Puasa Kaum Milenial

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid

 

Puasa dapat menjadi wadah lompatan seseorang dari alam hewani menuju alam malaikat. Kompleksitas hakikat ayat Qs. Al-Baqarah [2]: 183 (berkenaan dengan puasa Ramadan) selalu didambakan, termasuk generasi milenial. Apalagi mereka-mereka yang mengikuti trend “hijrah dadakan”. Hijrah yang dulu dimaknai sebagai perpindahan perjuangan Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah, berpindah menjadi perubahan tampilan masa lalu ke gaya baru yang lebih Islami.

Paradigma yang tumbuh mulai tahun 2016-an itu mengubah perspesi dan konsepsi generasi milenial dalam memandang sebuah agama. Perubahan mindset dipengaruhi ragam gejala. Dari hal sepele hingga kebuntuan dalam mengais rejeki, bahkan kebutuhan akan agama mendapatkan momentumnya.

Dalam suasana berpuasa Ramadan. Intensitas dan gairah beragama pun meningkat tinggi. Di sini generasi milenial terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, generasi milenial yang berpuasa namun beribadahnya ekstra; momen berpacaran diganti dengan tren buka bersama, sahur on the road dan sejenisnya. Kedua, generasi milenial yang tetap stabil menyikapi puasa Ramadan, walau diawali dengan kebahagiaan. Tentunya, ini dua fenomena yang menarik dalam kajian al-Qur’an.
***

Sebuah kisah menarik. Di mana pada zaman dahulu, ada seorang penggembala yang hidup dan akhirnya bertemu dengan Nabi Musa. Penggembala ini dikenal seorang yang penuh semangat dalam beragama, tapi tidak punya uang (sebab ia tidak menginginkannya. Aneh!). Yang dimilikinya hanyalah hati yang lembut, ikhlas dan hati yang berdetak dengan kecintaan kepada-Nya tanpa batas. Kecintaan itulah yang membuatnya bermunajat dan menyayikan ungkapan-ungkapan kepada-Nya. “Duhai Pangeran tercinta, di manakah Engkau, supaya aku bisa persembahkan seluruh hidupku pada-Mu? Di manakah Engkau, supaya aku bisa menghambakan diriku pada-Mu? Wahai Tuhan, untuk-Mu aku hidup dan bernapas…”, begitulah sang penggembala melagukan jeritannya.

Sampailah pada suatu hari, Nabi Musa melewati padang gembalaannya saat ingin berpergian menuju kota. Sampai terdengarlah oleh Nabi Musa, jeritan lagu-lagu yang disenandungkan sang penggembala. Dalam petikannya, “Dimanakah Engkau, supaya aku bisa mengilapkan sepatu-Mu dan membawakan air susu untuk minuman-Mu?”. Senandung itu menurut Nabi Musa itu ucapan tidak elok. Nabi Musa pun berujar, “Betapa beraninya kamu berbicara kepada Tuhan seperti itu! Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran. Kamu harus menyumpal mulutmu dengan kapas, supaya kamu bisa mengendalikan lidahmu…”.

Penggembala itu pun sadar, sebab yang mengatakan Nabi. Ia pun meninggalkan ternaknya menuju padang pasir. Nabi Musa merasa bahagia karena mampu merubah dan “menyumpal” mulut sang Penggembala. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba Allah menegurnya. “Mengapa engkau berdiri di antara Kami dengan kekasih Kami yang setia? Mengapa engkau pisahkan cinta dari yang dicintainya? Kami telah mengutus engkau supaya engkau bisa menggabungkan kekasih dengan kekasihnya, bukan memisahkan ikatan di antaranya.”

Nabi Musa pun mencari-cari sang penggembala di gunung pasir, namun didapatinya di dekat mata air. Nabi Musa berujar kembali, “Tuhan telah berfirman kepadaku bahwa tidak diperlukan kata-kata indah jika kita ingin berbicara kepada-Nya. Kamu bebas berbicara kepada-Nya dengan cara apapun yang kamu sukai dan kata-kata yang kamu pilih. Karena apa yang aku duga sebagai kekafiranmu ternyata adalah ungkapan dari keimanan dan kecintaan yang menyelematkan dunia.”

Secuil kisah di atas, mengajarkan kita cara beragama yang penuh cinta. Di mana ada sekelompok orang yang mengambil “cinta sebagai agamanya”. Tapi dari sini pula persepsi baru lahir bahwa dalam mendekati-Nya tidak diperlukan ilmu yang mendalam, hanya dibutuhkan hati yang bersih dan tulus. Persepsi ini lahir dari sebuah keadaan, di mana ada seseorang yang berpengetahuan tetapi membutakan menuju Tuhan. Dari ruang yang berbeda, lahir pula kelompok agnostic style yang hanya fokus pada Tuhan tanpa menghiraukan peraturan agama dan syariat.

Kemudian timbullah tiga masalah. Pertama, mereka menggunakan momentum puasa Ramadan sebagai ajang hijrah lahiriyah. Sebab kerinduan-Nya kepada Allah dan bertemunya pada bulan Ramadan, maka tampilan luar harus Islami. Pembentukan suasana Islami kerap menyelimuti ruang-ruang di setiap penghujung jalanan. Tapi momentum ini sedikit sekali yang membawanya ke luar Ramadan yang lebih dahsyat lagi tantangan dan perjuangan mengaktualisasikan ajaran agama. Dan marilah kita seimbangkan antara kesiapan berpakaian Islami dengan berpikiran Islami yang saling mengedepankan akhlak ketimbang argumentasi.

Kedua, mereka yang beribadah meminggirkan pencarian dan penelitian ilmu pengetahuan. Hal itu bukan perkara buruk, tapi alangkah bijaknya hijrah dari kegelapan masa lalu menuju wajah baru diikutsertakan dengan menuntut ilmu, tidak saja di satu tempat melainkan di beberapa tempat. Guna saling melengkapi perspektif.

Ketiga, sejatinya mereka yang hanya ingin ber-Tuhan tanpa beragama adalah mereka-mereka yang tidak siap ber-Tuhan. Sebab, Tuhan memang ada di mana-mana, tapi untuk sampai menuju-Nya diciptakanlah ragam jalan dan tangga menuju-Nya. Jika dalam Islam, agamanya adalah Islam, tetapi alirannya bermacam-macam sebab tangga pilihannya berbeda. Dan setiap orang harus memiliki salah satu jalan itu. Yang dalam dalam pandangan Islam, beragama menjadi sebuah fitrah, selain fitrah mencari kebenaran, kebaikan, keindahan, kreasi, cinta dan menyembah. Selamat berbuka puasa!

Baca berita kami lainnya di

Exit mobile version