Sepotong Taman Surga

Muhammad Makmun Rasyid

Dalam sepotong surga, ditampakkan pula sepotong kolam yang berair tenang, sehingga semua manusia melihat dirinya secara jelas tanpa sekat dan tirai. Disitu, semua dosa-dosa kita tampak jelas. Baik perbuatan dosa yang melahirkan kegelisahan; perbuatan dosa yang melahirkan malu tapi tidak gelisah; perbuatan dosa yang tanpa rasa malu, baik kepada Allah maupun manusia; dan perbuatan dosa yang bangga dengan dosanya. Semuanya tak kuasa menghapus kecuali atas izin-Nya. Kekurangan dan kealpaan tampak jelas pula, layaknya kita sedang berada di depan cermin yang bersih. Tempat itu, tempat paling jernih dan suci.

Dia adalah Ramadhan yang kehadirannya dinanti-nantikan penduduk bumi. Satu-satunya bulan yang namanya tertulis dalam Qur’an. Memang, al-Qur’an menginformasikan bahwa setahun terdapat 12 bulan (inna iddata al-Syuhûr ‘indallâh istnâ ‘asyara syahran), yang empat bulannya dimuliakan (minhâ arba’atun hurum), tapi tidak disebutkan kecuali Ramadhan (Qs. Al-Baqarah [2]: 185). Disinilah, siapa saja yang menjumpai, maka sapalah ia dengan wajah penuh kegembiraan; Siapa saja yang merengkuhnya, maka akan direngkuh olehnya; siapa saja yang bercinta dengannya, maka kucuran pahala tiada henti akan menghampirinya.

Sepotong tamang surga yang diteteskan Allah ke muka bumi ini, mensyaratkan tiga hal: Ramadhan, puasa dan (membaca) al-Qur’an. Menjumpai Ramadhan tanpa menyentuh puasa dan al-Qur’an bagaikan keindahan malam tanpa kehadiran sinar rembulan. Mengejar Ramadhan tanpa menyentuh puasa dan al-Qur’an bagaikan sepasang kekasih menikah tanpa berbulan madu. Keindahan khayali (khayalan) akan menyilaukan keindahan hakiki (sebenarnya) bagi mereka yang sekedar beribadah secara formalitas saja tanpa memaknainya, menghayatiya, dan mengamalkannya.

Pada bulan ini, Allah tak mengizinkan malaikatnya untuk mencatat layaknya aktivitas ibadah di luar Ramadhan. Sebab, “puasa itu untuk Allah (al-Shaûm lî)”. Disinilah penghambaan sejati terasa. Menanggalkan segala macam individualisme yang mengakar pada egoisme (ke-AKU-an) menunju kebersamaan. Tak ada kekuatan dan daya untuk melawan ke-Maha Kuasaannya. Ketersingkapan tabir ini pulalah membuat manusia berkesempatan menyucikan jiwanya sebersih-bersihnya dan keluar dari Ramadhan penuh sukacita. Semua bekal yang didapatkan pada bulan Ramadhan membuat seseorang salih secara spiritual, tapi kesalihan spiritual itu harus tembus menjadi kesalihan sosial.

Menembus sampai menjadi kesalihan sosial itu, harus melewati pemaknaan mendalam akan sebuah ayat dalam al-Qur’an (Lih. Qs. Al-Ahzâb [33]: 35, sebagai bentuk penggemblengan sejati selama Ramadhan dan keluar menjadi manusia pemenang.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim” dalam berpuasa—di bulan Ramadhan—harus menunjukkan ibadah yang maksimal (kâffah). Pelatihan otentik seorang manusia yang langsung dipantau Allah dan Allah sendiri yang menilainya. Dalam hal ibadah muamalah, seseorang harus menjadi pribadi yang berbuat baik tanpa memperlihatkan kebaikan itu pada orang lain. Dalam hal ibadah wajib, (misalnya) beribadah wajib sehari lima tanpa memangkasnya menjadi lima hari sekali.

Tidak ada agama dan kepercayaan, tanpa adanya sebuah kewajiban kepada pemeluknya untuk beribadah. Baik ibadah yang sudah ditetapkan langsung oleh Allah melalui lisan Nabi Muhammad, maupun ibadah tambahan yang dibuat oleh manusia—yang tidak bertentangan dengan syari’at Nabi Muhammad SAW tersebut. Sesuai dengan perjanjian antara Nabi Adam dengan keturunannya, bahwa manusia mampu mengemban amanah sebagai pemakmur bumi, dan mengendalikan pelbagai kekacauan yang akan terjadinya, meretas kebobrokan akhlak dan meningkatkan spitualitas kepada Allah SWT.

Segala perbuatan amal telah ditetapkan oleh-Nya dan tertulis dalam buku tebal (Qs. Al-Isra’ [17]: 13), termasuk perjanjian antara Allah dengan manusia, salah satunya yakni ibadah. Dia memberikan syarat kepada hambanya, yaitu: ibadah kepada-Nya (Qs. Al-Dzariyȃt [51]: 56). Tidak ada yang dapat membela dirinya kecuali amal sebagai bekal kehidupan kelaknya. Setiap prilaku dan perbuatan manusia selama di dunia sudah dicatat oleh malaikat-malaikat.

Disini hakikat “seakan-akan Aku (Allah) melihatmu” nyata terasa. Tak ada yang melihat dan mengetahui seseorang berpuasa ataukah tidak; beribadah ataukah tidak, kecuali Allah. Maka seyogyanya “laki-laki dan perempuan yang mukmin” mendasari dirinya dengan ideologi yang “sehat”. Sebuah ideologi yang dengannya seorang Mukmin tumbuh kembang dengan perdamaian, kelemahlembutan dan menebar pesan-pesan sejuk. Sebab, banyak Muslim yang ibadahnya bagus, tetapi hubungan sosialnya rusak ataupun sebaliknya.

Kesehatan itu akan membuat seseorang taat kepada Allah walaupun berada di kesunyian dan kegelapan malam. Menjadikan laki-laki dan perempuan baik hubungan sosialnya, tentu mudah, tetapi menjadikan “laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya dan laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya”, yang walaupun seorang perempuan ditinggalkan suaminya sendiri di rumah, ia tetap bisa menjaga kemaluan dan tangannya dari menahan segala macam godaan yang menerpanya. Begitu pula laki-laki, yang keluar kota dan daerah tanpa seorang istri, ia bisa menahan godaan nafsu yang telah memuncak sampai ia kembali ke hadapan istrinya. Maka Allah mendidik bahwa menjadi manusia taat tidak mengenal waktu dan tempat.

Ketaatan itu akan menghantarkan seseorang pula menjadi “laki-laki dan perempuan yang benar (jujur)”. Tugas manusia, ketika sudah jujur dalam merealisasikan cita-cita dan jujur dalam bertindak, dituntut untuk mengerti maqam-maqam dan tingakatan ruhaniyah, tangga-tangga makrifat. Kesemuannya, untuk pendidikan yang sempurna. Sayyid Ahmad Al-Badawy, ketika ditanya perjalanan menuju Allah, maka urutan pertama yang harus dilakukan adalah benar dan jujur, bersih hati, menepati janji (tidak munafik), menanggung tugas dan derita, dan menjaga kewajiban yang telah dan seharusnya dilakukan oleh manusia ketika di dunia.

Kejujuran yang sudah tumbuh menjadi karakter, maka akan menjadikan “laki-laki dan perempuan yang sabar”. Sabar saja tidak cukup, sabar harus ditopang oleh keimanan dan ketakwaan. Seseorang yang beriman, belum tentu bertakwa. Tapi, seseorang yang bertakwa, sudah pasti beriman. Sabar yang ditopang oleh keimanan akan menghasilkan tindakan yang memuaskan, sekaligus jadi wadah mendapatkan pahala. Sabar dalam ketaatan lebih berat dalam praktek, daripada sabar dalam berbuat maksiat. Kemaksiatan selalu menampilkan wajah-wajah yang selalu mempesona, terlebih manusia memiliki kecenderungan untuk mencintai isi alam semesta (Qs. Ali Imran [3]: 146). Sedangkan orang-orang yang sabar dalam ketaatan, selalu digoda oleh Allah SWT. Misalnya, ketaatan untuk berinfak. Maka setan pun menggoda manusia dengan berbagai cara, salah satu caranya dengan membuat manusia takut (Qs. Al-Baqarah [2]: 268). Maka sabar yang tidak ditopang oleh keimanan yang kuat, maka akan sangat mudah tergoda oleh rayuan setan.

Aspek-aspek penting itu sebagai sarana tahapan menjadi pribadi yang salih secara spiritual dan salih secara sosial. Dan memanfaatkan puasa Ramadhan dengan maksimal bukan ikut-ikutan semata yang tanpa meninggalkan bekas sama sekali. []

Related Post

TRENDING TOPIC

TRENDING POST