READ.ID – Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) pada Jumat (16/10/2026) setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun tajam di awal perdagangan. Tekanan jual yang masif membuat indeks merosot 8,01 persen ke level 5.393,92, dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level 5.863,78.
Pembekuan sementara sistem perdagangan diberlakukan pada pukul 08.58.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Perdagangan kemudian kembali dibuka pada pukul 09.28.00 waktu JATS tanpa ada perubahan jadwal perdagangan. Langkah ini diambil karena penurunan IHSG telah menyentuh ambang batas 8 persen.
“BEI melakukan upaya ini dalam rangka menjaga perdagangan saham agar senantiasa teratur, wajar, dan efisien sesuai dengan Peraturan Nomor II-A tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dan diatur lebih lanjut pada Surat Keputusan Direksi BEI nomor Kep-00002/BEI/04-2025,” tulis BEI dalam pernyataannya.
Sesuai ketentuan bursa, trading halt selama 30 menit diberlakukan apabila IHSG turun lebih dari 8 persen. Jika penurunan berlanjut hingga lebih dari 15 persen, bursa dapat kembali menghentikan perdagangan selama 30 menit.
Sementara itu, penurunan lanjutan lebih dari 20 persen dapat memicu penghentian perdagangan hingga akhir sesi, atau bahkan lebih dari satu sesi, setelah mendapat persetujuan atau perintah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Anjloknya pasar saham domestik terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor atas usulan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mengubah klasifikasi pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market). Rencana evaluasi tersebut memicu aksi lepas saham oleh sejumlah pemodal.
MSCI menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia.
Lembaga penyedia indeks global itu meminta bukti perbaikan yang nyata dan berkelanjutan sebelum menetapkan keputusan akhir atas usulan reklasifikasi tersebut.
Usulan MSCI berpotensi memengaruhi keputusan investor global yang menjadikan indeks MSCI sebagai acuan investasi. Meski demikian, besarnya dampak terhadap arus modal asing masih akan bergantung pada keputusan final MSCI serta respons para pengelola dana internasional.
Tekanan terhadap IHSG sebenarnya sudah terlihat sehari sebelumnya. Pada perdagangan Kamis (15/10/2026), IHSG ditutup melemah 79,24 poin atau 1,33 persen ke level 5.863,78. Seluruh 11 sektor dalam indeks sektoral IDX-IC kompak memerah, dengan sektor energi mencatat koreksi terdalam sebesar 5,88 persen.
Pelemahan tersebut berlangsung di tengah tekanan bursa saham Asia serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve Amerika Serikat, menyusul data inflasi AS yang tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar. Kondisi ekonomi global ini turut memperberat laju indeks domestik.











