TanggalApril 11, 2021

Maruits Datu Binangkal (Pugu Pugu) dalam Catatan Idris Antogia

Maurits Datu Binagkal

READ.ID – Maurits Datu Binangkal adalah sebuah nama yang tak asing didengar dan sering diperbincangkan oleh masyarakat Kaidipang/Keidupa, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Bahkan, diperbincangkan juga di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR).

Dia adalah sosok yang sangat dihormati dan diagungkan. Bukan hanya karena sebagai leluhur dan cikal bakal keberadaan di tanah Keidupa, tetapi sosok pribadinya sudah tercatat dalam lembar sejarah.

Catatan itu bukan hanya di Nusantara tapi juga museum Dunia seperti di Negeri Belanda dan Jerman (Sammlungen den Staatbibliothek zu Berlin, SSB).

Keidupa dan beberapa wilayah lain di Kabupaten Bolmut merupakan wilayah bekas kerajaan. Tatanan kehidupan berbudaya, sudah mengakar dan berkembang di lingkungan masyarakat.

Adat Istiadat bukan hanya menjadi pelengkap. Namun, sebagai laku hidup yang membentuk tatakrama masyarakat Keidupa.

Salah satu warga Kaidipang, Idirs Antogia (56) yang juga merupak kalangan bangsawan Keidupa menerangkan Maruits Datu Binangkal dikenal juga dengan nama Pugu Pugu. Dia juga merupakan sosok yang populer.

Bukan hanya di kalangan masyarakat Bolmut. Namun, dikenal juga di berbagai penjuru Dunia.

“Maurits Datu Binangkal atau dikenal dengan Nama Pugu Pugu, telah disebutkan dalam Jurnal Gubernur Jenderal Robertus Padtbrugge (HET JOURNAAL van PADTBRUGGE REIS NAAR NOORD – CELEBES EN DE NOORDEREILANDEN) 16 Aug – 23 Dec 1677 nama Raja Maurits Datu Binangkal disebut berulang dihampir disemua lembar lembar jurnal tersebut,” sebutnya.

Dikajelaskannya bahwa Pugu Pugu sudah berinteraksi dengan dunia luar dibuktikan dengan beberapa hal.

Misalnya, lawatannya ke Kerajaan Gowa (Sulsel). Kemudian pertemuan Raja Binangkal dengan seorang Pendeta dari Negeri Belanda pada tahun 1675 di Manado.

Pada kesempatan itu, ia menyampaikan keinginannya untuk menjadi penganut Agama Nasrani.

Berikutnya juga perkawinan Raja Binangkal dengan Putri dari Kerajaan Limutung (Limboto) yang bernama Boki Tohomiong Oli’i dan salah satu anak kandungnya kawin seorang putri dari Buol yang bernama Leti Hukum.

Dari sisi tradisi, jelas Idris, diberikan rasa hormat yang tinggi pada sosok Raja Maurits Datu Binangkal secara turun temurun.

“Menyebut namanya saja dalam bahasa adat ‘Dio Moko Husongo’. Nama beliau oleh anak keturunan, amat jarang diambil sebagai nama baru ini, dikarenakan keseganan dan rasa hormat kepada sosok beliau. Ini dibuktikan dalam silsilah keluarga kami, amat jarang dijumpai nama Maurits, Binagkal maupun Pugu Pugu,” ucapnya.

Dikatakannya, Raja Maurits Datu Binangkal bukan sosok sembarangan. Jika memperhatikan dengan seksama, dalam Kompleks Pemakaman, kurang lebih 12 makam dan satu satunya makam yang berdiri kokoh hanyalah makam Maruits Datu Binangkal

Sementara makam lainnya berantakan rata dengan tanah. Bahkan, ada beberapa yang sudah terbenam ke dalam tanah.

“Diceritakan secara turun temurun dari orang orang tua kami beliau dimakamkan sebagai layaknya penganut Agama Nasrani maka bersama Jasad raja Binangkal juga turut dikuburkan dua buah Baningo (sejenis guci yang tertutup) yang berisi alat/benda beliau. Itu masing masing satu diletakkan di bagian atas/kepala dan yang satunya dibagian kaki, juga di kepala dialaskan sejenis piring keramik begitu juga bagian bokong dan diatas simpul tangan ditutup juga sejenis piring keramik, disisi badan raja Binangkal topi kebesaran dan sebilah keris,” ujarnya.

Menurutnya, dalam cerita-cerita turun temurun disampaikan pula ada tangan-tangan jahil dan iseng untuk mencoba mendapati benda tersebut. Tapi usaha itu selalu gagal.

Usaha untuk membongkar makam raja Binangkal, kata Idris Antogia, digagalkan dengan peristiwa mistis berupa makam bergetar dan kilatan api.

“Pernah juga seseorang yang mempunyai keilmuan tertentu melakukan ritual tertentu dan ingin berinteraksi dengan beliau tapi gagal dikarenakan ditengah ritual itu secara tiba-tiba dilokasi makam bertiup angin kencang, dia menggambarkan sehingga pucuk-pucuk pohon kelapa saling bersentuhan,” terangnya.

Dirinya menerangkan ketika berada di lokasi makam, biasanya jika hari semakin sore, mencium bau parfum/ wangian yang terasa sejuk dan dingin.

(SVG)