TanggalApril 13, 2021

Marten Paparkan Strategi Pengembangan Kebudayaan di Gorontalo

Kebudayaan Gorontalo

READ.ID – Marten Taha  memapaparkan strategi pengembangan pengembangan kebudayaan di Kota Gorontalo.

Pemaparan dari Marten tersebut berlangsung pada kegiatan workshop kerja sama antara Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Senin (15/03/2021).

Pasalnya Wali Kota Gorontalo itu, dinobatkan sebagai keynote speaker dalam Workshop Strategi Pembangunan dan Penguatan Kebudayaan.

Penyelenggaraan pemerintahan, kata Marten, dari tahun ke tahun telah memberikan perubahan yang signifikan, secara menyeluruh untuk daerah Gorontalo, khusus Kota Gorontalo.

“Khusus dalam pemajuan kebudayaan, Pemerintah Kota Gorontalo mencoba menginisiasi kegiatan workshop pemajuan kebudayaan,” ujar Marten.

Menurut Marten, dalam kerangaka mencari solusi konstruktif terhadap isu-isu pembangunan budaya, perlu melalui bidang pendidikan.

“Sehingga saya sangat menaruh perhatian dan apresiasi maksimal, terhadap kegiatan ini,” ujar Marten.

Bagi Marten, merawaat dan membangun kearifan lokal merupakan upaya dan menjaga keutuhan Bangsa Indonesia. Identitas anak bangsa akan terus melekat, manakala kearifan lokal itu terus terjaga dan berkembang.

“Menggali kearifan Nenek Moyang yang hilang, termasuk salah satu bagian memperkuat kembali eksistensi kebangsaan. Sudah semestinya pengembangan kebudayaan dimulai dari pembangunan desa, dan pembangunan daerah di Indonesia. Dengan tidak melupakan identitas kebangsaannya, yakni kearifan lokal,” jelas Marten.

Identitas Gorontalo kata Merten, identik dengan menggambarkan sebuah etnik di nusantara. Begitu juga bila dilihat budaya yang ada di Gorontalo.

“Gorontalo dikenal sangat kental dengan kombinasi nuansa adat dan budaya. Potret tersebut tercermin pada realitas yang mengkristal sejak zaman dahulu, dalam ungkapan Aadati Hula-Hula’a To Sara’a, Sara’a Hula-Hula’a To Kitabullah, yakni adat bertumpu pada sara, sara bertumpu pada kitabullah,” bebernya.

Dalam tata kehidupan bermasyarakat di Gorontalo, imbuhnya, adat dipandang sebagai satu kehormatan atau adab, norma, bahkan merupakan pedoman dalam tata laksana pemerintahan.

“Sebagaimana dinisbatkan dalam ungkapan adat bersendi sara dan sara bersendi kitabullah. Makna dari ini, yaitu adat dilaksanakan berdasarkan aturan, sedangkan aturan ini harus berdasarkan Al-Quran,” ungkapnya.

Kemudian, tambahnya, dalam kehidupan masyarakat Gorontalo, pembangunan kebudayaan merupakan upaya untuk mengembangkan dan memajukan aspek kebudayaan yang merujuk pada 7 unsur kebudayaan universal.

“Masing-masing adalah, religi, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, ilmu pengetahuan, peralatan hidup, dan terakhir kekerabatan,” imbuhnya.

Sementara itu, menurutnya, ada dua fator yang menjadi tantangan besar kebudayaan kita, yakni internal dan eksternal. Misalnya internal, ketika kekuatan budaya lokal, kearifan lokal, nila-nilai tradisional dianggap tidak relevan, sehingga mulai diabaikan oleh pelaku budaya. Sementara faktor eksternal misal, globlisasi.

“Sebagai Wali Kota Gorontalo, saya melihat keterlaksanaan kegiatan ini sangat diharapkan bisa memberikan warna yang indah dalam pada desain pembangunan Kota Gorontalo. Khususnya pada pemajua kebudayaan,” tandasnya.

(SAS/RL/Read)