Kisah Anak Nelayan Gorontalo Kuliah Beasiswa di ATMI Solo

Anak Nelayan Gorontalo

READ.ID – Empat mahasiswa anak nelayan asal Gorontalo berbaris di depan gedung Mikael, Kampus Politeknik Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo, Jawa Tengah, Jumat (26/3/2021).

Mereka sedang menunggu kehadiran Gubernur Gorontalo Rusli Habibie bersama ibu Idah Syahidah dalam rangka perpanjangan kerjasama antara Pemprov Gorontalo dengan ATMI.

Satu dari empat mahasiswa itu bernama Masdin. N. Junuding (20). Ia berasal dari suku Bajo yang bermukim di Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo.

Anak nelayan itu antusias bertemu dengan Gubernur Rusli yang sudah membiayai sekolahnya hingga ke tingkat III di ATMI Solo.

“Berterima kasih sekali ke Pak Rusli dan Pemprov Gorontalo. Kalau seandainya biaya sendiri pasti orang tua saya tidak mampu menyekolahkan saya sampai ke sini,” kata Masdin berbagi cerita.

Perjuangan Masdin untuk lulus dan menerima beasiswa pemprov terbilang cukup sulit. Ia harus kabur dari rumah karena tidak diizinkan oleh orang tuanya.

Ibu Masdin, Wati Gommo mengira kuliah di ATMI Solo harus dibiayai sendiri yang tidak sanggup ia tanggung. Bapaknya Remi Junuding hanya berprofesi sebagai nelayan.

“Waktu itu kepala sekolah yang minta saya daftar, tapi ibu tidak izinkan karena dikira harus bayar sendiri. Jadi waktu hari Senin ujian, saya kabur dari rumah sekitar jam 3 subuh. Orang tua enggak tau kalau saya ikut ujian,” jelasnya.

Perjuangan Masdin tidak sia-sia. Bermodal bensin hasil “curian” dari perahu bapaknya, ia berkendara menuju kota mengejar mimpi kuliah di ATMI.

Hari Jumat pekan yang sama ia menerima pengumuman dinyatakan lulus. Sang ibu yang awalnya menolak, diberi pemahaman oleh pihak sekolah bahwa kuliah Masdin semuanya ditanggung oleh Pemprov Gorontalo.

“Pihak sekolah yang menjelaskan bahwa uang SPP, uang kos dan uang saku semua dibantu pemprov. Ibu waktu itu sempat nangis enggak nyangka kalau saya bisa lulus,” sambungnya.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie terus memotivasi lima putra daerah yang merupakan anak nelayan Gorontalo yang menuntut ilmu di ATMIu itu.

Berulang kali Rusli berpesan agar menjaga nama baik daerah, belajar sungguh sungguh dan jangan berhenti berdoa.

“Kalau orang lain bisa kenapa kalian tidak bisa? Intinya belajar dan berusaha sungguh-sungguh. Jangan lupa juga berdoa,” pesannya.

Masdin saat ini sudah semester enam jurusan Teknik Mesin Industri. Ada empat temannya yang lain yang masuk tahun 2018 yakni Angki Mato dari Kecamatan Marisa dan Dandi Hilimi dari Kecamatan Tolinggula.

Ada juga Ikmal Hulalango dari Bone Pantai dan Ramdan Pakaya dari Kota Gorontalo.

Masdin mengaku betah kuliah di pulau Jawa, jauh dari keluarga. Dialegnya bahkan sudah seperti orang Jawa, medok.

Anak kedua dari dua bersaudara itu bercita cita bekerja di perusahaan industri berskala besar 10-20 tahun. Setelah sukses, ia ingin kembali ke Gorontalo merintis usaha sendiri.

Sejak menjalin kerjasama dengan ATMI tahun 2015, Pemprov Gorontalo sudah menyekolahkan 10 orang. Tiga orang tahun 2016 dan dua orang tahun 2017. Dua angkatan itu sudah lulus dan bekerja di beberapa tempat.

Tahun 2019 dan 2020 tidak ada warga Gorontalo yang kuliah di ATMI Solo. Penyebabnya karena kurang pendaftar sehingga potensi siswa yang lulus menjadi sedikit.

Meski tahun 2021 pihak ATMI menyanggupi permintaan jatah 10 orang dari Gubernur Rusli, namun mereka tetap mengutamakan kualitas calon mahasiswa dengan IQ di atas rata-rata.

(Aden/Read)