Opini  

MURAL DAN KAPTEN PSMS MEDAN

Oleh : Indra Efendi Rangkuti.

Salah satu yang saya soroti ketika berdialog Bersama Mantan PSMS Medan di Stadion Kebun Bunga Medan dan dalam beberapa forum diskusi adalah tentang Mural PSMS yang dipajang di Std.Teladan Medan.

Saya secara pribadi menyambut baik ide dan gagasan dibuatnya mural tersebut sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap prestasi PSMS dan kecintaan terhadap PSMS Medan.Selain itu keberadaan mural tersebut juga diharapkan dapat memacu motivasi para pemain PSMS untuk terus berprestasi mengangkat nama PSMS Medan di belantika persepakbolaan Nasional.

Sebagai ikon dalam mural tersebut diangkatlah tema sosok Kapten PSMS.Namun sayang para anak muda yang menggagas mural tersebut sepertinya kurang bertanya atau menggali sosok kapten PSMS yang mana yang berprestasi sehingga mereka hanya terfokus pada kapten PSMS era milenial sehingga yang diangkat hanya sosok Mahyadi Panggabean dan Legimin Raharjo dengan asumsi mampu meraih 3 kali Juara Piala Emas Bang Yos dan mampu membawa PSMS menjadi Runner Up Liga Indonesia 2007/2008.

Kalau saya mengacu kepada klub – klub Eropa seperti Arsenal yang memuat mural Legend Arsenal di Emirates Stadium maka terlihat mural tersebut berisi para pemain Legend Arsenal dari masa ke masa yang punya prestasi mentereng dan reputasi oke ketika berkostum Arsenal dan bukan hanya berpaku pada sosok idola kaum milenial.

Secara pribadi saya kenal dengan kedua sosok kapten PSMS yang ada dalam mural di Stadion Teladan tersebut khususnya Legimin Raharjo dan saya juga mengagumi prestasi dan dedikasi keduanya untuk PSMS namun ketika hendak menampilkan sosok mural atau ikon tentu tidak bisa hanya terpaku dari satu sudut pandang apalagi hanya sisi kaum milenial.

Bicara PSMS Medan berarti kitra bicara Sejarah Panjang yang telah berjalan 71 tahun pada tahun ini dan tentunya sosok – sosok yang punya prestasi “Emas” mengangkat nama PSMS Medan itulah yang layak ditampilkan terutama Kapten PSMS yang sukses membawa gelar untuk PSMS Medan dalam sejarah perjalanan PSMS.

Melihat hanya Mahyadi dan Legimin yang ditampilkan maka saya bertanya apa prestasi mereka berdua yang lebih baik dari kapten – kapten PSMS sebelumnya sehingga merekalah yang harus ditampilkan di Std Teladan.Sekali lagi saya respek kepada mereka berdua dan saya tahu mereka berdua juga bukan sosok yang ingin wajah mereka ditampilkan.

Disinilah seharusnya pecinta PSMS menggali sejarah.Bagi saya ada beberapa sosok “Kapten PSMS” yang lebih “layak” untuk ditampilkan dalam bentuk mural atas prestasi dan dedikasi mereka untuk PSMS Medan di masa lalu.

Ramlan Yatim adalah sosok Kapten PSMS pada awal berdiri di era 50-an dan Bersama abangnya Ramli Yatim sukses membawa PSMS Medan meraih Runner Up Kejurnas PSSI 1954 dan 1957.Ramlan Yatim juga sukses memimpin rekan – rekannya membawa SUMUT meraih Medali Emas Sepakbola PON 1953 dan 1957.Ramlan Yatim pula yang sukses memimpin rekan- rekannya menaklukkan klub – klub besar Eropa dan Asia hingga akhirnya PSMS mendapat julukan “The Killer”.Ramlan Yatim Bersama abangnya Ramli Yatim dan M.Rasijd juga adalah bagian dari skuad Timnas Olimpiade Indonesia yang tampil di Olimpiade Melbourne 1956 dan Ramlan sendiri juga menjadi bagian skuad Timnas yang merebut medali Perunggu di Asian Games 1958.

Muslim adalah sosok dokter yang juga Kapten PSMS Medan.Muslim adalah Kapten PSMS ketika pertama kali merebut Juara Kejurnas/Divisi Utama Perserikatan PSSI pada 1967.Muslim sebagai Kapten Tim mampu menjembatani kerjasama antara sosok senior seperti Yuswardi,Ipong Silalahi,Zulkarnaen Pasaribu,Sunarto,Zulham Yahya,Aziz Siregar dll dengan bintang muda seperti Tumsila,Ronny Pasla,Sarman Panggabean dan Wibisono hingga akhirnya sukses meraih Juara Kejurnas PSSI 1967 dan meraih Juara Aga Khan Gold Cup 1967 di Bangladesh.

Soetjpto Soentoro adalah sosok Kapten Legenda Timnas Indonesia yang pada 1968 bersama bintang – bintang Nasional seperti Abdul Kadir,Yudo Hadianto,Jacob Sihasale,iswadi Idris,Anwar Ujang,M.Basri,Max Timisela dll memperkuat Pardedetex pada 1968 – 1970.Walau berstatus klub profesional namun Pardedetex adalah klub anggota PSMS masa itu dan akhirnya para pemainnya memperkuat PSMS di ajang Kejurnas PSSI 1969.Perpaduan bintang – bintang Nasional dengan anak – anak Medan seperti Yuswardi,Ronny Pasla,Tumsila,Sarman Panggabean,Sunarto,Sukiman,Ipong Sialalahi,Syamsuddin dll membuat PSMS menjadi “The Dream Team” dengan dimotori Soetjipto Soentoro sebagai Kapten Tim dan sukses meraih Juara Kejurnas PSSI 1969,membawa Sumut meraih medali Emas PON 1969 dan membawa PSMS lolos ke Semifinal Asian Club Championship/AFC Champions Cup 1970 di Teheran.

Sukiman alias Lelek adalah sosok yang pada 1971 memimpin rekan – rekannya di PSMS Medan meraih Juara Kejurnas PSSI 1971 walau baru ditinggal sosok – sosok bintang Timnas yang kembali ke klub asalnya sebelum di Pardedetex kecuali Anwar Ujang.Pada 1967 dirinya adalah kapten kedua setelah Muslim.Kemampuannya yang hebat sebagai “palang pintu” lini belakang PSMS membuat dirinya menjadi sosok penting yang memotivasi rekan – rekannya untuk terus berjuang demi PSMS hingga pertandingan berakhir.Sukiman sebagai Kapten PSMS juga sukses membawa PSMS meraih Juara Soeharto Cup 1972,Marah Halim Cup 1972 dan 1973,dan Jusuf Cup 1974 serta membawa PSSI Wilayah I yang bermaterikan 90% pemain PSMS Medan menjadi Juara Turnamen Antar Wilayah PSSI 1974 dan membawa PSSI Wilayah I meraih Runner Up President Cup 1974 di Seoul.

Anwar Ujang adalah sosok Urang Sunda yang menjadi Legenda PSMS Medan.Seusai Tjipto mundur dari Timnas pada 1971 maka ban Kapten Timnas beralih kepada Anwar Ujang hingga tahun 1975.Di PSMS sendiri Anwar Ujang menjadi kapten kedua setelah Sukiman pada periode 1971 – 1974.Kemampuannya sebagai benteng kokoh pertahanan PSMS Bersama Sukiman sukses membawa PSMS Juara Kejurnas PSSI 1969 dan 1971,Juara Soeharto Cup 1972,Juara Marah Halim Cup 1972 dan 1973,Juara Jusuf Cup 1974 membawa PSSI Wilayah I yang bermaterikan 90% pemain PSMS Medan menjadi Juara Turnamen Antar Wilayah PSSI 1974 dan membawa PSSI Wilayah I meraih Runner Up President Cup 1974 di Seoul. Anwar Ujang juga sukses membawa Sumut meraih Medali Emas PON 1969.

Yuswardi adalah Bek Kanan legendaris PSMS pada era 1966 -1977.Yuswardi juga menjadi Bek Kanan Legendaris dan Utama Timnas dari 1967 – 1975.Ketika Sukiman mundur dari sepakbola dan Anwar Ujang pindah ke PSL Langkat karena mutasi tugas dari Pertamina maka ban kapten PSMS beralih ke dirinya.Sebagai Kapten Yuswardi sukses membawa PSMS menjadi Juara Kejurnas PSSI 1975 (Juara Bersama Persija).Sebelumnya sebagai pemain Yuswardi membawa PSMS Juara Kejurnas PSSI 1967,1969 dan 1971, Juara Soeharto Cup 1972,Juara Marah Halim Cup 1972 dan 1973,Juara Jusuf Cup 1974 membawa PSSI Wilayah I yang bermaterikan 90% pemain PSMS Medan menjadi Juara Turnamen Antar Wilayah PSSI 1974 dan membawa PSSI Wilayah I meraih Runner Up President Cup 1974 di Seoul.Yuswardi juga sukses membawa Sumut meraih Medali Emas PON 1969 dan membawa PSMS lolos ke Semifinal AFC Champions Cup 1970.

Sunardi B adalah satu – satunya Kapten PSMS yang hingga kini membawa PSMS Medan Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI 2 kali berturut – turut,Pada 1983 Sunardi B yang di Final menjadi Kapten PSMS menggantikan Zulham Effendy Harahap sukses memimpin rekan – rekannya meraih Juara setelah di Final mengalahkan Persib lewat adu penalty 3-2 setelah dalam pertandingan normal dan perpanjangan waktu bermain imbang 0-0.Pada 1985 sebagai Kapten Tim merangkap Asisten Pelatih Sunardi B kembali sukses memimpin rekan – rekannya meraih Juara Divisi Utama Perserikatan PSSI dalam pertandingan nyang hingga kini menjadi rekor dunia karena ditonton 150 Ribu penonton setelah mengalahkan Persib 2-1 dalam drama adu penalti setelah dalam waktu normal dan perpanjangan waktu bermian imbang 2-2.

Dengan melihat reputasi ini sudah sewajarnya sosok – sosok Kapten PSMS ini yang lebih pantas untuk ditampilkan jika tema yang diangkat di mural itu adalah “Kapten PSMS” dengan reputasi dan prestasi yang telah mereka torehkan.Terlalu “kecil” jika ukuran kesuksesan PSMS hanya diukur dari 3 gelar Juara Piala Emas Bang Yos dan Runner Up Liga Indonesia 2007/2008.Saya sempat bertemu dengan salah seorang anak muda yang terlibat dalam pembuatan mural tersebut dan setelah beradu argument dia baru tahu kalau ternyata ada kapten lain yang lebih hebat prestasinya dari yang mereka tampilkan.Saya sebut andai mereka mau diskusi dan belajar tentu akan lebih faham tentang kebesaran PSMS Medan dan sang anak muda tersebut hanya tertunduk diam dan saya tak tahu dia diam karena apa.

PSMS kebanggaan warga Medan dan Sumut lintas generasi dan bukan hanya milik Kaum “Milenial” sehingga harus kita jaga bersama sejarah kebesarannya.Terimakasih kepada para Pengurus Ikatan Mantan PSMS dibawah kepemimpinan Bang Witya Fusen yang mendukung pendapat saya dan siap bekerjasama dengan saya untuk menjaga sejarah kebesaran PSMS Medan.

Baca berita kami lainnya di

Exit mobile version