Di Balik Lensa: Dampak Psikologis Jurnalis Perang

Jurnalis perang

READ.ID – Trauma pekerjaan terjadi karena seseorang yang merasa stress dalam tuntutan pekerjaan. Dalam hal ini jurnalis perang memiliki trauma yang lebih daripada itu, yaitu memiliki kecemasan akan keselamatannya yang sedang berada di daerah konflik.

Jurnalis perang memiliki kewajibkan untuk menginformasikan serta mengabadikan perang yang terjadi di suatu wilayah ke seluruh dunia. Karena perang selalu menjadi perhatian dunia terutama ketika perang tersebut terjadi di wilayah yang damai.

Pekerjaan ini memiliki resiko yang besar namun untuk menjadi seorang jurnalis kita harus memiliki jati diri yang kuat sehingga mau bertanggung jawab dalam menginformasikan suatu peristiwa.

Pendapatan yang diterima jurnalis perang sebenarnya tidak terlalu banyak, namun sebagian besar dari mereka tetap menerima pekerjaan ini karena memiliki rasa simpati dan empati yang sangat tinggi kepada wilayah berkonflik terutama yang menghasilkan korban yang sangat banyak.

Dengan adanya kehadiran jurnalis perang dunia menjadi tau tentang apa yang terjadi di wilayah berkonflik tersebut dan dapat  menjadi sebuah akses untuk mendatangkan bantuan kepada korban peperangan, maka tidak jarang jurnalis perang sering disebut sebagai pahlawan.

Namun tetap saja keselamatan seorang jurnalis perang sering terancam ketika sedang berada di medan pertempuran dan meliput sebuah perang. Banyak jurnalis yang gugur Ketika meliput sebuah wilayah berkonflik, mereka menjadi korban yang tidak bersalah.

Dalam profesi ini gangguan kecemasan mengenai keselamatan bercampur aduk dengan melihat secara langsung korban perang yang gugur dengan cara mengenaskan sehingga hal tersebut  mendatangkan sebuah trauma yang berat kepada jurnalis perang.

Trauma tersebut dapat menurunkan kapabilitasnya dalam bekerja jika tidak diatasi dengan cepat oleh perusahaan atau redaksi yang memiliki tanggung jawab pertama akan keselamatan pegawainya. Gangguan psikologis tersebut seperti kondisi kesehatan yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, suasana hati, atau kombinasi diantaranya.

Dalam studi psikologi terdapat ruang lingkup pekerjaan yang menjadi hal penting yang diperhatikan oleh studi ini karena menjadi bagian penting dalam menjalankan sebuah perusahaan.

Bagi jurnalis perang yang telah pulang dari wilayah berkonflik namun masih memiliki trauma yang membekas, terdapat jurnal maupun artikel yang menyatakan bahwa cara mengatasi trauma tersebut yaitu dengan mengurangi aktivitas seperti meliput peristiwa kekerasan.

Lalu menjalani hari dengan kedamaian tanpa memikirkan kenangan buruk yang terjadi sebelumnya. serta melakukan konseling kepada terapis atau psikolog agar dapat mengatasi hal hal yang tidak diinginkan berkelanjutan.

Kemudian yang terakhir dengan membangun dukungan social dari keluarga, kerabat dan teman.

 

Oleh : Nadhira Inayah
Mahasiswa Jurusan Komunikasi
Universitas Negeri Gorontalo

Baca berita kami lainnya di

Exit mobile version