Kampung Nelayan Merah Putih Kado Spesial Hari Nelayan

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID Tidak lama lagi desa-desa pesisir akan berubah wajah. Program nasional Merah Putih (KNMP) melesat datang membawa amunisi anggaran yang sangat besar.

Angka fantastis yang disambut riang warga desa ini seperti besarnya letupan rudal Iran di wilayah Israel yang disambut gembira warga Palestina. KNMP menjadi hadiah spesial bagi nelayan dalam perayaan tahun ini. Menjadi pertanyaan menarik, apakah anggaran yang besar ini sekaligus dapat memberdayakan dan memandirikan nelayan? Ini menjadi catatan serius agar KNMP tidak salah sasaran, seperti kesalahan kalkulasi perang Presiden Trump di Iran.

Sejak di tetapkan Presiden ke 5, Megawati, hari bersejarah bagi masyarakat yang tinggal diwilayah pesisir ini biasanya hanya dihiasi dengan bentangan baliho diberbagai tempat. Spanduk dibentangkan, panggung didirikan, dan pidato dilantangkan dengan kalimat-kalimat yang hangat: kesejahteraan, pemberdayaan, dan keberpihakan. Nelayan memang menjadi pusat perhatian, pada hari itu. Keesokan harinya, mereka kembali ke laut. Sendirian, dengan risiko yang sama. Ikan yang belum tentu dapat, BBM yang sulit, atau tangkapan yang tidak bisa terjual dengan harga yang layak karena turun kualitasnya.

Pemerintah selama ini tentu saja tidak berpangku tangan, tidak seperti negara-negara NATO yang tidak mau campur tangan membantu AS memborbardir Iran. Sejak jaman Orba, berbagai program terkait nelayan terus diciptakan, silih berganti sesuai jamannya. Anggaran mengucur ke desa-desa nelayan. Ada yang tepat, ada bias. Sebagian menjadi blunder bagi pejabat yang menangani. Mereka harus masuk bui karena korupsi, persis seperti rudal Israel yang justru menembak jatuh pesawat negara aliansi di tengah perang dengan Iran.

Proyek atau Program?

KNMP mungkin yang agak berbeda. Semangat luhur penggagasnya mengakar pada filosofi ekonomi kerakyatan, ciri ekonomi yang selamai ini dipahami masih bertumbuh di desa. Bangunan-bangunan baru dengan ikon merah putih yang indah secara visual menjadi milik bersama nelayan, dikelola melalui koperasi. Semangat merah putihnya tampak jelas bahkan hingga ke dermaga, pabrik es, cold storage, menjadi bukti negara hadir.

Di KNMP, negara hadir tidak hanya omon-omon. Sekitar 22 Milyar diperkirakan akan digelontorkan ke desa nelayan untuk membiayai pembangunan dan penyediaan sarana prasarana perikanan. Di tahun 2025, tahun perdana, sekitar 100 KNMP telah dibangun di beberapa Kabupaten/Kota. Dipicu semangat merah putih, Pemerintah kembali menargetkan 1000 KNMP tahun ini ke lebih banyak lagi Kabupaten/Kota. Target akan terus disesuaikan. Hingga 2030 nanti, diperkirakan seluruh desa pesisir akan berubah wajahnya

Apakah perubahan wajah desa ini diikuti keberdayaan nelayan sebagai pelaku dan motor utama KNMP? Ini menjadi pertanyaan serius. Nelayan berdaya ditandai dengan kemandirian mereka. Tidak hanya saat KNMP berjalan namun jauh setelah itu, setelah rejim KNMP selesai dan kembali berganti dengan instrumen pemberdayaan lainnya.

Dalam struktur sosial masyarakat desa, hidup filosofi R-O-N (Resource-Organization-Norm). Filosofi sosial ini akan mengenali apakah sebuah intervensi dari luar adalah sebuah program atau hanya sekedar proyek. Jika Resources yang berlimpah dan mengabaikan Organization dan Norm maka intervensi itu akan bertindak sebagai proyek. Sebaliknya jika ketiganya diperlakukan seimbang maka bisa dipastikan intervensi itu adalah program yang tidak hanya merubah fisik wajah desa namun juga keberdayaan yang pada gilirannya akan mendorong kemandirian masyarakatnya.

Tatakelola KNMP perlu mengenali ini. KNMP harus berorientasi kepada pemberdayaan nelayan. Orientasi yang telalu besar kepada anggaran infrastruktur akan menjadikan intervensi ini sekedar Proyek yang sifatnya jangka pendek. Hasilnya bisa menjadi ketergantungan. Nelayan sebagai penerima bisa puas, namun ini hanya sesaat seperti puasnya Presdien Trump yang mengira bisa mengalahkan Iran dalam jangka pendek. Dia mengabaikan fakta di lapangan tentang kekuatan dan kelemahan Iran.

Nelayan juga punya kekuatan dan kelemahan. Intervensi Resources yang besar belum tentu serta merubah wajah desa secara komprhensif: sosial, ekonomi dan lingkungan. Perubahannya bisa sangat lambat, dipenuihi ketidak pastian seperti perang di Timur Tengah yang tidak pasti berakhir kapan. Nelayan bukan hanya sebagai objek kebijakan, tapi sebagai manusia dengan keterbatasan kognitif. Perubahan itu tidak akan terjadi jika pendekatannya adalah proyek.

Nelayan umumnya hidup dalam ketidakpastian, cuaca yang berubah, hasil tangkap yang fluktuatif, atau harga yang tak menentu. Ini membentuk mental “takut rugi”. Loss aversion ini mendorong pikiran mereka tersita untuk bertahan hari ini, bukan merencanakan hari-hari yang lebih panjang. Ini bukan karena mereka tidak mau maju, tapi karena takut dengan risiko yang terjadi nanti.

Bias ini sulit dikenali dalam pendekatan proyek. Takut rugi, khawatir, rasa malas adalah bias kognitif yang membuat nelayan tidak berdaya. Di titik ini, pendekatan Program lebih bisa mendiagnosis masalah secara komprhensif tidak sekedar kebutuhan sarpras tapi juga perlunya kesiapan mental, psikis dan sosial mereka. Richard Thaler, pakar ekonomi perilaku mengatakan kebijakan publik seharusnya tidak hanya benar secara konsep, tetapi juga selaras dengan cara manusia benar-benar berpikir dan bertindak. Pendekatan program menjadi jawabannya.

Hipnotisme Anggaran

Tanpa pemberdayaan yang baik, memaksa perubahan lewat KNMP akan menjadi sulit. Nelayan tidak butuh dipaksa menjadi modern dengan ketersediaan sarana prasarana pendukung. Mereka butuh dimengerti, dan diberikan pilihan solusi sesuai kemampuan dan pengalaman. Solusinya mungkin bisa disederhanakan. Lebih baik satu asuransi yang benar-benar cair saat dibutuhkan, daripada seribu program yang berhenti di laporan. Lebih baik akses BBM yang pasti, daripada subsidi yang membingungkan. Lebih baik jaminan harga yang stabil, daripada seremoni yang meriah.

KNMP datang dengan hipnotisme anggaran yang besar. Ini harus dioptimalkan. Mungkin sebelum mengubah warna kampung dan bangunannya, KNMP perlu lebih dulu mengubah pola pikir penghuninya. Pemberdayaan menjadi kata kuncinya. Dengan pendekatan program, KNMP tidak hanya memperkuat ekosistim perikanan dan kenelayanan namun juga mendorong sinergitas antar ekosistim pendukung lainnya.

Tanpa harus menunggu perang AS-Israel dengan Iran selesai, mari kita rayakan peringatan Hari Nelayan tahun ini dengan gembira sambil berkontemplasi apakah nelayan sudah bahagia dengan kehidupannya. Apakah intervensi kebijakan sudah menyentuh kebutuhan dasar mereka. Mereka sudah cukup hidup dengan segala keterbatasannya, dan tidak seharusnya menghadapi itu sendirian. Jangan jadikan hipnotisme anggaran hanya menjadikan mereka gembira sesaat tanpa perubahan mendasar dalam relung kehidupan sosial di desa dan di rumah tangga nelayan. Tapi jadikan itu awal kebangkitan dan kemandirian mereka kedepan. Pada akhirnya, nelayan tidak butuh dirayakan dalam seremoni. Mereka butuh dimandirikan dalam proses pemberdayaan yang baik.

Mari jadikan KNMP sebagai kado spesial nelayan tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya.

Selamat Hari Nelayan 2026!

oleh:

Baca berita kami lainnya di