Tanggal07/12/2019

Rumah Yang Dirobohkan Pemiliknya

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid

READ.ID – Beberapa hari ke depan, Gus Ulil akan menginjakkan kakinya ke bumi Serambi Madinah, Gorontalo. Dinamika di media sosial pun terjadi silang pendapat, pro-kontra. Sebagaimana saat kedatangan Firanda Andirja yang salah satunya terdapat lambang bertuliskan “Polisi Cinta Sunnah”. Saya menyoroti keras pasca sebuah akun Facebook bernama Husni Al-Ghorontaliy menerbitkan status “menolak”.

Penting bagi saya untuk menyoroti satu dari tiga poin yang diutarakan Husni pasca dialog (menurutnya) dengan Ketua Takmir Masjid Kampus UNG. Pada poin ketiga ia menyebutkan dengan jelas, “sekalipun ada surat permohonan izin ke pihak takmir masjid beliau sebagai ketua menolak atau tidak memberi izin”. Dalam sebuah komentarnya di lain tempat sebagai tanggapan dari akun Abdur Rahman Ady Saputera, Husni mengatakan, “sudah itu bahasa yang paling digunakan… substansinya ditolak karena pengetahuan tentang sosok mahluk namanya Ulil sudah diketahui sebelum wacana ini… kalau suka pernyataan yang keras juga boleh mo buat (bisa dibuatkan) ulang”.

Akhirnya, Gayung bersambut, Gus Ulil tidak jadi mengisi di Masjid Kampus UNG, tapi saya dikabarkan oleh “pemasok informasi” bahwa Gus Ulil akan mengisi di Kampus 2 IAIN Sultan Amai Gorontalo dengan tema “Melawan Radikalisme, Merawat Pluralitas”.

Dari dua sajian yang diberikan Husni, saya bisa mengasumsikan ada ketidaksepakatan akan kepemilikan ilmu pengetahuan yang dimiliki Gus Ulil. Jika sudah memberikan penolakan terlebih dahulu, maka ada informasi (bisa salah dan bisa benar) yang diserapnya terkait Gus Ulil. Saat Firanda ke Gorontalo, saya pun menyorotinya dan akan hal sama ketika Gus Ulil datang ke Gorontalo untuk sosialisasi pemikiran liberalnya.

Jika memang, yang dipermasalahkan Husni terkait “masa lalu” Gus Ulil sebagai Direktur Freedom Institut atau kiblat dalam kajian-kajian liberalisme di Indonesia. Sebuah tempat juga yang sangat digandrungi generasi-generasi muda dalam hal ihwal “Islamic Liberalism” (istilah Leonard Binder) atau “Liberal Islam” (istilah Charles Kurzman).

Secara jelas dalam buku saya “Islam Yang Mengayomi” (2018), tidak saja terkait “Liberal Islam” tapi saya sampai tidak sepakat istilah “Islam Liberal”. Di satu sisi, saya juga menolak Wahabisme di Indonesia karena tidak sesuai dengan ruh Nusantara yang berhaluan Ahlu Sunnah wal Jamaah atau menganut aliran Sunni dan berwatak moderat. Dan dalam konteks Gorontalo, sampai hari ini, kelompok yang getol menyerang liberal masih ada. Ia bernama “Indonesia Tanpa JIL”. Namun kelompok ini tetap lembek menghadapi gempuran Wahabisme di Gorontalo. Di Gorontalo belum ada tokoh yang getol menghalau pemikiran-pemikiran Wahabi sebagaimana yang dilakukan ITJ dengan ragam kajian-kajian kritisnya kepada kelompok liberal.

Baiklah. Jika penolakan Gus Ulil oleh Husni terkait pemikiran liberalnya dalam fase tampilan baru Gus Ulil, maka tepat kiranya saya menantangnya berdebat melalui akun Facebook saya (Makmun Rasyid; 13 Oktober 2019). Tema yang saya ingin diskusikan kepada Husni—tanpa perwakilan kecuali dirinya—adalah ketokohan Gus Ulil dan cap liberal yang menempel pada dirinya. Kalau Husni berkenan, nanti saya akan turut serta memaparkan dan menuliskan secara ilmiah sejarah liberalisme di Indonesia, eksistensi Freedom Institute dan Gus Ulil.

Namun sampai saat ini, karena tidak mendapatkan penolakan jelas dari Husni, maka ada dua hal yang perlu saya sebutkan di awal melalui tulisan ini. Pertama, ketidakjelasan penyebutan Husni akan hakikat penolakannya terhadap Gus Ulil. Ia menolak pada fase Gus Ulil yang mana?. Kedua, jika karena takut disebarkannya liberalisme di Gorontalo, maka bukankah belakangan ini ada transformasi besar yang terjadi pada sosok Gus Ulil. Hal itu ditandai dengan dirinya menerbitkan buku berjudul “Menjadi Manusia Rohani” (2019). Sebuah buku yang mendedahkan aforisme kebijaksanaan Ibnu Athaillah, yang terkenal dengan kitab “Al-Hikam”-nya; dan “Pengajian Online Kitab Ihya Ulumiddin karya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali”.

Transformasi yang signifikan inilah yang saya sebut, “rumah yang dirobohkan oleh pemiliknya”. Ia dahulu yang getol menggelorakan “Islam Liberal” kini masuk ke fase tasawuf. Sebagaimana Imam Ghazali yang menggemari Tasawuf setelah melalui tahap kegemarannya belajar ilmu-ilmu filsafat, sampai-sampai ia berdebat secara akademik dengan Ibnu Rusyd melalui karya populernya.

*

Lalu bagaimana saya melihat fenomena Gus Ulil dalam kacamata Serambi Madinah. Ruh Gorontalo hanya cocok bagi kelompok yang berwatak moderat, seperti yang diperankan Nadhlatul Ulama dan Muhammadiyah. Keduanya made in Indonesia. Selebihnya merupakan barang impor dengan driver-driver yang berbeda-beda. Serambi Madinah tidak mengenal “ahl al-Naqli” (kaum tekstualis) semata dan “ahl al-Aqli” (kaum rasional) semata. Serambi Madinah telah diikat oleh filosofi “Adat Bersendi Syara’ dan Syara’ Bersendi Al-Qur’an”. Al-Qur’an menganjurkan manusia memberdayagunakan seluruh alat instrumental dan penuh keseimbangan. Artinya, “tawasuth”.

Moderasi (dalam beragama) yang menjadi watak Serambi Madinah itu selaras jika di Gorontalo dibuka kajian-kajian seperti kajian “Ihya Ulumiddin” model Gus Ulil. Model pemberian wacana keberagamaan yang didahului oleh Fikih dan diakhiri tasawuf, kerap melahirkan wajah-wajah pembawa agama yang rigid. Maka kehadiran pengajian “Ihya Ulumiddin” menjadi angin segar untuk Gorontalo dalam membawa model baru, mengisi jiwa dengan pengajian-pengajian spiritual terlebih dahulu baru diikuti oleh kajian-kajian hukum. Mengapa?

Seseorang menentukan sebuah objek itu salah-benar, itu merupakan ranah Fikih. Tapi bagaimana seseorang bisa bertanggung jawab, itu ranah tasawuf. Kalau sedari awal—sebagaimana leluhur Gorontalo dan aulia-aulia Gorontalo yang sangat sufi-sufi—sudah dibekali oleh kajian tentang “khasyatullah” maka ketika diisi oleh perkara-perkara hukum, maka dia akan menjadi orang yang menerapkan “amaliah yang ilmiah” dan “ilmiah yang amaliyah”.

Akhirnya, sebagai sosok yang oleh netizen disematkan dengan adanya rihlah “min utan kayu ila era fasbukiyah” (dari era Utan Kayu ke era Facebook) itu tidak berdasar sama sekali untuk menolaknya. Di luar kontroversial dirinya di masa lalu, bekal Ihya Ulumiddin yang dibawanya ke Serambi Madinah dan mengajarkan kepada masyarakat dengan sajian-sajian menarik Imam Ghazali. Terlebih pemaparan yang disajikan Gus Ulil sangat berbeda dengan kajian kitab yang sama, sebagaimana yang terdapat di pesantren-pesantren.

Di sisi lain, pengajian model sejenis akan mengendapkan pola semangat beragama yang hanya terfokus pada identitas (fisik, tampilan dan lahiriyah) semata tanpa melibatkan sisi kerohanian (pendalaman ilmu pengetahuan, spiritual dan sejenisnya). Karena itu, bagi Imam Al-Ghazali situasi tersebut dinamakan sebagai bentuk “kematian agama”. Dan upaya menghidupkannya kembali dengan salah satu mengkaji Ihya Ulumiddin atau mengkaji ilmu-ilmu agama dengan perspektif komprehensif.***