Date:August 15, 2020

Sengkarut Bisnis BBM Bersubsidi dan Panjangnya Antrian di SPBU

Bisnis BBM Bersubsidi

READ.ID – Beberapa bulan terakhir ini, antrian panjang di semua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Gorontalo jadi pemandangan yang lazim dinikmati masyarakat, adakah bisnis BBM bersubsidi terselubung yang jadi penyebabnya ?

Atas kondisi ini, pemerintah Provinsi Gorontalo mengambil langkah tegas untuk menertibkan antrian panjang tersebut yang sebelumnya diawali dengan pertemuan antara Pemerintah Provinsi Gorontalo, Kepolisian, pihak Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas).

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie pada 21/11 melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah SPBU di Gorontalo dan mendapati antrian panjang di SPBU masih terjadi.

Sidak tersebut dilakukan, karena selama ini banyak laporan dari masyarakat yang masuk terkait antrian panjang kendaraan di SPBU dan adanya dugaan penimbunan BBM yang dilakukan oleh oknum tertentu.

Keesokan harinya, Jumat 22/11 digelar rapat gabungan antara Pemerintah Provinsi Gorontalo, Polda Gorontalo, Korem 133/Nani Wartabone, Pertamina dan Hiswana Migas.

Dalam pertemuan itu melahirkan beberapa kesimpulan diantaranya akan melakukan razia terkait modifikasi tangki kendaraan, serta adanya oknum-oknum yang bolak-balik mengantri di SPBU dan melakukan pengisian dalam jumlah banyak.

Langkah itu kemudian membuat para oknum penimbun BBM menjadi takut, sehingga beberapa hari terakhir, antrian panjang di SPBU mulai menghilang.

Antrian panjang ini terjadi bukan hanya untuk memperoleh Premium tapi juga Solar bersubsidi, yang jadi bisnis menggiurkan.

Ketua Hiswana Migas Muchlis Bumulo mengatakan bahwa, harga Solar non-subsidi sendiri dijual di SPBU dengan harga sekitar Rp10.400 sementara Solar bersubsidi dijual dengan harga sekitar Rp5.150.

“Harganya memang sangat berbeda jauh, inilah yang perlu sama-sama kita awasi,” kata Muchlis Bumulo.

Pernyataan ketua Hiswana Migas tersebut bermakna tersirat, perlunya pengawasan yang artinya ada peluang bisnis BBM Bersubsidi, apakah ada upaya bagi oknum tertentu untuk mencari keuntungan dengan membeli Solar bersubsidi dijual kembali kepada konsumen yang seharusnya menggunakan BBM jenis solar non-subsidi dalam jumlah banyak setiap harinya ?

Jika demikian tentu selisih harga Solar bersubsidi dengan Solar Nonsubsidi tentu menjadi satu alasan penting kenapa para oknum ini terus memburu Solar bersubsidi.

Pemerintah telah membuat regulasi dimana Solar bersubsidi hanya digunakan untuk rumah tangga, usaha mikro, nelayan, pertanian, transportasi umum dan pelayanan umum lainnya.

Pemerintah, melalui Pertamina telah mengatur berapa kuota kebutuhan BBM bersubsidi untuk setiap daerah, stok kuota tersebut tentu sudah diperhitungkan pada waktu-waktu tertentu seperti arus mudik lebaran setiap tahunnya.

Kalau kemudian BBM bersubsidi ini digunakan oleh mereka yang berhak sebagaimana perhitungan dan porsi yang telah ditentukan pemerintah, pertanyaannya apakah akan terjadi antrian panjang di SPBU ?

Beberapa hari terakhir ini kita mendapati hampir di semua SPBU di Gorontalo sudah tidak ada lagi antrian panjang.

Jika antrian panjang di SPBU yang terjadi beberapa bulan terakhir ini adalah benar-benar kebutuhan masyarakat yang berhak menggunakan BBM bersubsidi, tentu antrian panjang BBM tersebut masih terlihat hingga saat ini karena memang yang mengantri adalah mereka yang berhak menggunakan BBM bersubsidi dan tidak terpengaruh dengan “gertakan” pemerintah.

Namun sejak pemerintah Provinsi Gorontalo bersama TNI-Polri mengambil langkah tegas mengatasi antrian di SPBU, antrian panjang itu sudah tidak ada lagi.

Hal tersebut bisa diartikan, ada ketakutan dari para oknum penimbun BBM bersubsidi untuk melakukan pembelian secara berulang-ulang, sebab mereka sadar hal itu adalah tindakan melanggar hukum meskipun bisnis BBM Bersubsidi sangat menggiurkan.

Jika ini menjadi bisnis yang menggiurkan, pertanyaan selanjutnya kemana Solar bersubsidi itu dijual ?

Pemerintah sendiri telah membuat regulasi siapa yang harus menggunakan Solar Non-subsidi atau solar Industri. Apakah para oknum tersebut menjual Solar bersubsidi tadi kepada Industri atau perusahaan yang seharusnya menggunakan BBM Industri ? (RL/Read.id)