aktifitas adalah upaya minimal dalam mencintai Nabi.

Kenapa disebut minimal, karena yang perlu dincintai bukan saja Nabi melalui sanadnya, tapi juga turunan dan keluarganya (nasab). Hal ini telah dipraktikkan orang-orang Gorontalo di masa lalu, bagaimana sanad Nabi dikembangkan dan bagaimana Nasabnya disambut dengan suka cita, dihormati dan dicintai. Buah dari itu lahirlah tokoh-tokoh lokal yang karena sanad dan mencintai nasab bisa melahirkan karya dan inovasi bagi masyarakat Gorontalo yang disebut dengan Ilamota, hingga deretan tokoh tersebut memiliki status terhormat di masyarakat dengan bukti otentik “kekeramatannya”.

Oleh karena itu, Salawati, Maulid dan berbagai ragam kegiatan terkait itu adalah basis spiritual orang Gorontalo. Menihilkannya adalah juga mengingkari leluhur

Oleh : Dr. Funco Tanipu, ST., M.A (Dosen di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo)

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60