Menakar Presensi PPMIBU: Candradimuka atau Event Organizer?

READ.ID – Satu dekade Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia Bolaang Mongondow Utara (PPMIBU), waktunya untuk menakar sampai di mana organisasi daerah (Organda) ini menjadi sebaik-baiknya Candradimuka.

pahlawan

Sungguh bukan waktu yang singkat, terlalu banyak sentakan terjadi saat berdirinya Organda ini. Terebih hantaman demi hantaman itu, datang dari rival sejawat yang ikut mengisi narasi romantika sejarahnya.

Kurang lebih satu dasawarsa wadah tersebut ada, puluhan gerakan telah berkumandang di bawah panjinya, mulai dari revolusi paradigma, counter narasi, hingga parlemen jalanan terus menjadi magnum opus keberadaannya.

Ikhtiar ini tentunya bukan tanpa sebab. Ada hak puluhan ribu masyarakat Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) yang menjadi alasan kenapa PPMIBU masih terus bergerak dinamis. Pengawalan pembangunan di tanah adat Bolmut menjadi hal yang sangat esensial, bahkan sebagai roh pergerakan Organda ini.

Seperti di beberapa artikel sebelumnya, acap kali saya menjajakan etalase naratif tentang arah gerak PPMIBU, pun demikian dengan nilai identitas perjuangannya, serta entitas eksistensi yang sudah dilewati oleh Organda yang punya tagline Analisis, Riset dan Aksi ini.

Nihil rasanya jika di perayaan kesekian kalinya ini, kita tidak membahas sisi kelamnya. Sebab setiap gerakan akan mengandung dan mengundang kontroversi. Tidak semua yang merasakannya, hanya sebagian kecil saja, kalaupun dia jeli.

Di era disrupsi sekarang ini, hampir segala dogma diakusisi. Revolusi bahkan transformasi ikut mewarnai segala bentuk gerak, bahkan dalam hal kecil sekalipun itu bisa berubah 360 derajat. Begitu pula dengan ikhtiar sebuah organisasi.

Perubahan ini tentunya tidak hanya memberikan dampak negatif bagi sebuah wadah, namun juga menuai dampak positif. Tugas kita, sejalan dengan moto PPMIBU, yakni mengalisis dampak mana yang berpotensi mengudara.

Faktornya pun, diakibatkan dari dua hal, intern dan ekstern. Hemat saya, lokus yang potensial mengakibatkan perubahan dalam sebuah wadah tersebut adalah faktor intern, dibandingkan ekstern.

Mengapa demikian, sebab adanya sebuah perubahan sistem tidak lain dikarenakan pendominasian domain yang hanya bisa dilakukan dari dalam. Tanpa campur tangan dari luar.

Sebab sekuat apapun gempuran dari faktor ekstern, tidak akan mampu merubah sistemnya. Terkecuali lebih dulu, masuk untuk mengindoktrinasi bagi para pengendali sistem yang ikut andil dalam mengendali sistem tersebut.

Mimpi PPMIBU yang Hanya Sekadar Wacana

Hari ini, tepat di satu dasawarsa PPMIBU, saya ingin bilang bahwa kita telah gagal merawat kultur keilmuan. Kemerdekaan berpikir kita tidak nyata. Realitas ultima kita hanya sampai di hal-hal yang sifatnya seremonial. Sekali lagi, kita telah gagal!

Kita gagal merawat intelektual, apalagi dengan gerakan. Kita sibuk membubui sakralitas substansial PPMIBU dengan hal yang “tak bernas”. Ego intelektual berangsur-angsur runtuh tanpa bekas. Menyisakan tawa yang tak berarti sama sekali bagi kepentingan kolektif.

Keangkuhan melejit tinggi, padahal masih kosong tidak berisi. Perlu disadari bahwa, panji PPMIBU akan berdiri dengan paripurna jika berbanding lurus dengan intelektual para kadernya. Sebab hanya para kadernya yang bisa menghantarkan Organda ini terus berjaya.

Kita tertinggal jauh di belakang, ratusan bahkan ribuan wadah di luar sana saat ini bersaing dalam kaderisasi, gonta-ganti mazhab, bahkan terus mentransformasikan metode pengaderan agar tetap berdiri di jalur intelektualitas.

Sementara, terobosan apa yang sudah kita lakukan? Hanya sibuk melihat kalender, jika ada hari besar, ikut bikin kegiatan biar dikatakan eksis. Output-nya apa? Mabuk eksistensi tak akan merubah banyak hal. Perjuangan bukan untuk gagah-gagahan, kita layaknya Organda yang krisis identitas jika hanya mempertuhankan eksistensi.

Bukan hanya itu, kita pula ibarat tidak punya kelamin, tidak ada local wisdom yang baik untuk dipertontonkan, selain narasi yang tidak bernas. Sebab tentunya, jika yang wejangan yang PPMIBU berikan hanya sekadar kegiatan seremonial, tanpa manfaat jangka panjang bagi masyarakat Bolmut, lantas apa bedanya Organda ini dengan Event Organizer?

Kerancuan Pola Kaderisasi

Demikian pula dengan roh setiap organisasi. Kaderisasi menjadi roh dalam keberlangsungan organisasi itu sendiri. Maju mundurnya sebuah wadah, itu erat kaitannya dengan polarisasi pengaderan. Jika pengaderan hanya digelar untuk menggurkan kewajiban, lebih baik tidak dibuat sekalian.

Apa jadinya jika pengaderan dilangsungkan hanya untuk menjerumuskan para calon kader ke dalamnya, sementara para pengader pun tidak berisi? Pengaderan adalah gerbang reproduksi, yang diharapkan mencetak para “kader, bukan herder“.

Ilmu dan adab itu berjalan beriringan, dan tidak saling meninggalkan. Lantas jika yang lahir tak beradab, sudah berarti tepaut jauh dari kata berilmu. Jika ilmu dan adab tidak menyatu kepada yang dikader, lantas apa yang harus dibanggakan?

Ada kicauan yang senantiasa menjadi dogma bagi orang yang malas belajar, yakni dengan memberikan sekat antara “pemikir” dan “orang lapangan”. Ini adalah kerancuan selanjutnya yang marak ditemui dalam wadah PPMIBU.

Secara logis, kita semua sadar bahwa semua manusia pasti adalah pemikir, yang selalu berpikir dahulu sebelum bertindak, hanya tingkatan pemikirannya saja yang berbeda-beda.

Bahkan, saat kita mencoba untuk berhenti berpikir, maka secara tidak sadar, kita sesedang berpikir untuk berhenti berpikir. Ini bagian dari falase, atau kecacatan berlogika seseorang, dalam memetakan apa itu “pikiran”.

Kita hanya perlu memulai lagi, merekonstruksi nafas pengaderan yang diisi dengan diskursus yang berisi. Serta terus berdinamika dalam penalaran, agar tesis dan antitesis menemukan sentesisnya.

Ini sekadar bahan muhasabah bagi kita semua, khususnya kepada para kader PPMIBU. Intinya, narasi di atas, menurut saya bukan sebagai pembunuhan karakter kepada siapa pun, tetapi menjadi sarana kita mereijmajinasi kebali arah langkah kita berpijak. Seiring dengan tema perayaan satu dekade, yakni Menakar Presensi PPMIBU. Alles Gute Zum Geburtstage PPMIBU, teruslah melangit, namun dengan pijakan yang membumi!

———–

Penulis: Setiawan Adi Setyo
Ketua Umum PPMIBU Periode 2019-2020