Date:August 15, 2020

Organisasi Parlemen Muslim Internasional Belajar Demokrasi Ke Indonesia

READ.ID– Indonesia dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia memilih demokrasi sebagai bentuk pemerintahan. Karena itu, Organisasi Anggota Parlemen Muslim Internasional atau The International Islamic Forum (IIF) yang dipimpin Dr Abdul Majid dari Aljazair beserta sejumlah anggotanya berkunjung ke Indonesia untuk belajar berdemokrasi.

Kepada awak media usai diterima Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid di Ruang Delegasi Gedung Nusantara V Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (13/2) siang, Abdul Majid didampingi Ketua Fraksi PKS DPR RI, Jazuli Juwaini menyatakan keheranannya tentang Indonesia. “Indonesia yang majemuk, beraneka ragam suku, bahasa, budaya dan agama bisa hidup berdampingan dengan dama,” kata Abdul Majid.

Kami, kata Adul Majid melalui penterjemah, belajar bagaimana bisa hidup berdampingan seperti yang dilakukan Indonesia. “IIF menggelar acara di Indonesia dan juga mengenalkan IIF ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.”

Karena itu, Abdul Majid memeuji proses demokrasi dan politik Indonesia, yang berlangsung damai dan aman. Padahal Indonesia negara besar terdiri dari banyak agama, suku, bahasa, budaya, dan seterusnya. “Syukron, terima kasih Indonesia,” sahut Abdul Majid dengan seyum.

Wakil Ketua IFF, H. Jazuli Juwani berharap IIF ini terus melakukan silaturahmi dengan parlemen di seluruh dunia. sekaligus mengembangkan Islam rahmatan lil-alamin, meski anggota parlelemennya mayoritas non muslim. Seperti di China, Rusia, Amerika, bahkan ke tingkat PBB.

“Kita harus jalin persaudaraan dengan semua parlemen di dunia, bahwa kita sepakat menumpas ketidakadilan, ketertindasan, diskriminasi, intoleransi, dan untuk demokrasi yang lebih berkualitas,” pungkasnya. IIF menggelar kegiatan di Indonesia sejak 13 – 16 Februari 2020.

Sebelumnya, Hidayat Nur Wahid mengatakan, anggota IIF satu semangat untuk memperjuangkan kualitas demokrasi, keadilan, kemanusiaan, perdamaian di Palestina, Rohingya dan lain-lain.

Dan, perjuangan itu akan lebih efektif jika dilakukan melalui parlemen, melalui sebuah UU, merubah kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik secara luas. Seperti pendidikan tak saja untuk mecerdaskan, melainkan membentuk karakter, iman, takwa dan akhlak yang baik.

“Yang terpenting lagi bahwa Islam itu tidak anti demokrasi, menyintai kedamaian, keadilan, kemanusiaan, menjunjung tinggi HAM, kebebasan berpendapat, dan pasti menolak ISIS. Kita ingin dunia memahami itu,” jelas Wakil Ketua Majelis Syuro PKS itu.

( Akhir Rasyid Tanjung/read.id)