READ.ID – Saya dilapori kalau harga ikan sedang naik. Harganya bahkan mendekati dua kali lipat. Di beberapa pasar ikan dan lapak-lapak penjualan tawar menawar diwarnai suara melemah. Bukan karena puasa. Penjual dan pembeli sama-sama pasrah, harga itu susah untuk ditawar karena ikan lagi kurang pasokannya.
Dan seperti biasa saat alami kelangkaan, fikiran manusia membentuk persepsi kelangkaan yang sering lebih lebih kuat dari fakta kelangkaan itu sendiri. Masih ingat, saat orang berbondong-bondong memborong minyak kelapa hanya karena ada isu, produknya berkurang dipasar.
Gejala availability heuristic ini bisa menimpa siapa saja. Ketika suatu produk terasa jarang di pasar, pikiran langsung menyimpulkan “produknya habis”, padahal bisa jadi hanya distribusi dan perilaku konsumsi yang berubah.
Kelangkaan seharusnya menjadi alarm kesadaran, bukan sumber kepanikan. Ia mengajak manusia berhenti sejenak. Apakah yang langka itu barang atau rasa cukup?
Rasa “langka” seharusnya bisa mendorong manusia lebih bijak. Paling tidak dia sadar mengonsumsi secukupnya, menghargai sumber daya, dan memperbaiki perilaku kolektif.
Kelangkaan lebih sering menjadikan takut, dan justeru lupa bersyukur. Kulkas bisa saja masih penuh dengan ikan, tapi hati kenapa tetap cemas. Meja makan lengkap, tapi keluhan lebih cepat keluar daripada doa.
Scarcity mindset mendorong kita selalu merasa kekurangan. Pikiran menyempit, hanya fokus pada “apa yang akan habis”, bukan “apa yang sudah ada”. Lupa bersyukur.
Harga ikan tidak naik sendirian. Kenaikannya bisa ditemani produk lainnya. Fikiran ekonomi kita teringat inflasi. Seberapapun tebalnya uang di dompet, tidak bisa membawa pulang belanja seperti biasanya. Paniknya bisa berlebihan.
Ironisnya, saat ikan murah dan melimpah, kita abai, menyisakan, bahkan membuang. Kita lebih takut kehilangan ikan murah daripada bersyukur pernah menikmatinya. Loss aversion. Harga mahal bukan hanya soal stok, tapi soal rasa takut “tidak kebagian”.
Padahal ikan tetap ada di kolam, sungai dan masih melimpah di lautan. Laut tidak pindah ke mana-mana. Ikan tetap berenang. Yang berubah adalah cara manusia memberi nilai: dari “cukup” menjadi “tidak pernah cukup”. Ketika kenyamanan menjadi kebiasaan, rasa syukur menghilang.
Keterbiasaan makan ikan setiap hari, menjadikan kita lupa bahwa itu adalah hadiah kemewahan ekologis. Rasa syukur yang kurang merusaknya. Rasa “langka” memperparahnya. Kita kemudian merusak relung ekologi yang seharusnya tetap terjaga buat mereka hidup nyaman.
Saat menikmati kemewahan rasa berbagai variasi sajian ikan, berapa banyak diantara kita yang ingat siapa yang menangkap, siapa yang membawanya ke pasar, siapa yang mengolahnya menjadi produk siap jual?
Nelayan, Ikan, dan penghargaan adalah sebuah paradoks. Nelayan hidup dekat laut, tapi justru sering paling jarang menikmati ikan terbaik. Kita yang tinggal di kota lupa bersyukur karena tenggelam dalam rasa “kekurangan”
Dalam dunia yang takut kehabisan, bersyukur seharusnya menjadi tindakan paling rasional. Karena orang yang bersyukur tidak serakah, dan orang yang tidak serakah jarang menciptakan kelangkaan.
Kelangkaan bukan hanya soal ikan di laut, tetapi tentang kesadaran di kepala manusia. Rasa takut mempercepat krisis, rasa syukur memperpanjang keberlanjutan.
oleh Aryanto Husain
Selasa, 24 Februari 2026











