Belum Reda Kasus FN, Keluarga Pasien MO Keluhkan Dipulangkan Saat Masih Sakit

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Belum selesai polemik pelayanan pasien FN, RSUD Zainal Umar Sidiki kembali dihadapkan pada keluhan dari . Kali ini, keluarga pasien MO mengaku pasien diminta pulang dari rumah sakit meski menurut mereka masih membutuhkan penanganan medis lanjutan.

Berdasarkan keterangan keluarga, MO menjalani perawatan di RSUD Zainal Umar Sidiki sejak 5 Juni 2026. Namun, pada 11 Juni 2026, pihak keluarga menerima informasi bahwa pasien harus pulang meski kondisi kesehatannya dinilai belum sepenuhnya pulih.

Menurut pihak keluarga, keputusan tersebut disampaikan tanpa penjelasan yang memadai terkait alasan penghentian perawatan. Sebelum informasi kepulangan diberikan, dokter sempat melakukan pemeriksaan dan menanyakan kondisi yang masih dirasakan pasien.

Saat itu, pasien disebut masih mengeluhkan kram dan pusing. Setelah mendengar keluhan tersebut, dokter disebut menyampaikan akan memberikan antibiotik.

“Ada dokter yang datang menanyakan keluhan yang masih dirasakan oleh orang tua saya. Saat itu orang tua saya menyampaikan masih mengalami kram dan pusing. kemudian mengatakan akan memberikan antibiotik, tetapi saya tidak mengetahui apakah yang dimaksud berupa obat minum atau melalui infus,” ujar salah satu anggota keluarga pasien saat diwawancarai.

Namun, tidak lama setelah itu, keluarga mengaku dipanggil oleh salah seorang dan diminta menandatangani persetujuan kepulangan pasien.

“Saya sempat menyampaikan bahwa orang tua saya masih dalam kondisi pusing. Namun saya hanya mendapat penjelasan bahwa penyakit yang diderita berkaitan dengan saraf sehingga proses pemulihannya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua bulan,” lanjutnya.

Keluarga mengaku kebingungan dengan keputusan tersebut karena menurut mereka kondisi pasien saat itu belum sepenuhnya pulih dan masih memerlukan pemantauan medis.

Selain itu, keluarga juga mempertanyakan mekanisme penyampaian informasi terkait kepulangan pasien. Menurut mereka, keputusan tersebut tidak disampaikan langsung oleh dokter yang menangani pasien, melainkan oleh seorang perawat.

“Yang menjadi pertanyaan bagi kami, mengapa bukan dokter yang menyampaikan langsung kepada pasien atau keluarga terkait keputusan tersebut. Informasi itu justru kami terima dari seorang perawat,” ungkap anggota keluarga pasien.

Keluarga berharap pihak rumah sakit dapat memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai dasar pertimbangan medis yang digunakan dalam memutuskan kepulangan pasien.

Tidak hanya itu, keluarga juga mengaku mengalami kejadian yang menurut mereka menimbulkan tanda tanya saat melakukan penebusan obat di apotek rumah sakit. Menurut keterangan keluarga, seorang apoteker yang bertugas sempat menanyakan apakah pasien belum berencana pulang karena lembar pencatatan obat hampir penuh.

“Saat ibu saya menebus obat di apotek Ruma Sakit, apoteker sempat memanggil dan bertanya apakah pasien belum akan pulang. Alasannya, buku atau lembar pencatatan obat  sudah hampir penuh dan jika masih menjalani perawatan akan buka  lembar baru,” ujar anggota keluarga pasien.

Pernyataan tersebut semakin menimbulkan kebingungan bagi keluarga karena disampaikan sebelum mereka menerima informasi mengenai rencana kepulangan pasien dari pihak rumah sakit.

Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada pihak Ruma Sakit. Namun hingga berita ini diterbitkan, pihak rumah sakit belum memberikan tanggapan.

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60