BPS: Penduduk Miskin Nasional 22,93 Juta Orang, Gorontalo 150,60 Ribu Jiwa

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai tingkat di Indonesia pada Rabu (5/8/2026). Secara nasional, jumlah penduduk miskin pada tercatat sebanyak 22,93 juta orang, turun sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025 yang mencapai 23,36 juta orang. Sejalan dengan tren tersebut, Provinsi juga mencatat penurunan jumlah penduduk miskin menjadi 150,60 ribu jiwa.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, mengatakan penurunan jumlah penduduk miskin turut diikuti membaiknya tingkat kemiskinan nasional. Pada Maret 2026, tingkat kemiskinan Indonesia tercatat sebesar 8,07 persen, lebih rendah dibandingkan 8,25 persen pada September 2025.

“Berdasarkan tren pada grafik sejak Maret 2023 sampai dengan Maret 2026 jumlah dan tingkat kemiskinan terus mengalami penurunan,” ujar Edy Mahmud dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Rabu (5/8/2026). Seperti di lansir dari antara

Penurunan tersebut menunjukkan tren positif dalam upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia. Dibandingkan enam bulan sebelumnya, jumlah penduduk miskin berkurang sekitar 430 ribu orang, sementara tingkat kemiskinan turun 0,18 persen poin.

Kondisi serupa juga terjadi di Provinsi Gorontalo. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin di daerah ini pada Maret 2026 mencapai 150,60 ribu orang, atau berkurang 5,16 ribu orang dibandingkan September 2025.

Persentase penduduk miskin di Gorontalo juga mengalami penurunan dari 12,62 persen pada September 2025 menjadi 12,16 persen pada Maret 2026, atau turun 0,46 persen poin.

Jika dilihat berdasarkan wilayah tempat tinggal, persentase penduduk miskin di kawasan perkotaan tercatat sebesar 4,30 persen, turun dari 4,46 persen pada September 2025. Sementara itu, di wilayah perdesaan, persentase penduduk miskin turun dari 19,86 persen menjadi 19,24 persen pada Maret 2026.

Meski jumlah dan persentase penduduk miskin mengalami penurunan, BPS menegaskan bahwa pengukuran kemiskinan tidak hanya dilihat dari banyaknya penduduk miskin. Tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan juga menjadi indikator penting untuk menggambarkan kondisi masyarakat miskin.

BPS menjelaskan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Sementara Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) menggambarkan tingkat penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.

Pada Maret 2026, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) di Gorontalo tercatat sebesar 2,011, turun 0,388 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 2,399. Namun, jika dibandingkan dengan Maret 2025 yang sebesar 1,962, nilai tersebut masih lebih tinggi 0,049 poin.

Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga mengalami penurunan dari 0,605 pada September 2025 menjadi 0,500 pada Maret 2026 atau turun 0,105 poin. Kendati demikian, angka tersebut masih berada di atas kondisi Maret 2025 yang tercatat sebesar 0,441, atau lebih tinggi 0,059 poin.

BPS juga mencatat bahwa nilai Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) maupun Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di wilayah perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan pengentasan kemiskinan di Gorontalo masih lebih besar di kawasan perdesaan, meskipun secara umum jumlah dan persentase penduduk miskin terus menunjukkan tren penurunan.

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60