READ. ID – Persoalan pendidikan tidak cukup diselesaikan dengan membangun fasilitas dan mengejar angka partisipasi sekolah. Lebih dari itu, lingkungan pendidikan harus mampu menjamin rasa aman, menghargai martabat peserta didik, serta membangun hubungan yang sehat antara guru dan murid.
Hal tersebut menjadi perhatian Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, saat membuka Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) Angkatan I jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sabtu 31/10/2026.
Thariq mengungkapkan masih adanya persoalan relasi di lingkungan sekolah, mulai dari tindakan guru yang mempermalukan murid hingga konflik antara tenaga pendidik dan orang tua siswa.
Ia bahkan menceritakan kasus seorang murid yang kehilangan kepercayaan diri dan enggan kembali ke sekolah setelah menjadi bahan tertawaan teman-temannya akibat perlakuan seorang guru dalam proses pembelajaran.
Menurutnya, persoalan semacam itu tidak boleh dianggap sepele. Guru bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memiliki kewajiban menjaga psikologis dan harga diri peserta didik.
Thariq menegaskan, kompetensi kepribadian dan sosial seorang guru maupun kepala sekolah harus benar-benar tercermin dalam perilaku sehari-hari. Kemampuan mengajar saja tidak cukup apabila tidak dibarengi dengan keteladanan, empati, dan kemampuan membangun komunikasi yang baik.
Ia juga mengingatkan bahwa kasih sayang dalam dunia pendidikan bukan berarti menghilangkan kedisiplinan. Sebaliknya, kedisiplinan harus dibangun melalui keteladanan, termasuk keberanian seorang guru mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada murid.
Melalui gagasan Sekolah Surga Kasih Sayang (SKS), Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara ingin membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menghadirkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan memanusiakan setiap warga sekolah.
Thariq berharap para peserta pelatihan bakal calon kepala sekolah mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kepemimpinan dan tata kelola sekolah. Sebab, kualitas pendidikan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan di ruang kelas, tetapi juga bagaimana setiap anak diperlakukan selama berada di lingkungan pendidikan.











