READ.ID – Di tengah hamparan kebun yang telah menjadi tempat tumbuh kopi Liberika sejak 2003, persoalan sederhana justru menjadi pekerjaan yang cukup melelahkan bagi petani. Setelah buah dipanen, kopi harus dikupas sebelum memasuki tahapan pengolahan berikutnya.
Di kebun milik Pak Sahril, proses itu masih dilakukan dengan cara tradisional. Kopi basah dikupas secara manual menggunakan lesung atau ditumbuk. Cara tersebut memang telah lama dilakukan, tetapi membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak ketika produksi mulai meningkat.
Kondisi itu terlihat saat Bupati Gorontalo Utara Thariq Modanggu meninjau langsung perkebunan kopi Liberika tersebut. Bagi Thariq, potensi yang dimiliki kebun itu tidak cukup hanya dipertahankan sebagai tanaman produktif, tetapi perlu didorong agar mampu berkembang menjadi komoditas unggulan daerah.
Apalagi, kopi Liberika milik Pak Sahril telah mendapat pelatihan serta bantuan alat fermentasi dari Bank Indonesia (BI) . Artinya, proses pengembangan kopi tersebut telah memiliki modal awal, tinggal diperkuat pada sejumlah tahapan produksi, termasuk pascapanen.
Thariq kemudian melihat satu kebutuhan yang cukup mendesak mesin penggiling kopi basah. Tanpa alat tersebut, peningkatan produksi berpotensi kembali terbentur pada proses pengupasan yang masih mengandalkan tenaga manual.
“Nanti cari informasi, kita adakan gilingan kopi untuk mengupas kopi basah,” instruksi Thariq kepada dinas terkait.
Mesin yang akan difasilitasi pemerintah itu pun diarahkan menggunakan material besi baja agar dapat digunakan dalam menunjang proses produksi secara lebih kuat dan berkelanjutan.
Menariknya, kunjungan itu tidak berhenti pada persoalan mesin. Pak Sahril memberikan izin kepada pemerintah untuk mengambil bibit dari pohon induk kopi Liberika yang tumbuh di kebunnya. Bibit tersebut menjadi modal penting untuk memperluas pengembangan kopi Liberika di Gorontalo Utara.
Bagi Thariq, izin mengambil bibit tersebut sekaligus menjadi bentuk kerja sama antara pemerintah dan petani. Pemerintah mendapat kesempatan mengembangkan bibit, sementara petani mendapat dukungan fasilitas untuk meningkatkan pengolahan hasil perkebunannya.
“Karena Bapak sudah izinkan kami untuk ambil bibitnya, berarti tugas saya kasih Bapak mesinnya untuk mengupas,” ujar Thariq.
Dari sebuah kebun kopi, perhatian itu kemudian mengarah pada satu gagasan yang lebih besar bagaimana tanaman yang telah tumbuh puluhan tahun secara organik tersebut tidak hanya menjadi milik satu kebun, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari kekuatan komoditas pertanian Gorontalo Utara.











