Puasa di Era Post Truth

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid

Akhir-akhir ini, tradisi keberislaman dan keberagamaan kita, “tampak”-nya mengalami kemunduran. Lebih-lebih era “post truth” menguyur bumi pertiwi. Munculnya pertanyaan “mengapa”, membuat penulis teringat buku Amir Syakib Arsalan tahun 1940, sastrawan asal Libanon yang berjudul “Limâdza Ta’akhkhar al-Muslimûn wa Limâdza Taqaddama Ghairuhum” (Kenapa Umat Islam Terbelakang dan Kenapa Umat Lain Maju). Yang semula buku ini merupakan ulasan bernasnya di Majalah al-Mannar tahun 1936, yang dipimpin langsung oleh mufassir al-Qur’an, Rasyid Ridha.

Faktanya, mula-mula kaum Muslimin diperintahan untuk berjihad mencari keridaan-Nya, belakangan yang tampak sekedar “penampakan-penampakan” simbol agama bahkan seringkali mengabaikan substansi ajaran-Nya. Pemahaman baik atas ayat “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Qs.al-‘Ankabût [29]: 69) perlu untuk menjadi spirit juga dalam beragama. Kesatuan berjihad—bukan dalam pengertian “peperangan”—dengan perbuatan baik sangat ditekankan dalam agama. Namun umumnya, jihadnya diambil, sedangkan pola berjihadnya diabaikan.

Benar adanya apa yang dikatakan oleh Muhammad Abduh ketika menjelaskan kata “amȃniyya” dalam Qs. al-Baqarah [2]: 78 dengan menggunakan makna “pengelamunan-pengelamunan.” Pengelamunan adalah proses pembacaan atas kitab suci yang tidak dipangku dengan hidayah, tidak mampu mengerti makna dari bacaannya, segala sesuatu yang dinyatakannya bukan sesuai kehendak-Nya melainkan kehendak nafsunya.

Tak bisa dipungkiri banyak persoalan primer yang tidak tuntas-tuntas di ranah publik. Tidak maju-majunya kita dalam beragama dan selalu mempeributkan hal-hal sepele, setidaknya disebabkan dua faktor penting: pertama, karena tingkat literasi yang cukup rendah membuat kita malas menkonsumsi asupan-asupan bergizi. Baik dalam berdiskusi, mengobrol maupun bermedia sosial. Akhirnya, berita-berita tak berdasar dikonsumsi oleh orang-orang baik yang bodoh. Disinilah tampil pula orang-orang pintar yang kehilangan tanggungjawab atas ilmunya. Ia memproduksi berita hanya berorientasi keuntungan semata. Dalam bahasa lugasnya, berita hoak diproduksi oleh orang pintar yang tidak bertanggungjawab dan dikonsumsi oleh orang baik yang bodoh. Tentunya disini tingkat Pendidikan atau status sosial tidak menjadi jaminan hadirnya kebijaksanaan dalam bermedia sosial.

Kedua, Lorong-lorong fanatisme buta masih tidak terkelola dengan baik. Fanatisme terhadap hal-hal baik itu bagus, tapi lebih baik lagi kalau mengelolanya dengan penuh kebijaksanaan. Kita diciptakan dua mata dan dua telinga, bukan dua mata satu telinga atau sebaliknya. Fanatisme yang tak dikelola dengan baik menjadi akar utama kebrutalan dalam beragama tercipta.

Disinilah letak kasih sayang Allah kepada kita. Walaupun hidup ini telah “mempermainkan” ayat-ayat, ajaran dan agama-Nya, tapi Allah sama sekali tidak membuang “muka”-Nya untuk tetap memberikan nikmat kepada kita semua. Hanya terkadang kita tidak merasakan bahwa yang dilakukan tidak baik di mata Allah. Selalu saja timbul perasaan, apa yang kita jalani benar. Lebih-lebih jika ditopang oleh dalil-dalil Fikih yang hanya memiliki orientasi salah-benar, hitam-putih dan halal-haram dan lain sebagainya.

Salah satu nikmat-Nya itu, saya dan Anda bisa menjalankan puasa ramadan dengan penuh kegembiraan. Tidak saja sebagai stabilisator fisik (badan), penggemblengan bagi nafsu yang sering menabrak syari’at-syari’at Allah dan penggemblengan dalam memperoleh jabatan, tapi juga sebagai wadah agar pikiran kita memiliki waktu untuk beristirahat. Jadi pikiran kita tidak boleh mengalami ketegangan yang melebihi enam jam. Rasulullah SAW mengisyaratkan kalau kamu dalam keadaan gelisah atau tegang, maka berwudhu’lah. Kalau masih tetap gelisah, maka shalatlah dua raka’at dan kalau masih juga, maka berpuasalah. Maka puasa merupakan benteng dan obat stress atau ketegangan pikiran adalah puasa.

Hidup di era “post truth” tidak saja menuntut seseorang untuk mengamalkan ayat al-Qur’an—sebagaimana umumnya penceramah mengutipnya—“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Qs. Al-Baqarah [2]: 183) untuk berpuasa penuh selama ramadan. Tapi juga berpuasa sebagaimana pesan esoterik dalam ayat, “Aku sudah berjanji kepada Allah Yang Mahakasih untuk melakukan shaum.” (Qs. Maryam [19]: 26).

Kedua istilah dalam ayat di atas berasal dari akar kata sama, yakni: “shôma—yashûmu—shiyâman” dan “shauman”. Namun dalam literatur-literatur klasik bahwa ayat dalam surah al-Baqarah itu hanya sekedar berbicara tentang puasa dalam makna “shiyam” pada umumnya. Dimana seseorang hanya menjalankan puasa dalam perspektif ilmu Fikih yang meliputi rukun, syarat sah dan syarat wajibnya.

Sedangkan dalam surah Maryam memiliki pembahasan mendalam yang melampaui puasa perspektif Ilmu Fikih. Pada surah Maryam itu Allah menggunakan redaksi “shaum” untuk memberitakan puasanya Siti Maryam, seorang perempuan suci yang dari rahimnya lahir Nabi Isa AS. Dimana Siti Maryam menjalankan puasa fisik dan non-fisik, yang hidupnya berharap keridaan-Nya semata.

Disini Siti Maryam berpuasa untuk mengendalikan diri dari kondisi dan situasi masyarakat sekitarnya. Tidak berbicaranya beliau agar menghindari fitnah-fitnah di sana-sini. Mengapa? Siti Maryam seorang perempuan suci yang hamil tanpa suami. Sedangkan makna “shiyam” hanya berkutat dalam ruang internal. Seseorang berpuasa untuk menahan gangguan dan godaan terkait perut dan seksnya. Maka perbedaan keduanya terletak pada sisi internal dan eksternal.

Jika saja, setiap dari kita mau menjalankan puasa dalam arti puasanya Siti Maryam, maka tidak saja kita bisa mencapai ketakwaan seperti yang dijanjikan Nabi Muhammad SAW, tapi mampu mengurangi kegaduhan yang disebabkan ikut sertanya orang-orang yang tidak mengerti tapi seperti mengerti keadaan.

Di dunia ini ada empat golongan manusia menurut Imam Ghazali, yaitu: “seseorang yang tahu dan dia tahu kalau dirinya tahu” (rojulun yadrî wa yadrî annahu yadrî). Dia mengerti bahwa dirinya memiliki ilmu dan menggunakan ilmu itu untuk hal-hal maslahat dan manfaat; “seseorang yang tahu dan dia tidak tahu kalau dirinya tahu” (rajulun yadrî wa lâ yadrî annahu yadrî). Ini jenis manusia yang sebenarnya dia memiliki ilmu tapi tidak sadar kalau dirinya pintar atau cerdas. Maka orang disekelilingnya wajib menyadarkannya, agar terbangunkan rasa kesadarannya.
“Seseorang yang tidak tahu dan dia sadar kalau dirinya tidak tahu” (rajulun lâ yadrî wa yadrî annahu yadrî). Lagi-lagi jenis manusia ini masih dikategorikan baik. Dia masih merasa bahwa dirinya memiliki kekurangan dan dia belajar dengan giat; dan terakhir paling buruk adalah “seseorang yang tidak tahu dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu” (rajulun lâ yadrî wa lâ yadrî annahu lâ yadrî). Ini bahasa “gaul”-nya jenis manusia “sok tau” dan selalu merasa memiliki ilmu. Di pagi hari menjeburkan diri di sungai, di sore hari ia merasa bahwa dirinya telah menjeburkan diri di lautan keilmuwan. Dan jenis terakhir inilah yang banyak kita dapati di era kekaburan: memilih antara kebenaran dan keburukan.

Kondisi era pasca kebenaran ini menjadikan kita semua untuk tidak saja menjaga sikap, tapi menjaga ucapan. Disinilah pentingnya ayat al-Qur’an, “mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya” (Qs. Al-Nabâ’ [78]: 38). Sebuah ayat yang selalu dibaca oleh KH. Hasyim Muzadi dalam setiap ingin memulai aktivitas berbicaranya. Beliau berharap agar apa-apa yang keluar dari mulut adalah apa-apa yang telah diridhai-Nya. Memang tanpa kita sadari, saat diri bercuap-cuap penuh semangat, di sana ada kata-kata yang menyempil lagi buruk dan bisa menjadi batu sandung untuk diri pribadi. Maka ayat dalam surah al-Nabâ’ itu bisa menjadi ritual kita yang hidup di era pasca kebenaran.

Bukan dalam artian menghentikan kreativitas dan inovativitas, tetapi bekerja dan bersosial penuh kewaspadaan dan kehati-hatian. Kiranya tidak perlu diungkapkan, maka jangan diungkapkan. Mengapa? Era ini di mana setiap tindakan, baik salah maupun benar, bisa dianggap kebenaran yang relevan. Tanpa pengelolaan yang baik, ini bisa menjadi awal dari kehancuran bangsa kita. Kebenaran dan keburukan tidak tampak jelas. Ditambah satu sama lain saling menganggap diri paling benar, paling moderat, paling Islami dan lain sebagainya. Lalu siapa yang salah?

Yang salah adalah yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya padahal dirinya telah berpuasa dan melakukan ibadah lainnya. Penulis teringat pada zaman klasik. Ada orang-orang yang tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya, sampai-sampai langsung menuduh Nabi Muhammad SAW. Dialah Dzul Khuwaisirah al-Tamimi yang ada saat pembagian harta rampasan perang dari Perang Hunain. Tiba-tiba ia berujar, “berlaku adillah, Hai Muhammad. Sebab engkau tidak berlaku adil”. Rasulullah pun sepintas menjawab, “Celakalah engkau, siapakah yang akan bertindak adil manakala aku sendiri tidak berbuat adil. Sungguh aku pasti celaka dan merugi jika tidak melakukannya”.

Kondisi di masa Nabi itu terjadi kembali di negeri tercinta kita ini. Kondisi di mana ketidakpercayaan diungkapkan dengan cara-cara yang tidak santun dan etis, justru bukan memberikan bimbingan bagi yang salah tapi justru menghujatnya penuh wajah marah lagi berhati keras. Akhirnya, yang salah dan benar sama-sama menjadi buruk karena sama-sama tidak bisa mengendalikan nafsunya: yang satu tidak mampu membalas fitnah dengan tindakan yang lebih baik dan yang tidak suka tidak menyampaikan pendapatnya penuh kasih sayang dan kelemahlembutan.

Semoga melalui puasa Ramadan ala Siti Maryam, kita belajar memanusiakan manusia dan mampu menjaga lidah kita dari sergapan maut duniawi, yaitu jeruji penjara yang siap menanti kita kapan saja. Selamat berbuka puasa. []

Related Post

TRENDING TOPIC

TRENDING POST