Misteri Buaya Bertanduk Akhirnya Terpecahkan setelah 150 Tahun

Buaya Bertanduk
Fosil buaya ini hidup endemik di Madagaskar sejak 9.000 tahun lalu dan hidup pada 1.300 hingga 1.400 tahun yang lalu. Temuan sains terbaru telah memecahkan salah satu misterinya. Foto: M. Ellison/AMNH

READ.ID – Setelah hampir 150 tahun menjadi kontroversi, misteri identitas spesies buaya bertanduk yang sudah punah kini terpecahkan.

Para ilmuwan di Amerika Serikat akhirnya berhasil memecahkan misteri tersebut. Berdasarkan temuan sains terbaru ini mereka meyakini telah berhasil menentukan dan mengklasifikasikan dengan tepat di posisi mana buaya ini seharusnya berada pada pohon kehidupan.

“DNA menceritakan kisah yang berbeda. Itu (hasil tes DNA) memberitahu kita berulang kali bahwa penampilan bisa menipu,” ujar Evon Hekkala, peneliti dari Fordham University yang memiliki afiliasi dengan American Museum of Natural History, dikutip dari nationalgeographic, Sabtu (8/5/2021).

Buaya bertanduk yang telah punah ini diberi nama ilmiah Voay robustus. Buaya ini merupakan hewan yang hidup endemik di Madagaskar sejak 9.000 tahun lalu dan hidup pada 1.300 hingga 1.400 tahun yang lalu, menurut bukti-bukti yang ditemukan pada fosilnya.

Fosil-fosil hewan ini pertama kali ditemukan pada tahun 1872. Buaya ini kemudian dinamai sesuai dengan tanduk khas yang ada di tengkorak mereka.

Sejak fosil-fosil tanduk dan tengkorak mereka ditemukan, buaya ini telah diklasifikasikan oleh sejumlah peneliti ke dalam beberapa famili yang berbeda.

Mereka disalahartikan sebagai spesies lain dan diberi beberapa nama berbeda, tanpa asal usul evolusioner yang jelas.

Sebelumnya buaya bertanduk ini disebut-sebut memiliki kedekatan dengan buaya Nil. Bukti-bukti paling awal terkait keberadaan buaya Nil di Madagaskar adalah sejak 300 tahun lalu.

Namun, cerita rakyat Malagasi menunjukkan bahwa buaya Nil mungkin telah bermigrasi ke sana lebih awal dan hidup berdampingan dengan buaya bertanduk, kata Hekkala.

Menurutnya, buaya bertanduk bukanlah buaya yang sangat besar. Namun, tengkorak yang besar menunjukkan bahwa mereka kemungkinan adalah hewan kuat yang menyebabkan nama spesies mereka menjadi robustus.

“Kami tidak memiliki kerangka lengkap, tetapi mereka tidak terlalu panjang,” tutur Hekkala. “Berdasarkan ukuran tengkorak mereka, ukuran keseluruhan mereka mungkin mirip dengan buaya Nil.”

“Beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa bagian pulau (Madagaskar) menjadi lebih kering. Bisa jadi ini menguntungkan buaya Nil yang baru tiba dan membuat pulau itu lebih tidak ramah bagi buaya bertanduk endemik,” kata Hekkala.

Dalam studi terbaru yang laporannya telah terbit secara online di jurnal Communications Biology pada 27 April 2021, Hekkala bersama para peneliti lain dari American Museum of Natural History (AMNH) di New York City dan dari sejumlah kampus ternama, melakukan tes dan analisis DNA.

Hal tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi identitas reptil ambigu ini secara lebih pasti.

Mereka kemudian menentukan apakah buaya ini termasuk dalam kelompok unik mereka sendiri atau termasuk kelompok spesies yang sudah ada.

Catatan-catatan fosil yang terbatas dan sejarah ekologi Madagaskar yang tidak lengkap sebagian merupakan penyebab mengapa butuh hampir 150 tahun untuk berhasil menempatkan buaya bertanduk dalam kelompok evolusinya sendiri.

Selain itu, secara fisik, terutama bagian tengkoraknya, spesies buaya bertanduk ini sangat mirip dengan buaya Nil, yang secara historis digunakan para ilmuwan untuk mengklasifikasikannya.

Ketika buaya-buaya bertanduk itu pertama kali ditemukan, para ilmuwan mengklasifikasikannya sebagai buaya sejati –subfamili yang mencakup buaya Nil dan buaya modern lainnya seperti buaya Amerika (Crocodylus acutus) dan buaya air asin (Crocodylus porosus)– dan diberi nama Crocodylus robustus.

“Kebingungan ini diperbesar pada tahun 1910 ketika ilustrasi populer tentang bagaimana rupa baya bertanduk itu dirilis dalam sebuah artikel ilmiah,” kata Hekkala.

Sayangnya, gambar itu sebenarnya menggambarkan buaya Nil zaman modern, tetapi itu membantu memperkuat teori bahwa buay bertanduk adalah buaya sejati.

Beberapa bahkan berpendapat bahwa buaya bertanduk mungkin saja nenek moyang buaya Nil.

Teori ini tetap menjadi konsensus umum hingga 2007 ketika para peneliti menganalisis tengkorak fosil buaya bertanduk ini.

Anaisis tengkorak ini dilakukan untuk mengungkapkan perbedaan fisiologis yang signifikan dibandingkan dengan buaya Nil.

Setelah hasil analisis tersebut keluar, buaya bertanduk ini kemudian dimasukkan ke dalam subfamili lain yang disebut buaya kerdil.

Ini adalah kelompok buaya yang lebih kecil dengan tengkorak pendek dan kokoh yang menyimpang dari buaya sejati jutaan tahun yang lalu.

Buaya bertanduk ini kemudian juga diberi nama genus baru yaitu Voay yang berarti “buaya” dalam bahasa Malagasi.

Dalam studi terbaru kali ini, para peneliti AMNH menganalisis bukti DNA yang didapat dari spesies buaya bertanduk ini untuk menentukan kelompok mana yang sebenarnya dari buaya itu.

Temuan sains terbaru menunjukkan hasil analisis DNA yang mengungkapkan bahwa buaya bertanduk ini bukanlah buaya kerdil seperti yang disarankan oleh penelitian tahun 2007.

Berikutnya juga bukan buaya sejati seperti yang diasumsikan oleh para naturalis sebelumnya. Sebaliknya, mereka termasuk dalam genus unik mereka sendiri.

“Yang mengejutkan kami pada saat itu adalah bahwa ia tidak dikelompokkan dalam buaya sejati, tetapi berdekatan dengannya,” ucapnya,

Hal ini, kata dia, membuatnya seperti garis keturunan yang telah lama hilang dan terisolasi di sebuah pulau.

Fakta bahwa kelompok baru ini, yang berkerabat dekat dengan buaya sejati, adalah endemik di Afrika juga menunjukkan bahwa di sinilah buaya pertama kali berevolusi, yang merupakan teori terkemuka di alam.

“Data kami mendukung hipotesis bahwa buaya modern yang kami lihat hari ini berasal dari Afrika,” kata Hekkala.

Mengungkap misteri evolusi seputar buaya bertanduk sangatlah penting karena membantu para ilmuwan membangun gambaran yang lebih baik tentang bagaimana hewan modern berevolusi.

Kemudian bagaimana mereka dapat beradaptasi terhadap perubahan, kata Hekkala.

“Spesies yang punah dapat menjadi jembatan untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan. Mereka membantu kita melakukan perjalanan waktu dan menghubungkan kembali sejarah evolusi untuk menceritakan kisah kehidupan dan kepunahan di Bumi,” ujar Hekkala.

(Aden/Read)

Baca berita kami lainnya di

Exit mobile version