Redam Polemik Video Viral RSUD ZUS, Suprianto A. Nuna Serukan Rekonsiliasi Kemanusiaan

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Jagat maya baru-baru ini dihebohkan dengan beredarnya video ketegangan antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien di dr. Zainal Umar Sidiki (ZUS). Menanggapi dinamika yang terus berkembang, aktivis kemanusiaan Suprianto A. Nuna mengambil sikap tegas dengan mendorong adanya jalur damai dan meminta semua pihak untuk berhenti saling menghakimi.

Suprianto menilai bahwa insiden yang terjadi pada dini hari tersebut bukanlah murni kesalahan satu pihak, melainkan sebuah miskomunikasi situasional yang diperparah oleh kondisi psikologis kedua belah pihak di ruang perawatan. Menurutnya, kegaduhan di media sosial justru akan memperkeruh suasana dan merugikan pelayanan publik di sektor kesehatan.

Dalam keterangannya, Suprianto A. Nuna memberikan pandangan kritis sekkoaligus solutif terkait insiden tersebut. Terkait aspek medis dan keamanan pasien, ia menekankan pentingnya kepatuhan terhadap prosedur rumah sakit.

“Kita harus melihat ini secara jernih. Memang benar keluarga memiliki hak atas pelayanan, namun tindakan memaksa membawa pasien dengan riwayat pusing hebat ke kamar mandi, bahkan sampai melepas infus secara mandiri, adalah tindakan yang sangat berisiko. Prosedur medis dibuat untuk melindungi nyawa pasien, bukan untuk mempersulit keluarga,” ujar Suprianto, Rabu 08/04/2026.

Di sisi lain, ia juga menyoroti aspek komunikasi dari pihak tenaga kesehatan. Meski tindakan medis yang diambil sudah benar, ia berharap ada evaluasi terkait cara penyampaian pesan di lapangan.

“Saya memahami tekanan yang dialami nakes di jam-jam rawan, namun komunikasi yang persuasif tetap menjadi kunci. Saya mendorong manajemen RSUD ZUS untuk terus mengedukasi nakesnya dalam hal manajemen konflik, agar niat baik melindungi keselamatan pasien tidak disalahartikan sebagai tindakan yang arogan oleh keluarga yang sedang cemas,” lanjutnya.

Suprianto juga sangat menyayangkan tindakan pihak-pihak yang menyebarluaskan video tersebut tanpa narasi yang utuh, yang berpotensi memicu stigma negatif terhadap profesi perawat.

“Saya menghimbau netizen dan masyarakat luas untuk berhenti membagikan video tersebut dengan bumbu narasi yang tendensius. Memviralkan masalah tanpa jalur mediasi hanya akan merusak kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit kita sendiri. Sebaiknya, segera tempuh jalur tabayyun atau pertemuan kekeluargaan antara manajemen RS dan pihak keluarga untuk saling meluruskan kesalahpahaman,” tegas Suprianto.

Menutup pernyataannya, Suprianto A. Nuna berharap kejadian ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih kooperatif demi terwujudnya pelayanan kesehatan yang lebih humanis di Gorontalo Utara.

“Kedamaian dan kesembuhan pasien hanya bisa tercapai jika ada sinergi antara nakes yang sabar dan keluarga pasien yang kooperatif. Mari kita akhiri polemik ini dengan semangat saling memaafkan, kita bangun hubungan yang harmonis antara tenaga medis dan masyarakat. Tenaga medis butuh dukungan, dan masyarakat butuh pelayanan yang bermartabat.”pungkasnya.

Baca berita kami lainnya di