Menjaga Akar Sejarah, Buku Asal-Usul Kelurahan dan Desa Kotamobagu Segera Diluncurkan

Menjaga Akar Sejarah, Buku Asal-Usul Kelurahan dan Desa Kotamobagu Segera Diluncurkan
FGD Asal-usul Nama Desa dan Kelurahan di Balai Desa Kobo Kecil (Foto: RI/Udi)
IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Upaya mendokumentasikan jejak sejarah lokal di Kota Kotamobagu kian menemukan bentuk konkret. Buku tentang asal-usul nama desa dan kelurahan di wilayah tersebut ditargetkan rampung tahun ini, setelah melalui tahapan penelitian dan diskusi mendalam bersama para budayawan dan pemangku kebijakan.

Hal itu disampaikan Murdiono Prasetio A. Mokoginta dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Selasa (24/02/2026) di Balai Desa Kobo Kecil, Kotamobagu Timur. Forum tersebut menghadirkan budayawan Bolaang Mongondow, Chairun Mokoginta, serta Asisten I Pemerintah Kota Kotamobagu, Sahaya Mokoginta.

Dalam pemaparannya, Chairun menjelaskan makna kata lipu’ dalam bahasa Mongondow yang menjadi padanan kata “desa”. Menurutnya, lipu’ secara historis berarti benteng perlindungan dari hewan buas.

“Maka dibuatlah tempat khusus dan dipagari. Di sanalah anak-anak dan perempuan tinggal, sementara para lelaki berjaga saat malam tiba,” ujarnya, menggambarkan bagaimana leluhur Mongondow membangun peradaban dari rasa aman, kebersamaan, dan tanggung jawab kolektif.

Sementara itu, Sahaya Mokoginta menilai tema penelitian ini sangat relevan dengan pembangunan daerah, khususnya dalam konteks pelestarian kebudayaan lokal yang selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan.

“Setiap desa punya sejarah masing-masing yang kebanyakan diwariskan melalui tradisi lisan. Urgensinya agar sejarah lokal tidak terancam hilang akibat modernisasi dan perubahan generasi,” ungkapnya.

Murdiono—yang akrab disapa Dion—menjelaskan bahwa penelitian dan penulisan buku tersebut terdaftar dalam Program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada kategori Objek Pemajuan dan Cagar Budaya. Ia merupakan penerima manfaat dari proposal yang diajukan pada tahun 2025.

“Dana yang kita terima untuk penelitian dan penulisan buku ini sebesar Rp70 juta,” bebernya.

Melalui program tersebut, tim peneliti akan mendokumentasikan tradisi lisan di setiap desa dan kelurahan di Kota Kotamobagu dengan mewawancarai dua narasumber di masing-masing wilayah. Pemerintah desa akan dilibatkan untuk menunjuk tokoh yang dinilai memahami sejarah setempat.

Penelitian dijadwalkan berlangsung selama dua bulan sejak pelaksanaan FGD, kemudian dilanjutkan ke tahap penulisan dan penyuntingan naskah.

“Sesuai jadwal kegiatan, Insya Allah, hasil penelitian berupa buku akan di-launching dan langsung dibedah pada 17 Agustus 2026,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Dana Indonesiana—yang juga dikenal sebagai Dana Abadi Kebudayaan—merupakan program pemerintah untuk mendukung perkembangan dan prestasi para budayawan sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa. Pada tahun 2025, tersedia anggaran sekitar Rp465 miliar yang dikelola dari total Rp5 triliun Dana Abadi Kebudayaan.

Sebanyak 11 kategori program ditawarkan dalam skema pendanaan tahun 2025, di antaranya Pendayagunaan Ruang Publik, Sinema Indonesia, Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya, hingga Sustainable Cultural Heritage.

Penulisan sejarah asal-usul nama desa dan kelurahan di Kota Kotamobagu menjadi hal yang sangat penting agar tidak terlupakan dan tergerus arus modernisasi, sehingga generasi berikutnya tidak kehilangan jejak akar sejarahnya sendiri.

Buku tersebut pun ditargetkan menjadi rujukan Kementerian Kebudayaan sebagai referensi resmi catatan sejarah Bolaang Mongondow. Lebih dari sekadar proyek penelitian, karya ini diharapkan menjadi penanda ingatan kolektif—bahwa di balik nama-nama desa yang hari ini mungkin hanya terbaca di papan jalan, tersimpan kisah perjuangan, ketakutan, harapan, dan kebijaksanaan leluhur.

Di tengah derasnya pembangunan dan perubahan wajah kota, upaya ini menjadi semacam ikhtiar “melawan lupa”. Sebab ketika generasi muda tak lagi mengenal makna nama kampungnya sendiri, yang hilang bukan sekadar cerita—melainkan identitas. Buku ini diharapkan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, agar akar sejarah tetap tertanam kuat meski zaman terus bergerak maju.

Baca berita kami lainnya di