Prancis Membara, Toko Dijarah dan Balai Kota Dibakar dalam Gelombang Demo Nasional

Prancis Membara
IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Prancis Membara, dimana gelombang unjuk rasa pada Sabtu (17/10/2026) berubah menjadi kerusuhan di banyak kota. Aparat menangkap sedikitnya 1.200 orang. Aksi ini memprotes buruknya kondisi sekolah dan mahalnya biaya hidup.

Dikutip dari BBC News Indonesia, sekitar 550.000 orang diperkirakan ikut turun ke jalan. Pemerintah Prancis menyebut situasi itu sebagai eskalasi kekerasan. Perdana Menteri Sébastien Lecornu mengungkapkan 150 personel polisi terluka.

Paris Membara hingga Malam

Di ibu kota, pawai siang hari dari Place de la République menuju Place de Clichy awalnya berjalan tertib. Sejumlah pemuda yang ditemui BBC mengaku hanya ingin mendorong perubahan secara damai.

Menjelang sore, suasana memanas. Sejumlah kelompok membakar kendaraan dan menyalakan api di jalan, termasuk di kawasan Place de la République. Beberapa toko pakaian dan bahan makanan dijarah, dan sedikitnya satu restoran terbakar habis. Polisi membalas dengan gas air mata dan meriam air. Polisi juga terlihat menyerbu kerumunan dan memukul sejumlah orang dengan tongkat.

Koresponden BBC di Paris, Hugh Schofield, menilai ada perbedaan jelas antara pawai resmi yang relatif damai dan kelompok-kelompok kecil yang bergerak terpisah untuk memicu kericuhan. Menurutnya, pola ini mirip dengan masa awal gerakan Rompi Kuning (Gilets Jaunes) delapan tahun lalu, ketika polisi kewalahan menghadapi kelompok kecil yang sulit dikendalikan.

Balai Kota Limoges Runtuh, Kantor Wisata Lyon Terbakar

Kerusuhan tidak hanya terjadi di Paris. Di Limoges, api melalap balai kota hingga sebagian atapnya ambruk. Di Lyon, kantor pariwisata kota yang merupakan bangunan bersejarah ikut terbakar. menyebut peristiwa itu sebagai “tragedi” bagi kotanya. Polisi setempat menyebut sejumlah orang menghalangi petugas pemadam kebakaran yang hendak memadamkan api.

Di Saint-Étienne, Wali Kota Régis Juanico melaporkan seorang pemuda kehilangan tangannya akibat ledakan granat. Di Lille, toko Apple dibobol dan dikuras isinya. Sementara di Grenoble, rekaman yang diverifikasi BBC Verify memperlihatkan pria-pria bertopeng mengemudikan kereta wisata ke arah sedikitnya tiga polisi.

Di Toulon, dua polisi terluka terkena lemparan benda keras. Massa juga membongkar pagar pembatas area pasar dan memakainya untuk menyerang aparat. Di Caen, perusuh melempar batu, mencoret gedung publik, dan memakai mesin penggilas jalan (steamroller) untuk menjebol barikade serta merusak dua mobil polisi.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut kekerasan yang disengaja oleh orang-orang bertudung juga terjadi di Marseille, Rennes, Toulouse, dan Angers. Kerusakan bangunan dilaporkan pula di Grenoble, Avignon, Pau, Montpellier, dan Valence.

Berawal dari Protes Pelajar

Gelombang protes ini dimulai oleh ratusan ribu pelajar lycée, yakni sekolah menengah untuk usia 15–18 tahun. Selama beberapa pekan mereka memprotes kekurangan staf dan buruknya . Aksi kemudian membesar setelah serikat pekerja dan kelompok lain ikut bergabung, termasuk gerakan Rompi Kuning yang sejak 2018 menyuarakan protes soal biaya hidup.

Pemerintah sebenarnya sudah mencoba meredam kemarahan publik. Pada 8 Oktober, Menteri Pendidikan Édouard Geffray menjanjikan tambahan 3.000 guru pengganti. Namun langkah itu belum mampu menghentikan aksi.

Macron: Pelaku Akan Dihukum

Presiden Emmanuel Macron menegaskan tidak ada tempat bagi kekerasan di Prancis. Lewat media sosial, ia menyatakan para pelaku perusakan kantor prefektur, toko, dan balai kota akan dituntut dan dihukum. Macron juga mengajak warga bersatu melawan pihak yang ingin meruntuhkan institusi negara.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyalahkan tokoh-tokoh sayap kiri ekstrem yang menurutnya terang-terangan menyerukan pemberontakan. Ia menilai mereka harus bertanggung jawab atas kekacauan tersebut.

Bayang-bayang Pilpres 2027

Kerusuhan ini terjadi di tengah ketidakpastian politik. Masa jabatan Macron berakhir tahun depan. Survei menunjukkan pemilihan presiden April 2027 berpotensi mempertemukan Marine Le Pen dari National Rally dengan Jean-Luc Mélenchon dari La France Insoumise.

Mélenchon ikut berdemonstrasi dan menuduh polisi menyerang pengunjuk rasa, meski ia juga mengecam penjarahan dan pembakaran. Lecornu menyebut pernyataan Mélenchon “berbahaya dan sinis”. Ia juga menuding ada pihak yang memanfaatkan demo sebagai pemanasan menjelang pilpres.

Le Pen menilai tuntutan sah para demonstran telah dibajak kelompok kiri radikal. Ia juga menuduh Mélenchon ikut memicu kekerasan.

Serikat Buruh Siapkan Mogok Nasional 5 November

Konfederasi Umum Buruh Prancis (CGT) menyebut aksi Sabtu sebagai tahap baru mobilisasi dan mendesak pemerintah segera merespons. Tuntutan CGT meliputi kenaikan upah dan pensiun serta pemberlakuan kembali pajak kekayaan bagi warga kaya. CGT menyerukan aksi damai lanjutan bersama kaum muda, yang akan berpuncak pada mogok kerja lintas serikat pada 5 November.

Lebih dari Sekadar Demo Musiman?

Menurut Schofield, protes jalanan sudah menjadi ritual hampir setiap musim gugur di Prancis. Namun kali ini, sejumlah faktor bisa membuatnya berbeda. Faktor itu antara lain pemerintahan tengah yang dinilai tak efektif, kekecewaan terhadap satu dekade Macronisme, krisis utang, inflasi, menguatnya kelompok politik ekstrem, perang di Eropa, dan pilpres yang kian dekat.

Ia menilai kondisi tersebut memunculkan pertanyaan apakah periode 2026–2027 bisa menjadi titik balik sejarah, sebagaimana Mei 1968 atau revolusi 1848.

Sumber: BBC News Indonesia

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60