Siti Maryam Suka Duka Perempuan Suci

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

‘Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Alquran), (yaitu) ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis)’. Lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka, lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri dihadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. (QS. Maryam, 16,17)

READ.ID – Hanna yang usianya telah lanjut, masa suburnya telah lewat menurut perhitungan seorang wanita. Mungkinkah takdirnya meninggalkan dunia ini tidak menjadi seorang ibu? Dalam penantian selama berpuluh-puluh tahun, orang-orang ramai mengunjing tentang dirinya, kata-kata mereka sungguh telah membuat sakit jiwa dan hatinya, bahkan lebih parah lagi mereka memfitnah dengan wanita mandul terlaknat, hal tersebut membuat semakin menambah kesedihan Hanna.

Imran adalah suami Hanna, seorang alim agung keturunan Nabi Harun, seorang ahli kitab, hafiz dan seorang pembimbing masyarakat. Imran dan Nabi Zakaria yang menjadi pengayom dan panutan masyarakat di wilayah Baitul Maqdis. Hanna mempunyai sudara yang juga istri dari Nabi Zakaria, al-Isya merupakan sudara kandung yang lebih muda dari Hanna. Namun, keduanya belum mempunyai keturunan pada usia senja. Nabi Zakaria yang berasal dari keturunan Nabi Daud, seorang Nabi yang begitu dihormati, diberi kepercayaan memegang kunci Baitul Maqdis dan mengurus tempat persembahan kurban.

Sementara itu, salah satu penentang Nabi Zakaria dan Imran dalam berdakwah di kalangan Bani Israil adalah Mosye, pada awalnya Mosye direkomendasikan oleh Nabi Zakaria dapat diterima sekolah agama di Baitul Maqdis, bertambah dengan peran dan kekuasaanya Ia malah bersekongkol dengan wali Romawi yang memegang kuasa pemerintahan di wilayah Palestina, mereka memerintahkan pintu timur Baitul Maqdis akan ditutup sebagai hukuman, akan tetapi para perempuan banyak yang tidak patuh dan akhirnya, wali Romawi melarang wanita masuk ke masjid sebagai ganti penutupan pintu timur.

Kelahiran Maryam

Kini hati Hanna yakin bahwa dirinya telah mengandung, Ia berdoa dengan ribuan pujian dan harapan kepada Tuhan dengan khusuk. Ya Rabb, jadikanlah bayi ini, sebagai orang yang merdeka, hanya aku persembahkan kepada Mu, wajahnya kembali cerah dan penuh kegembiraan, berlarilah dirinya ke segenap ruangan terbang bagaikan kupu-kupu. Dalam kegembiraan ini, terucap bahwa mengorbankan bayi yang dikandungnya ini kepada Allah.

Menjelang bayi akan lahir, tiba-tiba terdengar berita duka bahwa Imran sang suami wafat, dalam masa kesedihan Hanna tetap menjaga kondisi bayi dalam kandungannya, pada kegelapan malam cahaya terang dari rumah Hanna laksana Mentari baru saja terbit, atas izin Allah telah lahir bayi perempuan. Sebelumnya, ia telah berniat mengorbankan anaknya kepada Allah, berharap yang lahir adalah anak laki-laki.

Zat Yang Maha Mencipta telah menghendaki bayi perempuan, bayi yang akan menjadi seorang Ibu yang sangat penyabar, tabah dan penuh keteguhan. Seorang ibu yang akan melahirkan Almasih yang akan menyeru kepada seluruh dunia dengan ajarannya. Hanna memberikan nama bayi tersebut Maryam, yang berarti seorang hamba yang tekun beribadah, menghamba kepada Allah dan perempuan yang rajin bekerja, Ia sungguh menjadi merdeka dari tipu daya dan nafsu dunia sepanjang kehidupannya yang dikenal dengan muharraran (merdeka).

Pada saat mejelang wafat Hanna ibunda Maryam, berusaha dengan sekuat tenaga meski mengalami pendarahan membawa bayi Maryam menuju Baitul Maqdis seraya berkata bayi ini telah aku kurbankan kepada Tuhan untuk menjadi anak yang merdeka, terbebas dari belenggu dan jeratan dunia. Anak adalah rahasia sang ayah, demikian pula Maryam, karena bapaknya orang yang mulia, para pengasuh masjid langsung menerima dengan penuh hormat. Hanna pun meninggal dengan damai setelah memenuhi nazarnya.

Masa Pengasuhan dan Pendidikan Siti Maryam di Maqdis

Pada saat Maryam diserahkan di Baitul Maqdis, sudah ada empat ribu anak yang sama seperti dirinya untuk mengabdi di jalan Allah, tatkala mulai dapat berbicara mereka dikutkan dalam pendidikan di Masjid. Akan tetapi, semuanya anak laki-laki, berbeda dengan Maryam selain wanita, Ia seorang bayi yang baru dilahirkan dan masih membutuhkan seorang wali untuk mengasuhnya sebelum memulai pembelajaran dan pendidikan di Masjid. Pada momen itu, Nabi Zakaria berbicara dengan tegas dan lantang, bahwa dirinya berhak menjadi wali, Nabi Zakaria menikah dengan bibi bayi yang telah dikorbankan sambil menuruni tangga di pintu Baitul Maqdis.

Namun, ketika Nabi Zakaria hendak mengangkat sang bayi tiba-tiba salah seorang guru telah menghalang-halanginya dengan suara lantang pula. Kami juga ingin menjadi wali asuh bayi mulia ini, kita harus adakan undian sehingga semua orang akan rela dengan hasilnya. Ketika seruan untuk berbuat kebaikan seperti ini, semua guru tulis beramai-ramai berebut ikut melemparkan pena mereka ke dalam sungai, barang siapa penanya tidak tenggelam, maka dirinyalah yang berhak menjadi orang tua asuh Maryam, demikianlah adatnya pada masa itu.

Genap empat puluh pena sebagai alat undian. Sungguh, inilah kuasa Ilahi, semua orang berlomba menerima kehadiran Maryam, perlombaan yang terjadi di pinggir sungai Yordan. Tiga puluh sembilan pena tenggelam ke dasar sungai, kecuali satu atas kehendak Allah adalah pena milik Nabi Zakaria. Memang, seharusnya Maryam diasuh oleh Al-Isya bibinya, dengan undian tersebut tak lagi ada protes karena telah diadakan dengan adil di depan publik.

Setelah melewatkan hari-hari yang sedih, kehidupan Maryam kecil disusun rapi, Al-Isya dan Merzangus (pengasuh) bersama Nabi Zakaria mengasuh Maryam seperti anak kandung sendiri, sehingga Maryam dapat duduk, berdiri, berbicara dan dapat mengerjakan semua kebutuhan diri sendiri. Selang waktu berjalan, semua anggota keluarga menyadari bahwa telah tiba waktu untuk menyerahkan Maryam ke masjid sebagai anak yang telah dikurbankan, mereka mengasuh Maryam sampai usia enam tahun.

Maryam adalah sosok anak yang jauh lebih cerdas, peka dan perhatian dibandingkan anak-anak seusianya, daya hafalnya sangat kuat, nabi Zakaria dan keluarga pada saat menyerahkan Maryam meminta pengurus masjid membuatkan satu ruangan khusus untuknya. Di sisi lain, bagi sang bibi, Maryam adalah kenangan terindah yang telah ditinggalkan mendiang kakanya, merasa berat melepaskannya dan tak kuasa menahan tangis.

Sungguh sangat tragis, malam pertama Maryam tinggal seorang diri di Baitul Maqdis tidak ada yang tahu selain nabi Zakaria dan beberapa orang rahib, meski tak diberi tahu informasi Mosye akhirnya mengetahui entah dapat bocoran dari mana, setelah menempatkan Maryam kecil di dalam ruangan sebelah selatan masjid. Sayang, Mosye dan bersama rahib pendukungnya telah menyusun serangkaian rencana jahat untuk menghalang-halangi Maryam menetap di Baitul Maqdis.

Pada malam itu, menyusupkan singa dan ular yang menjadi sitaan pengurus Maqdis atas pertunjukan sirkus dari milik seorang pawang dari Magribi (Maroko) tanpa izin petugas Maqdis, lewat pintu rahasia yang sedikit terbuka yang mengarah tempat Maryam tinggal. Atas perlindungan Allah singa dan ular itu bukan ancaman Maryam, justru mereka sebuah hadiah yang akan menjadi teman dekat bagi putri Imran.

Maryam yang sangat mencintai binatang, bercerita dan mendengar keluh kesah kedua singa dan ular yang sengaja untuk melukai dan bahkan membunuh Maryam, dalam kesempatan itu Ia menasihati bahwa sungguh Allah adalah pelindung bagi kita semua. Mereka akhirnya tertidur, saat waktu subuh hampir tiba Nabi Zakaria terkejut melihat Maryam tertidur bersama singa dan ular, kemudian megumpulkan semua petugas dan orang yang menantangnya, sambil mengangkat tongkatnya Nabi Zakaria berteriak keras meminta pertanggungjawaban dari mereka.

Setelah kejadian itu, Nabi Zakaria mengambil langkah mengamankan Maryam dengan lebih ketat, Ia lalu membangun mihrab setinggi tujuh tingkat tataran dengan tujuh lapis pintu di sebelah timur Baitul Maqdis dengan dibantu keponakannya Yusuf dan orang yang mencintai Nabi Zakaria.

Maryam kini tinggal di mihrab, setiap membukakan pintu pada waktu pagi dan menutupnya di waktu malam Nabi Zakaria terkesan, Maryam telah menghafalkan semua pelajaran yang diajarkan padanya bahkan doa yang belum pernah diajari sekalipun, Ia pun mengetahui Maryam selalu berteman dengan para malaikat dan menemukan buah-buahan segar.

Hakikat Tujuh Pintu Mihrab

Di dalam mihrab berlapis tujuh pintu dan kunci inilah Maryam menghadap Allah seorang diri. Ada tujuh nama pintu, pintu pertama: al-Aman, adalah pintu awal waktu subuh, setiap membuka pintu Nabi Zakaria membacakan basmalah dengan nama Allah Maha Pengasih dan Penyayang, pintu ini merupakan unsur-unsur keamanan kesucian dan tanah, pintu kedua adalah pintu keteguhan dibalik pintu itu adalah bakire berarti perawan, yang juga tempat bertemu keteguhan, keperawanan dan air.

Pintu ketiga: Tempat berindung diri, sebagai kedudukan imkan (peluang) dan mumkin (kemungkinan). Imkan mengandung syarat bagi kedertakaan jantung kehidupan manusia yang juga membutuhkan tempat (makan) yang akan menyertainya, kematian dan kehidupan akan selalu terkait dengan tempat. Meski ruh yang dipahami tidak mengenal tempat, akan tetapi Ia akan selalu dikaitkan dengan sebuah tempat pada badan, mimpi, khayalan, kubur dan akhirat. Tempat adalah penghubung langit dan bumi serta jembatan sejati yang menuntun kita berdiri di atas air, batu dan api.

Pintu keempat: Ketabahan, adalah pintu paling berat, ia terbuat dari besi dan diberi nama hadid (besi) yang didalamnya terdapat kekuatan tekat yang terpenting menapaki jalan dengan penuh perjuangan, bagi Maryam pintu ini adalah tanda sikap malunya, karena itu, pintu tengah ini bernama Mahjubah.

Pintu kelima: Selamat, dari segi bentuk pintu ini indah dan tipis adalah wujud dari perasaan takjub dan kebahagiaan karena keselamatan telah dicapai. Nabi Zaakaria memberi nama pintu Balqis, Balqis adalah ratu yang mendapat keselamatan setelah taat kepada Nabi Sulaiman. Bagi Maryam keselamatan adalah orang yang taat sehingga pintu ini baginya riayat (ketaatan) seorang hamba yang menapaki derajat ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah.

Pintu keenam: Perlindungan, pintu ini terbuat dari batang pohon pinus yang terlihat sederhana tidak ada gembok dan lubang kunci. Sebagai pintu perlindungan, hanya sejengkal batas antara ada dan tiada, antara kisah dan kehidupan nyata, antara hikayat dan hakikat, saat ada dibalik pintu ini, Maryam memanjatkan doa dengan mengenang silsilah para nabi satu demi satu senantiasa berzikir kepada Allah tanpa henti dengan lidah semua makhluk berada dalam kedudukan berserah diri dan nama pintu sesuai baginya adalah as-Salimah artinya seseorang telah berserah diri dan mencapai posisi salim, yang ruhnya telah mencapai kedamaian dan kelapangan.

Pintu ketujuh: Rahasia, adalah pintu yang menyelimuti Maryam, Ia juga seorang yang diberikan nama sirriyah (rahasia). Dibalik pintu ini, Maryam mencapai kesempurnaan posisi yang berada di atas semua nama, karena dia adalah rahasia dari rahasia dan hanya mampu ditenangkan dengan lafaz La Ilaha Ilallah, Muhamad Rasulullah.

Melahirkan dan Mendidik Nabi Isa

Hari berganti minggu, bulan, tahun dan musim bergerak. Kini, Maryam telah berusia enam belas tahun, seorang remaja yang taat dan penuh kesabaran dan terpilih menjadi seorang azizah yang menjadi kesasih masyarakat, dalam waktu yang singkat ia telah memikat hati setiap orang, setiap malam Maryam mengunjungi orang menderita sakit dan mendoakan kesembuhannya.

Di sisi lain, kemampuan Maryam mendengar suara para malaikat sehingga dijuluki Muhaddasa, suara itu berkata: wahai Maryam Allah telah memilihmu, dengan menciptakanmu begitu suci, Ia telah memilihmu diantara semua wanita di dunia, Wahai Maryam. Taatlah kepada Tuhanmu, Terhadap orang-orang yang rukuk kepadaNya, ikutlah kamu rukuk. Dari peristiwa ini, Maryam langsung ikut berjamaah dengan para rahib, Namun sayang, justru mereka marah dan menolak.

Perjuangan, pengorbanan doa dan penghambaan akan melahirkan Mutiara, tirai dan hijab Maryam laksana sayap yang telah siap terbang, mengepak penuh dengan kencang. Tirai inilah yang menyiapkan Maryam kepada malaikat Jibril. Dia (Jibril) berkata, Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu, untuk menyampaikan anugerah kepadamu, seorang anak laki-laki yang suci. Dia (Maryam) berkata, Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan pezina. Dia (Jibril) berkata, Demikianlah. Tuhanmu berfirman, hal itu mudah bagiKu, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan hal itu suata urusan yang (sudah) diputuskan. (Qs. Maryam,19-21)

Dilain pihak, lahirlah seorang Nabi Yahya yang merupakan saudara sepupu Maryam putra dari bibinya. Nabi Yahya salah satu dari tiga orang yang diberitakan sebagai berita gembira, yaitu Nabi Ishak putra dari Nabi Ibrahim, Maryam dan Nabi Yahya putra Nabi Zakaria, mereka lahir saat ibu mereka telah berusia lanjut.

Pada saat kegembiraan datang di rumah Nabi Zakaria, ketegangan dan kewaspadaan menjaga Maryam salah satu prioritas utama untuk dikerjakan. Kandungan Maryam yang beberapa lama tenang tiba-tiba mulai bergerak dengan kencang, sebagai tanda kelahiran anaknya Ia menyalakan lentera di dalam mihrabnya, mulailah Nabi Zakaria beserta Yusuf dan Merzangus membawa Maryam sambil sembunyi. Namun, Maryam mendapat ilham untuk terus berjalan sendiri tanpa ada yang menemani menempuh perjalanan malam hari menjauh dari keramaian sampai Allah menghendaki kemana Ia pergi.

Setelah berjalan cukup jauh di atas perbukitan tanpa alas kaki, kepedihan yang dirasakan hendak melahirkan, Maryam bersandar pada sepotong pohon kurma kering. Sebuah cobaan paling berat bagi kehormatan dan kesucian seorang wanita agar teguh hati dan tabah. Pada saat-saat itu terdengar suara Jibril, janganlah kamu bersedi hati, Sesunguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu, dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu. Niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat melihat seorang manusia, katakalnlah, sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah sehingga aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun hari ini. Lahirlah putra Maryam.

Pasca melahirkan ujian terus menerus datang, para rahib yang bersekongkol dengan penguasa Romawi berusaha melenyapkan Siti Maryam bersama Almasih, atas bimbingan Allah, Siti Maryam bersama Almasih hijrah dan mencari perlindungan ke Mesir. Mesir seakan-akan bentangan takdir bagi para Nabi, laksana bentangan sungai Nil dari hulu hingga hilir. Hijrah Siti Maryam bersama Nabi Isa yang masih bayi penuh dengan rintangan dan berdarah.

 

Setelah tiba di Mesir dengan selamat Siti Maryam bersama rombongan, belum mengetahui bahwa Nabi Zakaria telah meninggal dunia di bunuh oleh kaumnya sendiri, di Mesir mereka dibantu oleh pedagang dan tinggal di kontrakan. Sejak kecil telah terlihat tanda mukjizat Nabi Isya, diantaranya mengetahui madu dan makanan yang disembunyikan oleh ibu tiri teman bermainnya yang disembunyikan dari anak tirinya, mengetahui pencuri emas yang sulit dipecahkan siapa pencurimya.

Maryam adalah seorang Ibu dan ayah bagi Nabi Isa, sekecil apa pun kepedihan yang dialami Maryam, Almasih akan siap mengorbankan diri untuknya, inilah hasil didikan seorang Bunda yang menyeru kebaikan dengan penuh pengorbanan, namun tegar dalam dalam kesucian wajah dan hatinya. Bunda Maryam mengajari anaknya semua hal tentang ajaran agama bahkan rajin mendidik putranya menjadi baik seperti dirinya.

Sejak Isa diangkat menjadi Nabi, Bunda Maryam selalu mendukung semua kegiatan dakwah dan majelis ilmu yang adakan oleh putranya, Siti Maryam bercerita tentang surga menjadi harapan, setelah kita menyelesaikan ujian berat di dunia ini, dan kematian bagi Maryam adalah pintu terbuka bagi ruh mencapai alam abadi. Jiwa seorang ibu yang menjaga dan merawat putranya hingga wafat, Bunda Maryam teguh dalam prinsip dakwah dan berkurban di jalan Allah, yang telah melahirkan putranya dalam keadaan wahnan ala wahnin kesulitan diatas kesulitan, perjuangan diatas perjuangan sehingga ibundanya senantiasa dijunjung tinggi oleh Nabi Isa. Oleh kita semua.

Oleh: Fadli H. Alamri

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60