TanggalApril 11, 2021

Universitas Kyoto Beri Penghargaan CSEAS kepada Jazuli Juwaini

READ.ID– Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR RI, Jazuli Juwaini menerima penghargaan dari Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Universitas Kyoto, Jepang, Rabu (5/2).

Sebelumnya, Jazuli menjadi pembicara tunggal dalam Seminar Akademik di Universitas bergengsi di kota provinsi negeri Sakura itu di depan para profesor, peneliti, Doktor dan mahasiswa S2 dan S3. ini adalah forum kajian politik kawasan Asia Tenggara dari Universitas Kyoto dan mitra bestarinya.

Dalam kesempatan itu, wakil rakyat ini fokus membahas perjalanan politik Fraksi PKS di DPR RI dengan topik ‘The Past, Present, and Future of The Prosperous Justice Party (PKS) in The Indonesia’s Parliament’. Jazuli membawakan subtansi buku karya dia berjudul ‘Risalah Perjuangan Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR RI’.

Ratusan undangan terdiri dari pakar, pengamat dan akademisi tampak serius mendengarkan paparan politisi senior partai berlambang Padi dan Kapas itu, antara lain Prof Okamoto Masaki (ahli politik CSEAS Universitas Kyoto), Prof Marcus Mietzner (ahli politik ANU Australia), Prof Yasuko Kobayashi (ahli Politik Universitas Nanzan) serta Dr Dede Utomo (Universitas Cornell USA).

Dalam keterangan tertulis yang diterima dari Kyoto, Jumat (7/2) malam, Jazuli mengaku surprise dengan antusiasme dan analisis peserta yang kritis dan tajam membedah politik PKS dan Indonesia.

“Terus terang saya surprise dengan dengan perspektif dan pemahaman profesor dan para peneliti yang kritis dan tajam tentang politik Indonesia serta PKS. Saya senang dan menikmati semua perspektif, apresisiasi, kritik dan masukan. Ini memperkaya PKS dan kami terbuka dengan semua itu,” ungkap Jazuli usai menjawab semua pertanyaan diskusi sekitar 3 jam ini.

Pada kesempatan ini, wakil rakyat Dapil Provinsi Banten itu menyampaikan panjang lebar konteks politik Indonesia dikaitkan karakter kemajemukan bangsa hingga mempengaruhi perjalanan politik PKS. Dia menjelaskan identitas, visi misi dan garis perjuangan Fraksi PKS yang terus eksis dan dinamis baik di pemerintahan maupun di parlemen.

“Alhamdulillah PKS terus berkiprah sejak ikut Pemilu 1999 pasca reformasi dan selalu menempatkan wakil di DPR dan DPRD. Dalam rentang itu, posisi dan sikap PKS dinamis. PKS pernah di Pemerintahan dan kini memilih di luar Pemerintahan. Dengan kesadaran penuh PKS berjuang menjaga sistem demokrasi agar tetap sehat dalam kerangka checks and balances. Untuk itu Fraksi PKS membangun sikap politik yang kritis dan konstruktif terhadap kekuasaan,” ungkapnya.

Dalam sesi tanya jawab, peserta seminar antusias bertanya dan mendalami perkembangan politik PKS mulai dari sikap terhadap sejumlah isu dan kebijakan sebagai oposisi hingga membahas identitas, karakter, program Fraksi dan diferensiasinya dengan partai politik politik lain.

Pertanyaan soal sistem pilkada, pileg, dan pilpres di Indonesia ke depan juga mengemuka. Juga seputar legislasi RKUHP, UU KPK, hingga soal reforma agraria, perlindungan hak asasi, dan isu pemulangan WNI yang pernah bergabung dengan ISIS.

“PKS terus membuka diri dan berkolaborasi dengan elemen politik lain baik di nasional maupun internasional. Karena kunci membangun bangsa yang besar dan majemuk seperti Indonesia adalah komunikasi politik. Kami sadar Indonesia tidak bisa dibangun sendirian. Demikian halnya dalam membangun peradaban dunia yang damai dan berkeadilan,” tegas Jazuli.

Karena itu, lanjut bapak empat anak ini, PKS dan Fraksi serius membangun komunikasi dan jejering dengan komunitas internasional. Fraksi PKS menggagas kunjungan resmi ke Fraksi-Fraksi negara berpengaruh di berbagai kawasan. PKS juga menginisiasi program Ambassador Talks menghadirkan duta besar negara sahabat.

Termasuk memenuhi undangan kampus, lembaga riset dan lembaga think tank seperti ke CSEAS Universitas Kyoto ini bagian dari upaya Fraksi PKS membangun jejaring dan komunikasi dengan komunitas akademis Internasional.

“Dengan begitu, bukan saja kami bisa mengenalkan dan memahamkan risalah perjuangan Fraksi PKS dan
politik Indonesia, tetapi juga kami mendapatkan feed back dan masukan untuk kemajuan PKS khususnya dan negara Indonesia pada umumnya.”

Terkait perkembangan Islam di Jepang, Jazuli dijamu khusus Prof Yashusi Kosugi, Direktur Institut Riset Jepang-Asia Universitas Reitsumeikan serta Tokoh Muslim Jepang dan Pembina Masjid Kyoto. Mereka berbicara dalam konteks kerjasama bagaimana menghadirkan Islam yang rahmatan lilamin sehingga mampu mendinamisasi dan mensejahterakan masyarakat di berbagai negara khususnya di Indonesia dan Jepang.

Prof Kosugi mengaku senang dan terhormat menyambut kedatangan tokoh dari Indonesia karena ia melihat dan berharap sebagai negara muslim terbesar Indonesia bisa memimpin peradaban Islam di dunia. “Kami merasa terhormat. Semoga bisa memenuhi harapan Prof Kosugi,” demikian Jazuli Juwaini.

(Akhir Rasyid Tanjung/read.id)

Share