Pulang ke Akar

Peluang ke Akar
Panggilan pertama kali dari Allah dalam proses kehidupan manusia, mengisyaratkan bahwa hidup ini bukan sekedar permainan biasa.

Penulis: Makmun Rasyid

READ.ID – Panggilan pertama kali dari Allah dalam proses kehidupan manusia, mengisyaratkan bahwa hidup ini bukan sekedar permainan biasa. Semuanya diikat oleh pertanggung jawaban, gerak-gerik, ucapan, tindakan, keputusan dan sebagainya. Sembilan lubang yang terbuka, yang menempel pada diri manusia akan ditutup rapat. Dan apa-apa yang tertutup rapat, tidak bisa berbicara, akan diberikan kemampuan untuk berbicara. Ia menjadi saksi nyata selama di dunia.

Segenap tubuh tersungkur dan gemetar membaca pembuka di atas. Syukur tersadarkan, sebagai inti dari berpuasa. Menghentikan laju gerak dan meminimalisir kesalahan-kesalahan, kemudian meraup ragam pahala. Satu dari sekian harapan yang didambakan setiap insan. Pahala bukan tujuan ibadah, sebab ia bukan pamungkas dalam kehidupan ini. Pamungkas itu bernama “ma’ûnah” (pertolongan) dari Allah.

Kelak hari, yang menyebabkan seseorang masuk surga bukan sebab pahala, tapi pertolongan-Nya. “Tidak seorang pun masuk surga karena amalnya. Sahabat bertanya, engkau pun tidak? beliau menjawab, saya pun tidak, kecuali berkat rahmat Allah kepadaku.” Salah satu rahmat-Nya itu adalah “ma’ûnah”. Kalam itu sebagai sindiran kepada siapa saja yang membanggakan ibadahnya; saya lebih baik dari si A, B dan C. Kebanggaan atas ibadah yang dilakukannya, dan menyebabkannya riya, merupakan tindakan yang merusak kebaikan yang pernah dikerjakannya.

Adalah Fudhail bin ‘Iyadh, seorang mantan perampok yang memiliki kebiasaan nongkrong di rute antara Abu Warda dan Sirjis. Rute yang ditakuti siapa pun yang hendak melewati. Tibalah suatu hari, seorang alim ingin melewati jalur tempat beroperasi Fudhail. Sang alim itu mengatakan kepada kawan-kawannya, “Siapkanlah panah-panah kita. Kita akan memanah ke arah mereka bersembunyi. Jika anak panah kita tepat mengenai sasaran, hendaknya kita melanjutkan perjalanan. Bila tidak, sebaiknya kita kembali.”

Tapi, lanjut sang alim, “kita tidak sekedar memanah. Terlebih dulu kita membacakan ayat suci Al-Qur’an”. Saat jam operasi, Fudhail memberikan instruksi kepada anak buahnya untuk siaga di tempat masing-masing. Sang alim sudah siap dengan anak panahnya dan mendekati perlahan-lahan rute Fudhail.
Salah seorang melepaskan anak panahnya, sembari membaca surah Al-Hadîd [57] ayat 16. Fudhail pun mendengarkan ayat Qur’an itu. Tiba-tiba tubuhnya bergetar dan merintih. Pengawalnya mengira, bosnya terkena anak panah, tapi tidak ada bekasnya. Fuhdail pun berteriak, “aku telah terkena anak panah Allah”.

Kawan sang alim yang kedua kembali melepaskan anak panahnya, sembari membaca surah Al-Dzâriyât [51] ayat 50. “Maka segeralah kembali kepada Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu”. Fuhdail yang telah sadar kembali berteriak histeris, “Wahai kalian semua! Aku terkena panah Allah!”.

Seorang lainnya kembali meluncurkan panahya, sembari membaca surah Al-Zumar [39] ayat 54. “Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. Fudhail lagi-lagi gelagapan, mengusir seluruh pengawal dan anak buahnya. Ia pun berkata dengan kencang, “kalian semua, pulanglah! Sungguh, rasa takutku kepada Allah telah merasuk dalam jiwa. Aku akan meninggalkan kejahatan yang ku perbuat selama ini”.

Sosok Fudhail inilah yang dalam kitab Raudlatu al-Zâhidîn bisa menjadi renungan bersama. Fudhail mengungkapkan uneknya, “seandainya saya diminta memilih antara dua hal; dibangkitkan lalu dimasukkan ke surga atau tidak dibangkitkan sama sekali. Maka saya memilih yang kedua.”
Fhudail sadar, ia malu menerima surga tapi takut akan siksaan neraka sebab dosa-dosanya. Kemudian, dia beribadah terus menerus sampai menjadi ulama besar di masanya—setelah pengembaraan intlektualnya. Di tangannya, banyak tokoh terkemuka lahir. Sebut saja, Imam Syafi’i, Ibnu Al-Mubarok, Al-Humaidy dan lain sebagainya.

Kisah hidup Fudhail yang populer ini menyadarkan kita, hakikatnya jangan beribadah dengan pamrih. Karena ibadah pada-Nya tidak sebanding dengan apa ibadah yang dilakukan. Namun bukan sebab menghentikan kita dalam beribadah. Ibadahlah, tanpa pamrih apa-apa. Semuanya hak prerogratif-Nya dan jangan saling merendahkan satu dengan lainnya.

Dalam puasa inilah, kita bisa kembali pulang ke akar; beribadah kepada-Nya, semampunya tanpa pamrih. Tujuan berpuasa bukan sekedar menumpuk pahala. Itu terlalu kecil bagi-Nya untuk diberikan pada semua hamba-Nya. Tapi berpuasalah karena itu kebutuhan. Kesadaran akan kebutuhan ini akan menghantarkan seseorang mengerti: puasa tempat mengolah hati sebagai tempat makrifat. Yang kecerdasannya lebih tajam dan lebih dalam dari kecerdasan abstrak (otak).

Sejak terlahir ke muka bumi, (sebenarnya) manusia sudah diwajibkan untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan sejati. Yang dari-Nya dan kembali kepada-Nya. Dalam proses menuju tahap terakhir dalam kehidupan, dibutuhkan karakter tangguh dan menjalaninya penuh suka cita. Layaknya Nabi Ayyub. Seorang nabi yang sudah bermental baja, tapi tetap diuji-Nya. Masihkah sabar dalam cobaan yang lebih dahsyat.

Di tengah himpitan besar. Kehilangan harta dan diterpa penyakit besar. Ia istiqamah berbaik sangka pada-Nya. Kisah Nabi Ayyub ini, yang dalam tasawuf disebut “al-Mudâwamah ‘alâ thâ’atillâh”. Sebuah pembiasaan untuk selalu taat kepada-Nya; tidak mengenal kondisi. Sungguh, “saat kepayahan terlewati, kebahagian akan mengabadi; Sebaliknya, saat kebahagiaan terlewati, penyesalan akan mengabadi”.

Kondisi dunia, terkhusus Indonesia, seluruhnya diterpa cobaan; tak kenal kaya dan tidak kaya. Semuanya terkena dampak wabah. Dalam situasi inilah, memperbanyak ibadah—dalam bentuk apapun—menjadi kepastian. Seorang guru sufi bertutur, “jika kau tidak mengalami kesulitan dan penderitaan, maka engkau tidak akan dapat memperoleh ilmu”. Betul, ilmu pengetahuan merupakan bagian dari kehidupan bukan kehidupan bagian dari ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan inilah, sejatinya kita tengah duduk di bangku kuliah. Allah sendiri yang langsung mengajarkan dan mendewasakan bagi yang berpikir.

Proses mengembalikan diri ke akar, mudah-mudah sulit. Harus melepaskan baju kesombongan, keakuan dan keegoan yang terus ingin tampil ekstra dari diri. Dibutuhkan istiqamah sebagai bagian dari “al-Mudâwamah ‘alâ thâ’atillâh”. Puasa—lagi-lagi—mengajak untuk mendawamkan ritual positif, sebagai bentuk ketaatan. Ditebarkan oleh-Nya ragam nikmat yang “istidraj” di bumi ini, bagian dari ujian dari ketaatan kita pada-Nya. Tuhan telah menyindir, “kalian mencintai segala yang bersifat kesekarangan (dunia) dan mengabaikan semua yang bersifat kekemudian (akhirat)” (Qs. Al-Qiyâmah [75]: 20-21).

 

Baca berita kami lainnya di

Exit mobile version