Yang Perlu Disyukuri dari Perkenalan Kehidupan Kampus secara Daring

Kampus Daring

READ.ID – Sejak pertama kali menyambangi Indonesia pada Maret tahun lalu, Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) telah menjadi pangkal dari perubahan-perubahan besar di banyak sektor kehidupan masyarakat, tak terkecuali pendidikan.

Lantas, sebagaimana berlaku pada sektor-sektor yang lain dalam upaya membendung laju penyebaran virus ini, aturan-aturan mengenai pembatasan aktivitas fisik di ruang publik, pelarangan kegiatan-kegiatan yang dapat mengundang keramaian, hingga intensifikasi penggunaan ruang maya dalam bekerja, turut berlaku di sektor pendidikan.

Proses belajar-mengajar dan layanan-layanan pendidikan, mau tak mau mesti dilangsungkan secara tatap muka-terbatas jika bukan sepenuhnya virtual.

Kendati tak sedikit menuai protes dan keluhan, upaya-upaya preventif tersebut masih lebih baik dituruti ketimbang mempertaruhkan keselamatan dengan mengabaikannya dan berpasrah menerima konsekuensi yang barang tentu tidak sepele.

Memasuki tahun kedua, periode transisi ini berangsur lebih mungkin digambarkan akan seperti apa hasilnya seiring dengan orang-orang yang semakin adaptif.

Minimal, sikap resistan yang pada awalnya merupakan reaksi paling umum ditemui, sudah semakin mengendur.

Di perguruan-perguruan tinggi, proses penyesuaian rata-rata berjalan dengan masif.

Bukan semata-mata aktivitas perkuliahan, melainkan dari seluruh program dan kegiatan yang biasanya digelar di lingkungan kampus, kini lebih banyak yang dilangsungkan secara virtual.

Perubahan tersebut tidak hanya tentang ruang dan metode yang berganti. Bukan sebatas tata cara pelaksanaan yang diperbarui.

Sama sekali lebih dari itu: ia, sedari awal, sedang mewakili kemunculan prevalensi baru, sisi kehidupan baru, atau bahkan sistem etik baru, sebagai entitas yang mencari “ruang kosong” di antara impitan kebiasaan-kebiasaan yang telah lama mengendap dan hampir tidak pernah tersentuh.

Satu di antara kegiatan-kegiatan yang pelaksanaannya beralih ke metode virtual di sebagian besar perguruan tinggi adalah pengenalan kehidupan kampus kepada mahasiswa baru.

Barangkali belum pernah ada yang berpikir untuk menghelat kegiatan ini di kediaman masing-masing dengan hanya terhubung melalui jaringan internet, sampai kehadiran Covid-19 mengubah semuanya.

Menyanggah pemahaman kolonial tentang betapa pengenalan kehidupan kampus adalah kegiatan kolosal yang paling ditunggu saban tahun, sebagai perjumpaan pertama antara mahasiswa baru dengan senior-seniornya, sekaligus medium repetisi setiap peristiwa yang dialami mahasiswa-mahasiswa sebelumnya di tempat yang sama.

Pemahaman yang juga mengasumsikan bahwa pengenalan kehidupan kampus ialah acara yang megah, yang ramai bukan main, yang heboh luar biasa, yang sarat akan perpeloncoan, hingga yang pelaksanaannya selalu persis setiap tahun tersebut, merupakan pemahaman dengan standar-standar yang terlanjur lumrah dan berhasil bertahan selama ini sebagai peninggalan.

Ia sama sebangun dengan warisan terpelihara dari generasi ke generasi, yang jika standar-standarnya tidak terpenuhi, maka akan dipandang sebagai sesuatu yang inkonvensional.

Pengenalan kehidupan kampus secara daring telah serta-merta menolak standar-standar itu, dan dengan segera membuka peluang adanya pemahaman baru yang dibentuk oleh kesadaran objektif, bukannya diterima begitu saja.

Standar yang dibangun dengan supremasi, telah menghalangi penilaian yang adil terhadap standar itu sendiri. Pada setiap pelaksanaan pengenalan kehidupan kampus, keramaian dipandang sebagai target yang harus dicapai oleh panitia pelaksana.

Kejenakaan dilihat sebagai aksi yang wajib diperagakan mahasiswa baru di depan senior-seniornya. Perpeloncoan dan perundungan dianggap sebagai perlakuan yang wajar dari seorang senior.

Tunduk dan patuh direkayasa sebagai sikap yang mesti ditunjukkan setiap mahasiswa baru.

Meski sulit diterima, semua itu dipertahankan dengan satu alasan: ia adalah kebiasaan turun-temurun yang tak boleh dipermasalahkan.

Pengenalan kehidupan kampus secara daring adalah bentuk kesadaran yang disandarkan pada realitas, dengan standar yang konkret dan lebih masuk akal.

Peniadaan interaksi fisik dengan maksud menghindari paparan virus, sama sekali berbeda apabila disandingkan dengan pemahaman kolonial mengenai keramaian.

Komparasi tersebut, setidaknya menjadi penjelasan bahwa setiap pemahaman, semapan bagaimanapun ia dibangun, adalah bersifat temporal sehingga tidak pernah benar-benar jauh dari probabilitas untuk ditangguhkan kapan saja.

Niscaya mengabadikannya sebagai pakem dengan menolak penilaian-penilaian terbuka terhadapnya, adalah wujud kepasrahan yang irasional dan mengingkari realitas.

Diskontinuitas Pemahaman Kolonial

Sebuah pemahaman selayaknya ditopang oleh standar-standar yang akseptabel dan tidak sedikit pun terpisah dari respons publik.

Inklusivitas semacam itu, menjadikannya sebagai sebuah proses yang tidak pernah selesai, melainkan terus-menerus “menjadi”, sehingga proses tersebut telah sekaligus memastikan kelanggengan pemahaman itu sendiri sebab relevansinya yang terpelihara, bukannya tersisihkan seperti kekhawatiran mayoritas penganut paham kolonial.

Justru ia, apabila didiamkan dalam belenggu supremasi yang eksklusif, tidak akan berarti dan mencapai apa-apa kecuali pengakuan yang subjektif.

Praktik perundungan adalah sesuatu yang selalu dipandang sama di muka umum, tak peduli dilakukan oleh siapa pun, dengan cara apa pun.

Ia tak bedanya kecacatan dalam interaksi sosial, yang tak pernah sungguh-sungguh bisa diterima bahkan oleh pelaku-pelakunya sendiri.

Alangkah tak sedikit mahasiswa yang lebih memilih diam bersama ketidakterimaannya daripada harus menghadapi amarah sang senior, lalu di momentum berikutnya, barangkali juga dengan terpaksa, menurut untuk menggantikan dan berlaku sama seperti pendahulu-pendahulunya.

Demikianlah. Tak ada yang lebih dicemaskan di dalam lingkaran fanatik para pemuja senioritas ini selain kelangsungan diskursus yang proporsional.

Pengenalan kehidupan kampus, pada akhirnya, kehilangan substansi sebagaimana seharusnya sebuah pengenalan, namun lebih dekat dengan ajang pembalasan dan unjuk kekuasaan.

Pertunjukan serupa tak lagi tersedia setelah kemunculan Covid-19 memberikan alasan absolut agar kegiatan setahun sekali tersebut diselenggarakan secara virtual.

Walaupun berselisih konteks, urgensi pencegahan penyebaran virus sanggup mengatasi timpang kebiasaan turun temurun, dan menjadi penyelamat mahasiswa, tidak hanya dari infeksi virus tetapi juga praktik perundungan penganut pemahaman kolonial.

Silang pendapat mengenai penerapan metode daring, bagaimanapun tak bisa dimungkiri adanya, tetapi tak boleh dikecualikan sebagai hal-hal yang perlu disyukuri.

Setidaknya, dari perdebatan yang fair, kecacatan yang sebelumnya kita sebut sebagai peninggalan, bisa benar-benar dilupakan dan tergantikan dengan standar-standar yang lebih objektif, tentang bagaimana seharusnya pengenalan kehidupan kampus digelar, atau seperti apa semestinya senioritas ditunjukkan.

Tabik. Semoga hal-hal baik senantiasa meliputi kita semua.

Oleh: Rifki Taufik Haluti

[email protected]