Semangat Berpacu Menuju-Nya

Oleh: Muhammad Makmun Rasyid

Nabi Muhammad mengingatkan umatnya untuk terus menjaga kesehatan agar tidak KO di masa-masa mendekati garis finis. Dalam setiap perlombaan, apa saja, yang menentukan adalah finisnya. Nabi di akhir-akhir finis Ramadan mengikat kencang ikat pinggangnya agar konsentrasi penuh beribadah. Di babak akhir ini, kucuran keberkahan, kebaikan dan maunah-Nya disebar dengan amat berlimpah.

Mengencangkan ikat pinggang itu merupakan istilah simbolik. Para sufi menuturkan siapa saja yang betul-betul berharap bertemu dengan-Nya, maka peliharalah tiga aspek. Pertama, memelihara dan menjaga fisik jasmaniyah dari menkonsumsi makanan-minuman syubhat dan haram serta mengontrol birahi seksual. Kedua, memelihara pancaindera dari hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dan ketiga, memelihara hati untuk hanya tertuju dan terpaut pada-Nya.

Aspek ketiga tersebut memiliki peranan penting dalam diri setiap manusia. Naluri (ber)spiritual untuk menjumpai Yang Maha Kuasa sangat tinggi. Potensi mengaktifkan “eros religious” itu lebih besar di akhir-akhir puasa Ramadan. Siapa saja bisa mengaktifkan dan memberdayagunakannya. Jangan menganggap bahwa diri ini berlumur dosa dan penuh maksiat, akhirnya enggan menyucikan diri di akhir puasa Ramadan ini. Jangan! Hidayah dan maunah-Nya bisa datang secepat kilat, selagi kita berusaha.

Kisah hihjranya Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar dari Makkah ke Madinah mengundang penduduk masyarakat Makkah marah. Begitu marahnya, ada yang menyiapkan 100-an ekor unta sebagai hadiah bagi yang mampu menangkap Nabi.

Hari demi hari belum diketahui keberadaan Nabi Muhammad. Sampailah seorang lelaki memberitakan kepada sejumlah orang dari Bani Mudlij bahwa dirinya melihat bayangan hitam, yang menandakan bahwa itu adalah Muhammad dan sahabatnya. Namun, tiba-tiba seorang bernama Suraqah bin Malik menimpalinya, “bukan mereka adalah si fulan dan si fulan yang sedang berpergian untuk sesuatu hal”.

Ternyata, Suraqah berkata demikian karena memiliki kepentingan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW. Keluarlah ia dari barisan rombongan dan pergi ke rumahnya. Sampai di rumah ia meminta pelayannya untuk menyiapkan segala perlengkapan di atas kudanya. Suraqah yang dikenal bermata tajam dan berbadan besar serta cekatan ini pun menunggangi kudanya. Saat kudanya sedikit lagi dekat dengan Nabi, tiba-tiba terjungkal dan Suraqah pun terpelanting jauh. Fenomena itu terjadi beberapa kali sampai ia meminta pertolongan keselamatan.

Nabi dan Abu Bakar pun menghampirinya. Suraqah meminta maaf dan menawarkan harta, tapi Nabi menolaknya. Nabi hanya berkata, “Kami tidak membutuhkan itu. Saya berpesan agar engkau tidak menyebarkan berita tentang (keberadaan) kami”. Maka pergilah Suraqah dan setiap bertemu orang lain tidak menyebut keberadaan Nabi.

Suraqah yang dikenal gesit untuk hal-hal begitu pun bisa mendapatkan hidayah dari Allah. Di penghujung kematian Nabi, ia menyatakan keimanannya. Maka masing-masing kita yang masih berlumuran noda dan dosa agar tidak sungkan-sungkan berpacu menuju-Nya dengan jalan-jalan yang telah disediakan.

Memulailah dengan mencinta-Nya penuh ketulusan dan jangan ragu akan ampunan yang datang darinya. Setiap dosa yang ada dalam diri kita akan diampuni oleh-Nya. Jangan menunggu tua atau berkata, nanti saja dan nanti saja. Mulailah sejak terbesit dalam benak akan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Mintalah ampunan dan berharap dipertemukan dengan-Nya kelak hari.

Sebagaimana dunia yang diciptakan karena kerinduan-Nya untuk dikenali mahluk, puasa diciptakan karena kecintaan Allah kepada setiap mahluk. Pada setiap mahluk yang diciptakan-Nya tersemayam di dalamnya kasih sayang. Yang kerap disebut oleh Ibnu Arabi dengan “Tuhan adalah nafas al-Rahman”. Maskudnya, manusia dan segala sesuatunya diciptakan karena cinta Allah kepada setiap mahluk.

Itu sebabnya, maka jangan berputus asa saat sudah memasuki pentas dan berada di atas panggung. Puasa itu dibutuhkan oleh jiwa masing-masing manusia, sedangkan jasad hanya berdampak sedikit saja. Maka jangan menjadikan jasad sebagai tolak ukur ketenangan dan kebahagiaan jiwa. Saat jiwa diberikan makanan terindah dan disuapi hadiah dari Allah, ia bergembira dan berkata, “Terimakasih, engkau telah memperhatikan aku”.

Eros religious itu sudah ada sejak sebelum kita berkarir di dunia. “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (Qs. Al-Hijr [15]: 29). Potensi menjadi orang baik, sangat besar dalam diri kita. Hanya pergaulan yang menjadikan kita A, B, C dan seterusnya.

Kebahagiaan tertinggi jiwa adalah saat dia bisa kembali menyatu pada pemiliknya dan disambungkan secara sempurna. Maka setelah ketulusan berkomunikasi dengannya dan kecintaan-kerinduan akan mencintai-Nya menjadi modal utama untuk memuluskan perjalanan menuju Allah. Tanpa kecintaan dan kerinduan yang dalam, seseorang akan merasakan berat melaksanakan ritual-ritual keagamaan, yang kadang kala terbesit akan pikiran jumlah menjumlah.

Jadi puasa itu semacam energi untuk mengaktifkan sayap keimanan berupa ketulusan dan kerinduan sejati kepada Sang Khaliq. Pengembaraan kita sebagai wakil-Nya di muka bumi akan melewati ragam jalan terjal, maka keduanya adalah pegangan kuat. Tapi selama berpuasa, setiap insan masih akan diuji saat berbuka. Sajian demi sajian yang dihidangkan akan membuatnya tergoda dan terayu ataukah mampu mengontrol dengan mencicipi ala kadarnya.

Sifat balas dendam dalam harian berbuka puasa menjadi kendala dalam diri. Perut yang begitu amat kenyang akan menjadikan rasa takut kepada Allah berkurang. Sufi seperti Imam Ghazali, misalnya dalam Ihyâ’ Ulumiddîn-nya menyatakan bahwa itu salah satu penyakit dari lima penyakit lainnya. Saat rasa takut kepada Allah berkurang, maka akan berlanjut pada sikap malas beribadah. Disini bukan tanpa makna, kalaulah para pejalan menuju Allah memegang erat hadis, “sesungguhnya setan itu berjalan pada manusia di tempat jalannya darah. Maka persempitlah jalannya itu dengan mengosongkan perut”.

Setiap hal dalam puasa memiliki hikmah besar. Seberapa meresapnya ajaran agama dalam diri kita akan menentukan kelestarian alam ini. Hampir semua kebaikan di dunia ini yang membawa perubahan besar memiliki akar kuat dalam agama dan si perubah memiliki tingkat penyerapan ajarannya luar biasa.

Begitu canggihnya Allah, menyeting puasa ini dengan dua hal: hal yang berhubungan dengan diri-Nya dan hubungan sesama manusia. Seseorang yang saling berpacu menuju-Nya pun tidak boleh melupakan basis kehidupannya. Dan yang memiliki basis kehidupan di dunia tidak boleh melupakan yang menciptakan dunia ini. Disini keteraturan dari-Nya, jangan sampai agama hanyalah pelarian dari kejemuan dunia. Kejemuan dunia itu harus dilewati dengan penuh suka cita dan tetap bersandar pada-Nya. Jikalau agama tempat pelarian, itu sama artinya kita beragama tapi mengajukan kontrak bersyarat.

Kadang-kadang dalam pengembaraan di dunia ini, di samping iming-iming besar dari-Nya kita kerap berpikiran negatif kepada-Nya. Apa-apa yang kita minta tapi tak kunjung datang, maka kita akan berkata, “katanya Allah dekat, tapi doaku, mengapa tak terkabulkan”. Yakinlah, bahwa apa-apa yang kita minta tapi Allah tidak berikan, maka itulah pemberian terbaik darinya. Seorang pejalan menuju-Nya harus menyakini hal itu. Tidak boleh memberikan prasangka buruk sedikitpun tentang-Nya. Sebab kita hidup sesuai prasangka kita.

Dalam momentum di akhir Ramadan ini, di mana manusia saling berpacu menuju-Nya layaknya berpacu kuda di lapangan agar mendapat juara, namun jangan melupakan hakikat puasa yang tidak sekedar bersifat pribadional semata. Ketersambungan dengan Allah penting, tapi penting pula ketersambungan antar sesama manusia. Menyatukan dimensi individual-teologis dengan dimensi sosial-muamalah akan menjadikan kita sebagai mahluk yang seimbang sesuai keinginan-Nya. Tentunya ini mengakar pada sabda Nabi Muhammad SAW, “Betapa banyak orang berpuasa tapi sia-sia belaka, mereka tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga, lantaran mengabaikan etika sosial atau melakukan dosa sosial”.

Semoga hamba-hamba Allah yang saling berpacu di akhir Ramadan tetap menjadi pribadi yang tawadhu’ lagi tidak sombong jika menemukan Lailatul Qadar dalam pengembaraannya. Dan semoga puasa kita menjadi puasa yang tranformatif. Sebuah puasa yang membawa kita pada perubahan yang lebih baik dan satu sama lain saling berupaya menciptakan tatanan sosial yang bermartabat dan berkeadilan. []

Berita terkait lainnya