READ.ID — Malam pembukaan Open Turnamen Catur Pohuwato Cup 2026 pada Kamis (8/5/2026) bukan sekadar seremonial biasa. Di bawah langit terbuka venue outdoor yang telah disiapkan panitia dengan sepenuh hati, Ketua Percasi Kabupaten Pohuwato, Abdul Hamid Sukoli, menyampaikan sambutan pembukaan yang sarat makna — mengalir hangat antara apresiasi mendalam, canda segar, hingga filosofi catur yang menyentuh.
Satu frasa latin bergema kuat di arena malam itu: Gens Una Sumus — kita semua bersaudara.
Sejak awal sambutannya, Abdul Hamid Sukoli langsung mengarahkan perhatian kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi mewujudkan turnamen berskala terbuka ini. Ia menegaskan bahwa dukungan material dari para sponsor dan mitra adalah tulang punggung terselenggaranya kegiatan, dan hal itu ia sampaikan dengan kejujuran yang justru menuai apresiasi.
“Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan secara material, karena moril tidak cukup. Jadi yang paling penting material, kita jujur-jujuran saja,” ujarnya, disambut tawa hangat hadirin.
Tak hanya para sponsor, Abdul Hamid juga secara khusus menyampaikan penghargaan kepada Wakil Bupati Pohuwato yang turut andil dalam menyukseskan kegiatan ini.
Keterlibatan pejabat daerah dalam mendukung turnamen catur dinilai sebagai wujud nyata sinergi antara pemerintah dan organisasi olahraga dalam membangun ekosistem prestasi di Pohuwato. Dukungan itu, bagi Abdul Hamid, bukan sekadar simbolis — melainkan cerminan semangat kebersamaan yang menjadi fondasi event ini.
Suasana semakin cair ketika Abdul Hamid menyinggung pantun yang sebelumnya dibacakan oleh Ketua Panitia dalam rangkaian acara pembukaan. Dengan gaya diplomatisnya, ia berkomentar bahwa pantun tersebut, meski disampaikan dengan penuh semangat, mungkin tidak akan masuk kategori terbaik jika dinilai oleh para ahli puisi.
Namun justru di sinilah kehangatan malam itu terasa — sebuah keakraban yang membuktikan bahwa Pohuwato Cup 2026 adalah pesta rakyat, bukan ajang formal yang kaku.
Puncak sambutan Abdul Hamid malam itu adalah ketika ia mengangkat filosofi catur yang telah berusia ratusan tahun: Gens Una Sumus — sebuah semboyan resmi Federasi Catur Dunia (FIDE) yang berarti “Kita Semua Satu Keluarga.” Ia mengaitkan semboyan tersebut dengan keputusan seluruh panitia dan pengurus untuk mengenakan seragam berwarna seragam sebagai simbol persatuan.
“Kami dipakaikan baju warna ini karena semangat persaudaraan. Kami rela. Inilah semangat Gens Una Sumus — semangat kita benar-benar bersaudara, we are one family, kita satu keluarga,” tuturnya penuh penghayatan.
Momen itu semakin menggelitik ketika Abdul Hamid menoleh ke arah sejumlah tokoh yang hadir, termasuk Ketua DPR, dan berkomentar soal porsi warna pada seragam masing-masing.
Dengan nada berkelakar, ia menyebut bahwa ada yang bagiannya hanya sedikit warna kuning, sedikit warna putih, apalagi warna lain — namun semua itu bukan soal besar kecilnya warna, melainkan soal besarnya semangat yang dibawa bersama. Tawa dan tepuk tangan kembali memenuhi arena, menciptakan suasana pembukaan yang terasa begitu manusiawi dan membumi.
Malam pembukaan itu pun menjadi penanda dimulainya tiga hari penuh persaingan 183 peserta dari berbagai daerah — mulai dari Banten, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Manado, Bolaang Mongondow, hingga berbagai kabupaten di Provinsi Gorontalo — yang memperebutkan total hadiah Rp 60.000.000.
Dengan semangat Gens Una Sumus sebagai landasannya, Pohuwato Cup 2026 resmi bergulir, membawa serta harapan besar bahwa persaudaraan yang terjalin di atas papan catur akan terus hidup jauh melampaui hari-hari pertandingan.












