Satu Abad RSUD Aloei Saboe, Wawali Indra Gobel: Bukan Sekadar Sejarah, Tapi Warisan Pengabdian

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Perjalanan 100 tahun RSUD Prof. Dr. Haji Aloei Saboe bukan sekadar catatan sejarah sebuah institusi kesehatan, melainkan warisan pengabdian yang perlu dijaga dan dipelajari oleh generasi mendatang.

Hal ini disampaikan Wakil Wali Kota , , saat membuka Festival Literasi Kota Gorontalo 2026 yang dirangkaikan dengan bedah buku 100 Tahun RSU Aloei Saboe, Selasa (3/11/2026).

Menurut Wawali Indra, dokumentasi sejarah melalui buku memiliki peran penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat sekaligus menjadi sumber pembelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.

“Buku ini bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan dan pembelajaran bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang,” ujar Wawali Indra dalam sambutannya.

Ia menilai, momentum satu abad perjalanan menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan dan dedikasi para pendahulu dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, perlu diteruskan melalui peningkatan kualitas pelayanan, profesionalisme, dan semangat pengabdian.

Wawali Indra juga menekankan pentingnya peran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dalam menjaga dokumentasi perjalanan pemerintahan, termasuk sejarah, aset, serta berbagai dokumen penting daerah.

“Semua database, semua surat-menyurat kegiatan pemerintah dari sejarah pemerintah kota sampai saat ini, harusnya database-nya semuanya ada di arsip-arsip,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa literasi tidak terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan mengembangkan pengetahuan.

Maka dari itu, kegiatan bedah buku dinilai menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan gagasan.

Bedah buku tersebut menghadirkan penulis dr. Muhammad Isman Yusuf dan Basri Amin, serta Darwis Salim sebagai pembedah.

Kegiatan ini turut dihadiri kalangan akademisi, mahasiswa, pegiat literasi, tenaga kesehatan, serta perwakilan Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Universitas Nahdlatul Ulama Gorontalo (UNUGO), Poltekkes Kemenkes Gorontalo, dan komunitas.

Festival Literasi Kota Gorontalo 2026 mengusung tema “Menjaga Warisan Kata, Mewariskan Cinta, Menumbuhkan Kreativitas” dan berlangsung selama tiga hari, 3–5 November 2026.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi mendongeng serta pagelaran seni.

Wawali Indra berharap momentum ini tidak berhenti pada kegiatan mengenang sejarah, tetapi juga mendorong lahirnya lebih banyak karya yang mendokumentasikan perjalanan, budaya, dan pengetahuan lokal Kota Gorontalo.

“Saya berharap kegiatan seperti ini terus dikembangkan, sehingga semakin banyak sejarah, budaya, pengalaman, dan pengetahuan lokal yang didokumentasikan dalam bentuk buku dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya.

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60