READ.ID – Ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan klasik di banyak wilayah pesisir Indonesia, termasuk di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Di tengah keterbatasan sumber air permukaan, masyarakat setempat masih bergantung pada sumur dangkal yang rentan terhadap kekeringan dan intrusi air laut. Namun, sebuah penelitian terbaru menghadirkan secercah harapan—air ternyata bisa “disimpan” di dalam batuan.
Tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo mengungkap bahwa batu gamping (limestone) yang banyak ditemukan di kawasan pesisir Gorontalo memiliki potensi besar sebagai reservoir alami air tanah. Studi yang didanai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia ini menyoroti satu kunci penting: porositas batuan.
Batu yang Menyimpan Air
Sekilas, batu gamping tampak seperti batu biasa. Namun di dalamnya, terdapat rongga-rongga kecil yang disebut pori. Rongga inilah yang berfungsi sebagai “ruang penyimpanan” air. Semakin banyak dan besar pori yang dimiliki batuan, semakin besar pula kemampuannya menampung air tanah.
Penelitian yang dilakukan di lima desa pesisir—Botubarani, Huangobotu, Biluango, Modelomo, dan Botutonuo—menunjukkan bahwa sebagian besar batu gamping di wilayah tersebut memiliki tingkat porositas sedang hingga tinggi. Bahkan, beberapa sampel menunjukkan porositas lebih dari 30 persen, angka yang tergolong sangat baik untuk penyimpanan air.
Secara sederhana, porositas dapat dibayangkan seperti spons. Semakin berongga spons tersebut, semakin banyak air yang bisa diserap dan disimpan.
Menguji dari Lapangan hingga Laboratorium
Untuk memastikan temuan ini, peneliti tidak hanya mengandalkan pengamatan lapangan, tetapi juga melakukan analisis laboratorium secara detail. Batuan diuji menggunakan metode petrografi—yakni pengamatan struktur batuan di bawah mikroskop—serta uji berat jenis dan daya serap air.
Hasilnya konsisten: batuan dengan kemampuan menyerap air tinggi juga memiliki porositas yang besar. Artinya, semakin “haus” batu tersebut, semakin besar potensinya menjadi penyimpan air tanah.
Jejak Masa Lalu yang Menentukan Masa Depan
Menariknya, kemampuan batu gamping menyimpan air ternyata sangat dipengaruhi oleh proses geologi masa lalu. Peneliti mengidentifikasi empat jenis utama batu gamping di wilayah ini—wackestone, packstone, rudstone, dan boundstone—yang masing-masing memiliki struktur berbeda.
Selain itu, ditemukan pula berbagai tipe pori, mulai dari pori antar kristal hingga rongga bekas fosil. Semua ini merupakan “jejak sejarah” pembentukan batuan yang terjadi jutaan tahun lalu, yang kini justru menjadi kunci ketersediaan air bagi masyarakat.
Desa dengan Potensi Terbaik
Dari seluruh lokasi penelitian, Desa Biluango dan Botutonuo menonjol sebagai wilayah dengan kualitas porositas terbaik. Artinya, kawasan ini memiliki potensi terbesar sebagai sumber cadangan air tanah yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Temuan ini penting, terutama bagi wilayah pesisir yang selama ini kesulitan mendapatkan akses air bersih.
Lebih dari Sekadar Sumber Air
Penelitian ini tidak hanya berhenti pada identifikasi potensi. Tim peneliti juga menyusun peta sebaran batu gamping yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan konservasi geologi.
Hal ini krusial, karena batu gamping bukan hanya “gudang air”, tetapi juga bagian penting dari sistem ekologi bawah tanah. Jika dieksploitasi secara berlebihan—misalnya melalui penambangan—maka cadangan air yang tersimpan bisa rusak atau hilang.
Harapan untuk Masa Depan Pesisir
Temuan ini membuka peluang baru dalam pengelolaan sumber daya air di wilayah pesisir Gorontalo. Dengan pendekatan ilmiah, potensi alam yang selama ini tersembunyi dapat dimanfaatkan secara lebih bijak.
Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan: pemanfaatan harus berjalan seiring dengan konservasi. Tanpa pengelolaan yang hati-hati, solusi hari ini bisa menjadi masalah di masa depan.
Pada akhirnya, batu gamping mengajarkan satu hal sederhana—bahwa di balik sesuatu yang tampak keras dan kaku, bisa tersimpan sumber kehidupan yang sangat berharga. Tinggal bagaimana manusia memahami dan menjaganya.
(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)












