Date:August 15, 2020

Pers Itu Siapa ?

Oleh : Taufik Lamade

Dunia terus berubah. Dunia terus bergerak. Sekarang adalah peradaban baru. Peradaban digital. Peradaban online. Peradaban internet.

Perdaban baru butuh difinisi baru. Pola hidup berubah. Cara membeli tiket online, misalnya, telah melibas agen tiket dan calo. Belanja online secara perlahan menyurutkan pamor mall.

Pers atau media massa pun juga berubah. Butuh definisi baru.

Sekarang, semua orang bisa menjadi jurnalis itu sendiri. Bahkan mereka mempunyai media sendiri. Lewat berbagai platform medsos, semua orang bisa tampil di depan publik, bisa bicara di depan public. Yang dulu hanya bisa dilakukan lewat telvisi, radio dan Koran.

Tokoh-tokoh tak perlu lagi jumpa pers. Tak perlu lagi panggil wartawan hanya sekedar menyampaikan pandangan dan sikapnya. Mereka cukup cuit lewat twitter atau Instagram. Atau di You Tube dan wall FB.

Bahkan para seleb yang menjadi sumber berita lebih kuat dan lebih besar dari kantor berita itu sendiri. Cristiano Ronaldo, misalnya, memiliki pengikut 202 juta di Instagram. Jauh lebih kuat dibanding CNN yang hanya diikuti oleh 9,7 juta atau BBC 2,1 juta.

Seleb di tanah air juga begitu. Instagram penyanyi Ayu Tingting tembus angka 37 juta. Sementara Kompas hanya mampu ngumpulkan 1 juta pengikut. Jawa Pos jauh di bawah hanya 156 ribu pengikut. Mungkin ada ratusan seleb di tanah air yg melampaui Jawa Pos.

Dulu kita sempat berpikir siapa yang gerbong dan siapa lokomotif antara Jawa Pos dan Persebaya. Debatable. Sekarang, memgacu Instagram Persebaya yg memiliki 1,5 juta pengikut jelas jauh lebih kuat dan berpengaruh. Kekuatannya lebih kuat hampir sepuluh kali lipat Jawa Pos. Artinya, tanpa pemberitaan Jawa Pos pun, Persebaya tetap bisa melakukan aktualisasi ke public.

Klub klub besar lain seperti Persija dan Persib juga mempunyai pengikut medsos yg besar. Persib bahkan tembus 3,9 juta pengikut sementara Persija mencapai 2,4 juta. Inilah yang membuat mereka kini sudah tak terlalu bergantung dengan media konvensional dalam berkomunikasi dengan publik.

Intinya, berita itu ada di mana-mana. Mencari berita seperti menghirup angin, ada di mana-mana. Di mana saja tinggal buka medsos atau portal online yang menjamur. Semua orang bisa memberi kabar, serta semua orang memiliki media itu sendiri.

Selamat Hari Pers pun layak diucapkan kepada siapapun, sepanjang mengabarkan berita benar lewat wadah apa pun. Kini, otoritas memberi kabar dan opini, bukan lagi hanya milik selebrity atau pelaku media konvensional.(*)