Benarkah Mengonsumsi Soda Saat Vaksinasi Berbahaya?

Minum Soda Saat Vaksinasi

Berbagai hoaks atau informasi bohong seputar vaksinasi Covid-19 seakan tak ada
habisnya. Yang mengherankan, masih saja ada masyarakat yang menelan bulat-
bulat hoaks ini tanpa melakukan penelusuran dan konfirmasi.

Padahal, kebanyakan hoaks tersebut berasal dari sumber tidak jelas, yang
disebarkan berkali-kali melalui pesan berantai maupun media sosial. Berita yang
“digoreng” pun sebenarnya sudah berkali-kali dimodifikasi.

Belum lama ini, misalnya, beredar sebuah informasi di media sosial yang
menyatakan bahwa mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung
alkohol dan soda dapat mengurangi efektivitas vaksin Covid-19.

Kenyataannya, hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa
alkohol dan soda dapat mengurangi pembentukan antibodi. Keduanya pun boleh
dikonsumsi sebelum dan atau setelah vaksinasi.

Meski demikian, jumlahnya perlu diperhatikan karena pada dasarnya mengonsumsi
minuman beralkohol atau soda secara berlebihan dapat mengganggu kesehatan.
Di antaranya, kenaikan berat badan hingga obesitas.

Tak hanya itu, mengonsumsi soda secara berlebihan bisa mengakibatkan penyakit
kronis, seperti jantung, diabetes, stroke, dan kanker. Adapun konsumsi alkohol yang
berlebihan juga mengakibatkan penyakit hati, jantung, disfungsi seksual, dan masih
banyak lagi.

Mengutip laman Medical News Today, minuman bersoda mengandung begitu
banyak gula. Dalam sekaleng soda 12 ons, setidaknya terdapat 29,4- 42 gram gula
atau setara dengan 7-10 sendok teh.

Jumlah ini, jika dikonsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan peningkatan
berat badan. Selain itu, konsumsi soda yang berlebihan juga dapat memicu penyakit
seperti diabetes dan gangguan jantung.

Bahkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat
menyebut ada sederet penyakit lain yang mengintai jika tubuh terlalu banyak
mengasup gula.

Bahkan, berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan pada 2018, orang yang rutin
mengonsumsi minuman bersoda memiliki risiko lebih besar untuk mengalami
diabetes tipe 2 dibandingkan mereka yang tidak.

Kenyataanya, mayoritas orang Indonesia memiliki kebiasaan mengonsumsi
minuman berisiko, termasuk minuman manis seperti soda.

Pada 2018, kebiasaan konsumsi minuman manis oleh orang di atas usia tiga tahun
mencapai 91,49%. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas),
persentase ini merupakan yang tertinggi dibandingkan makanan dan minuman
berisiko lainnya.

Adapun rekomendasi batas konsumsi per minggu untuk alkohol adalah 14 gelas
belimbing untuk alkohol 3-4%, 16 sloki untuk alkohol 12-30%, dan delapan sloki
untuk alkohol 40%. Sedangkan untuk soda, batas maksimalnya adalah tiga kaleng
atau 450 kalori.

Bukan kali pertama

Hoaks seputar alkohol bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya pada Maret 2021,
telah tersebar informasi salah di Facebook, yang isinya melarang orang memakan
tape singkong setelah divaksin Covid-19 karena kandungan alkohol di dalamnya.

Dalam unggahan tersebut dituliskan bahwa setelah divaksin tidak boleh minum
minuman beralkohol termasuk makan tape karena bisa menghilangkan fungsi
vaksin.

Menurut dr. RA Adaninggar, alkohol memang bisa mengganggu kerja sistem imun
dan meningkatkan risiko infeksi, namun bukan dari tape singkong secara khusus.
Dia pun menyatakan bahwa postingan tersebut tidaklah benar.

Alkohol yang dimaksud, lanjut Adaninggar, lebih dikaitkan dengan jenis minuman
yang kaya polifenol seperti anggur dan bir. Namun begitu, ini pun berkaitan dengan
lamanya seseorang mengonsumsi dan atau jumlah alkohol yang dikonsumsi.

Dia pun mengakui belum ada angka pasti yang menyebutkan dengan jelas
mengenai jumlah atau lama waktu konsumsi minuman beralkohol yang
mengakibatkan gangguan sistem imun.

Dari bukti penelitian yang ada dikatakan sekitar 14 gelas alkohol per minggu atau
lebih dari 5 atau 6 gelas alkohol sekaligus diminum dalam satu waktu, bisa
mengganggu sistem imun.

Adapun bukti ilmiah yang menyatakan konsumsi alkohol setelah vaksin akan
menurunkan kemampuan pembentukan antibodi dari vaksin, hingga kini belum
ditemukan.

Meskipun begitu, dia mengingatkan, konsumsi alkohol memang bukan pola hidup
sehat sehingga sebaiknya dihindari. Atau paling tidak, jumlah menyesuaikan dengan
dosisi aman.

Sementara itu, Ahli Gizi KONI DKI Jakarta sekaligus APKI Approved Educator, Irtya
Qiyamulail menyebutkan, kandungan alkohol pada tape juga sulit dinilai karena
berbeda-beda tergantung dari bahan baku, masa simpan, juga wadah tempat
fermentasi tapenya.

Terkait bahaya tape seperti memabukkan atau tidak, lanjut dia, semua kembali lagi
kepada orang yang mengonsumsinya. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan,
seperti genetik orang tersebut, jenis kelamin, juga umur.

(Asthina – Anggota Perempuan Indonesia Satu)