Klinik Kopi, Diobati Prosa dan Kopi

Prosa dan Kopi

READ.ID — Pernahkah berpikir prosa dan kopi bisa menjadi obat mujarab, dan jika berobat justru harus pergi ke klinik kopi? Eh tapi ini berbeda.

Karena berobat tidak selamanya karena kamu sakit, contohnya berobat ke Klinik Kopi. Sebuah kedai kopi tersohor seantero Yogyakarta, yang terletak di Jl. Kaliurang No.KM. 7, RW.8, Ngabean Kulon, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Apalagi bagi kamu yang sudah pernah nonton film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) tentu sudah tahu tempatnya. Yups, Klinik Kopi menjadi salah satu lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta 2. Ketika datang ke kedai ini kita akan disajikan prosa dan kopi tanpa gula dan susu.

Selayaknya pergi ke klinik pengobatan kita sudah pasti harus menyediakan waktu yang cukup. Karena pengunjung akan dilayani serupa pasien oleh baristanya yang biasa disapa sehari-hari Mas Pepeng.

Saat masuk halaman klinik kita sudah dihipnotis dengan bar minimalis nan rindang yang mengusung tema open bar sehingga pengunjung bisa melihat secara langsung proses pembuatan kopi. Kedai yang sudah ada sejak 2013 tersebut mampu menyembuhkan pasien dengan prosa story telling dan secangkir V60.

Klinik kopi terkenal dengan V60 nya, teknik V60 adalah salah satu teknik yang paling sering digunakan oleh para barista. Umumnya, metode ini dilakukan dengan cara menuangkan air panas secara perlahan di sekitar bubuk kopi di atas alat dengan gerakan melingkar.

Terdapat berbagai beans kopi dari sabang hingga merauke. Di meja bar terdapat kuarang lebih duah puluh jenis beand yang sudah dirosting, Mas Pepeng biasa menghabiskan 5-10 menit story telling bersama pengunjung.

Menurutnya berinteksi langsung dengan pengunjung sambil ngobrol beberapa hal membuat ia merasa bahagia. “Rasanya senang saja saya bisa menjamu langsung para pengunjung yang datang, serasa seperti menyapa kawan lama atau terkadang saya merasa menjadi dokter yang sedang mendiagnosa pasien dan memberi mereka obat secangkir kopi,” ungkapnya saat ditemua beberapa waktu lalu

Ia menjelaskan bahwa dengan bicara langsung bersama pengunjung ia bisa mengetahui selera mereka sehingga dengan mudah merekomdasikan beans apa yang cocok untuk diminum.

“Terkadang ada yang baru datang belum pernah mencoba V60, sehingga dengan bicara langsung saya bisa tanya-tanya soal selera mereka sehingga saya mudah merekomendasikan beans untuk mereka. Karena, masing-masing orang pasti memiliki selera yang berbeda terlebih di sini kita tidak menggunakan gula ataupun susu,” lanjutnya

Mas Pepeng pun tidak pernah bosan mengajari membuat kopi serta merekomendasikan prodak-prodak kopi atau aksesoris kafe untuk para pengunjung yang memiliki kafe sendiri.

“Banyak juga yang datang adalah pemilik kafe dan saya sangat senang berbagi ilmu dengan mereka,” tutupnya

Oh iya, jangan lupa untuk sekalian pesan Chocolate brownies dan cheesecake yang diolah langsung oleh istri Mas Pepeng.

Hingga kini meskipun Jogja masih dalam masa PPKM Klinik Kopi tetap banyak pengunjung dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. (Wulandari Mamonto)