Kemarau Berkepanjangan Mulai Tekan Warga Tabang, Tanaman Kakao dan Pala Layu

Kemarau Berkepanjangan Mulai Tekan Warga Tabang, Tanaman Kakao dan Pala Layu
Sangadi Tabang, Junius Frits Dilapanga. (Foto: Ind)
IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Kemarau berkepanjangan mulai dirasakan warga Desa Tabang, Kota Kotamobagu. Minimnya curah hujan selama sekitar empat bulan membuat sejumlah tanaman pertanian dan perkebunan mengalami kekeringan hingga berujung pada gagal panen.

Sangadi Tabang, Junius F. Dilapanga, mengatakan dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat, terutama warga yang menggantungkan pendapatan dari sektor pertanian dan perkebunan.

“Jika sekali panen itu tiga bulan maka hitungannya saat ini kita sudah satu kali gagal panen. Karena minimnya curah hujan sudah terjadi kurang lebih empat bulan terakhir,” ujar Junius saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, tanaman yang terdampak bukan hanya tanaman berumur pendek. Sejumlah tanaman tahunan seperti kakao dan pala juga mulai menunjukkan kondisi layu.

“Contohnya di kebun saya sudah ada beberapa kakao dan pala yang layu,” katanya.

Junius mengatakan kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat. Karena itu, pemerintah desa juga mengingatkan warga terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama kondisi kering masih berlangsung.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat menunda hajatan yang belum mendesak. Imbauan tersebut berkaitan dengan kondisi ekonomi warga yang turut terdampak akibat menurunnya hasil pertanian dan perkebunan.

“Makanya selain mengimbau terkait karhutla, saya juga mengimbau agar hajatan yang belum begitu mendesak agar ditunda dulu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, masyarakat Mongondow memiliki tradisi Pogogutat dalam bentuk gotong royong, baik tenaga maupun bantuan materiil. Tradisi tersebut membuat masyarakat yang menerima bantuan biasanya memiliki kewajiban sosial untuk memberikan bantuan serupa ketika pihak yang pernah membantu menggelar hajatan.

“Jangan sampai masyarakat yang sudah berhajat saat ini belum punya apa-apa lalu memutuskan tidak hadir. Dikhawatirkan hal demikian memicu konflik di tengah masyarakat. Mudah-mudahan masyarakat juga paham dengan imbauan ini,” terangnya.

Junius juga meminta pemerintah mengantisipasi dampak ekonomi jika kondisi kekeringan berlangsung lebih lama. Menurutnya, berkurangnya pendapatan masyarakat dapat memengaruhi aktivitas ekonomi dan daya beli warga.
“Jika kekeringan ini berlangsung lebih lama lagi maka pemerintah harus mengantisipasi efek domino dari kondisi ini,” pungkasnya.

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60