Tembakau Selopuro Miliki Karakter Khas Warisan Turun-temurun

READ.ID – Kecamatan Selopuro merupakan penghasil tembakau terbaik di Kabupaten Blitar. Tembakau yang berjuluk emas hijau ini memiliki karakter yang khas berbeda dengan tembakau daerah yang lain.

“Pertanian tembakau di Selopuro ini dari tahun ke tahun tetap ada, karena sudah menjadi budaya turun-temurun dengan jenis varietas lokal,” ungkap Kepala Seksi Tanaman Tahunan dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar, Anita Aris Rahayu, Rabu (8/9/2021).

Anita menerangkan, sementara ini untuk hasilnya tembakau lokal belum bisa masuk ke pabrik, karena belum ada kemitraan, masih ke pengepul atau tengkulak. Sehingga untuk harga masih tergantung kepada tengkulak.

“Kebetulan untuk pengepulnya Selopuro juga, jadi petani sendiri tidak repot untuk menjual hasilnya,” tutur Anita.

Menurut Anita, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Blitar, terus mengadakan sosialisasi terutama kepada petani tembakau.

“Seperti hari ini, kita mengadakan pelatihan pembuatan pestisida nabati kepada kelompok tani Makaryo Tani 2 di Desa Mandesan, dengan tujuan mengurangi biaya operasional,” ungkapnya.

Yang sebelumnya, kata Anita, menggunakan kimia, bisa diganti dengan pupuk nabati yang berbahan dasar dari daun daunan yang tumbuh di sekitar.

Dijelaskannya pula, pastinya itu akan memberi keuntungan bagi petani, karena tidak mengeluarkan biaya yang tinggi untuk membuat pestisida nabati, lain kalau petani tersebut memakai pupuk kimia.

“Kita harus optimis, ada masanya nanti tembakau lokal seperti tembakau Selopuro akan mendapatkan masa kejayaannya lagi,” harapnya.

Seluruh petani tembakau di Blitar, terangnya, akan dapat merasakan keuntungan yang menggembirakan berkat kerja kerasnya bersetia hidup bersama tembakau Selopuro.

Seperti dijelaskan oleh Jubaidi (65), petani tembakau asal Mandesan, dahulu Selopuro memang berjaya dalam pertanian tembakau, dan saat ini, sedikit demi sedikit terus berkembang.

“Untuk pertanian tembakau di Mandesan khususnya, masyarakatnya masih setia apalagi saat ini ada pestisida nabati, yang mana bisa mengurangi biaya dan pembuatan maupun bahannya mudah diperoleh di sekitar kita, sehingga petani menjadi semangat,” tandasnya.

(adv/kmf/didik)