Merdeka?

Hari ini, kita sedang merayakan 74 Tahun kemerdekaan Indonesia, jazirah yang kita huni dan diami, tempat banyak air mata dan darah telah tumpah.

Banyak hal penting yang telah kita lalui dan lewatkan. Banyak kenangan indah maupun yang kelam tentang Indonesia. Banyak pula keberhasilan diantara potongan-potongan kegalalan kita.

Kita sebagaimana bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu maju, mesti jujur pada diri kita sendiri bahwa kita adalah bangsa yang berada dalam ruang transisi yang penuh liku dan riak. Kita mesti mengakui torehan prestasi dan ukiran kegagalan agar kita bisa dewasa dari hal itu.

Prestasi, keberhasilan, kemajuan dan besarnya Indonesia hari ini adalah sebuah prestasi kolektif masyarakat Indonesia tanpa membedakan etnis maupun agama yang ada di dalamnya.

Begitu pula dengan kegagalan-kegagalan yang ada, kita juga mesti mengakui secara bersama-sama kelemahan agar menjadi titik tolak untuk lebih baik.

Kita mesti pula segera sadar dari riuhnya pesta kemerdekaan Indonesia, bahwa yang paling penting dari sebuah perayaan adalah bagaimana kita memperlakukan momentum itu untuk belajar, sadar diri dan bekerja lebih keras.

Peringatan momentum rupanya telah menjadi seragam dalam memori kita. Bahwa ia adalah momentum untuk melepas sekaligus mengharapkan. Kita tentu akan melepas yang lalu, tapi kita tak dapat menjemput yang akan datang, karena yang akan datang adalah juga yang terbuka.

Tak terberi sekaligus tak terpikirkan. Masa depan adalah sesuatu yang terbuka sekaligus adalah juga misteri.

Pesta perayaan pasti akan lewat, kita mesti segera bahu-membahu menyingsingkan lengan baju untuk bersama-sama mengerjakan masa depan yang kini terbuka dengan lebar.

Sebuah keniscayaan sudah di depan mata: umur negeri ini telah berganti. Sepotong masa, dengan segala baik dan buruknya, telah lewat; sepotong lagi, yang masih kosong dan siap menampung apa pun, sudah menanti. Tak ada yang bisa mengelakkannya.

Bersamaan dengan itu, keniscayaan usia yang kian bertambah, namun ada pulas sebagian kecil yang selalu merasa terganggu pikirannya setiap kali suatu masa yang baru telah tiba, pertanyaannya selalu sama: Apa ada hal-hal yang lebih baik di masa yang baru saja lewat yang sudah dilakukan? Lalu, untuk mengukur semua ikhtiar yang dilakukan pada tahun yang baru, digantungkanlah apa yang kini disebut resolusi.

Merayakan sebuah prestasi adalah penting. Tetapi, yang lebih penting adalah merawat ikhtiar untuk bekerja lebih keras. Kita tak akan pernah tahu, sampai kapan ikhtiar itu kita rawat dan akan berlangsung.

Seperti halnya tim sepak bola negara-negara yang rutin menjadi juara dunia, ikhtiar untuk terus di puncak tak pernah benar-benar berhenti, latihan dan pertandingan tak pernah dicampakkan; mereka boleh saja gagal menjadi juara pada suatu waktu, tapi kualitas mereka dari periode ke periode sulit untuk dikatakan mandek.

Bangsa kita memang miskin momentum. Adapun momentum-momentum diatas lebih banyak dikreasi oleh Pemerintah dibanding lahir dari kreasi masyarakat. Sehingga kita juga mesti jujur bahwa berbagai peringatan momentum yang telah lewat dan usai tidak menjadikan semangat kreatitifitas dan inovasi lokal semakin bertambah. Kita tentu mesti mengelola momentum yang ada dengan baik.

Momentum adalah usaha untuk mengingatkan diri kita, tetapi sebuah momentum kadang juga bisa mengelabui pengorbanan, cinta kasih dan usaha di masa lalu dengan estetika, dengan kemegahan, yang akhirnya memuaskan kita sampai kita tidak bisa bertanya lagi, sampai kita melupakan apa sebenarnya yang ada di balik momentum itu. Kita bahkan lupa kenapa kita merayakan momentum itu.

Momentum memang bisa membantu ingatan, tetapi proses pembelajaran yang diwarisi tentang suatu peristiwa kurang begitu dalam. Sehingga perlu ada transformasi sikap pengelolaan terhadap momentum. Terlalu banyak mengingat momentum keberhasilan dan prestasi juga akan membuat kita menjadi tawanan masa lalu, terlalu banyak melupakan pengalaman buruk dan ragam kegagalan juga akan membuat kita tidak bisa mengulang masa lalu secara arif. Posisi terbaik kita adalah berada di antara mengingat.

Karenanya, kedepan perlu ada sebuah konstruksi memori kolektif lokal terhadap momentum-momentum agar kemudian kita merayakannya secara arif bukan secara terbalik. Momentum yang perlu kita konstruksi secara transformatif adalah momentum yang mengandung memori kolektif yang secara intrinsik mengandung nilai emansipatoris menuju ke rekonsiliasi masa lalu dan masa depan yang kita inginkan.

Saya tidak sedang mengajak anda sekadar bernostalgia. Sketsa yang baru saya sampaikan mengandung pertanyaan tak terhingga. Kita sedang ditelikung oleh kekuatan-kekuatan yang memanfaatkan sepenuhnya ruang-ruang yang sudah kita buka dengan susah payah, kekuatan-kekuatan yang selalu berniat memenjarakan pikiran dan tubuh kita.

Apakah kita sudah terlalu bermurah hati? Apakah terang tanah itu sudah demikian menyilaukan sehingga tak segera kita tetakkan patok-patok acuan kebersamaan kita? Ataukah kita terlanjur bayangkan acuan-acuan itu punya kehidupan dan kekuatannya sendiri? Bahwa sebagai gugus-gugus gagasan – apakah itu demokrasi, kemanusiaan, keadilan, atau kesetaraan — mereka mampu secara alamiah memikat dan mengikat kesetiaan orang per orang, kelompok, pun golongan yang berbeda-beda dalam mewujudkan Indonesia baru yang kita cita-citakan.

Dari perjalanan kita selama ini, hampir tampak jelas bahwa Indonesia adalah sebuah cita-cita, hasil imajinasi perorangan yang diterjemahkan ke dalam tindakan-tindakan politik kolektif. Indonesia bukanlah sesuatu yang terberi, tetapi rangkuman niat, harapan dan kesepakatan yang dari masa ke masa berubah oleh perdebatan, pertentangan ideologi, dan pengabaian aspirasi-aspirasi tertentu.

Harus pula kita ingat bahwa di masa-masa paling kelam arena perumusan keindonesiaan dikuasai kekuatan fasistik yang melancarkan pemusnahan kelompok, golongan, dan suku bangsa tertentu.
Saya sepakat dengan Pramoedya Ananta Toer bahwa upaya ini ‘adalah juga perjuangan yang sama sengitnya dengan perjuangan-perjuangan lain dalam meningkatkan peradaban sesuatu bangsa dan peninggian nilai manusia.

Sumber-sumber nilai kemanusiaan baru harus ditemukan, bahkan yang kadang-kadang tidak punya persangkutan dengan yang tradisional. Kita harus cergas menangkap setiap ‘titik sinar’; kita perlu periksa siapa dan gagasan apa yang terpental, serta belum tuntas diperbincangkan dalam setiap ikhtiar memaknai dan menyempurnakan rancang-bangun bernama Indonesia ini.

Saya ingin menegaskan bahwa ancaman yang kita hadapi saat ini bukanlah teologi yang buruk. Kita seharusnya tidak terjebak dalam perang teologi karena yang kita hadapi adalah pertarungan politik dan kultural. Kita sedang berebut ruang dan pengaruh untuk menentukan rambu-rambu kekuasaan negara dan merumuskan keindonesiaan.

Dalam arena pertarungan ini kita perlu membangun gerakan kebudayaan yang memungkinkan tumbuhnya imajinasi tentang model bangsa baru yang kita dambakan dengan cita-cita politik yang jelas. Kita tidak bisa bertahan dengan posisi-posisi anti a atau b sebagai reaksi terhadap provokasi ‘pihak sana’. Kita tidak boleh membiarkan gerak kita ditentukan oleh manuver-manuver yang mereka rancang untuk mengacak-acak kesatuan dan keteraturan derap kita.

Kita harus tegaskan posisi kita terhadap hal-hal fundamental yang menjadi landasan dan kerangka tegaknya teritori ini.

Apa yang telah dipancangkan lelulur, pahlawan dan pejuang kita di masa lalu menjadi pelatuk kebangkitan kita untuk merancang masa depan Indonesia yang lebih baik. Kita bukan bangsa yang lemah dan tak berakal-budi.

Kita bukan obyek penerima sedekah dan tindakan karitatif lainnya. Kita mesti berdiri dan berbusung dada untuk membangun negeri kita dari puing-puing reruntuhan peradaban emas di era silam.

Masa depan yang terbuka di depan mata kita adalah menjadi harapan sekaligus dambaan setiap anak negeri yang mesti kita jemput dengan sepenuh hati. Masa depan sekali lagi adalah bukan yang terberi, ia adalah perjuangan kolektif kita.

Momentum-momentum yang telah lewat mesti kita kelola dan rawat agar ia menjadi ruang semedi kultural kita untuk penciptaan sejarah baru.

Karena itu, kemerdekaan perlu untuk dirayakan, namun kemerdekaan yang dirayakan adalah kemerdekaan yang telah tuntas. Sebab, jika merayakan sesuatu yang belum tuntas nampak kurang tepat, yang tepat adalah mengingat dan merenung.

Kemerdekaan tak pantas kita rayakan dengan gegap gempita jika masih ada warga yang berada dalam keadaan busung lapar, dalam kondisi rumah yang terbatas, dan pada keadaan anak-anak yang sebagian besar masih menadahkan tangan.

Kita merdeka hanya dalam nyanyian dan upacara bendera, diluar itu kita masih harus bertarung dan berjuang untuk merdeka.

Berita terkait lainnya

loading...