READ.id—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kotamobagu menghadirkan inovasi MOGUMAN sebagai upaya mempercepat penyampaian informasi dan koordinasi penanganan bencana lintas sektor.
MOGUMAN memanfaatkan WhatsApp Group sebagai media komunikasi berbasis real-time yang menghubungkan BPBD dengan sejumlah instansi dan pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam penanganan bencana.
Melalui jaringan komunikasi tersebut, informasi dari tingkat desa dan kelurahan dapat diteruskan secara langsung kepada instansi teknis yang berkaitan dengan penanganan keadaan darurat.
Inovasi ini lahir dari kondisi geografis Kotamobagu yang memiliki wilayah dengan topografi beragam, mulai dari kawasan permukiman hingga perbukitan. Kondisi tersebut, ditambah curah hujan tinggi dan alih fungsi lahan, menempatkan sejumlah wilayah dalam kewaspadaan terhadap potensi gempa bumi, banjir luapan, banjir bandang dan tanah longsor.
Dokumen inovasi MOGUMAN menyebutkan, kecepatan dan ketepatan penanganan pada menit-menit awal menjadi bagian penting dalam meminimalkan dampak bencana.
Sementara mekanisme pelaporan konvensional dari desa atau kelurahan menuju instansi teknis dapat menghadapi hambatan karena harus melewati rantai birokrasi. Kondisi tersebut dapat menyebabkan informasi kejadian terlambat diterima oleh pihak yang akan melakukan tindakan di lapangan.
Kepala Desa dan Lurah Jadi Sumber Informasi Awal
Dalam konsep MOGUMAN, kepala desa dan lurah ditempatkan sebagai garda terdepan dalam penyampaian informasi awal ketika terjadi bencana.
Laporan dapat disampaikan langsung melalui grup dengan melampirkan foto, koordinat lokasi serta deskripsi singkat mengenai kejadian. Informasi tersebut kemudian dapat diterima oleh BPBD dan instansi terkait untuk ditindaklanjuti sesuai kebutuhan di lapangan.
MOGUMAN dirancang sebagai jaringan komunikasi lintas sektor yang melibatkan BPBD, Dinas Sosial, Basarnas, Dinas PU, DLH, PRKP, Kepolisian, TNI, Damkar, PLN, Telkom, serta pemerintah desa dan kelurahan.
Kepala BPBD Kota Kotamobagu Asriyanti, Selasa (11/8/2026) menjelaskan, inovasi tersebut dibuat untuk mendekatkan layanan kebencanaan kepada masyarakat.
“Inovasi MOGUMAN hadir untuk mendekatkan layanan kebencanaan kepada masyarakat, khususnya di wilayah Kotamobagu. Melalui MOGUMAN, setiap laporan kejadian dapat diterima lebih cepat, diteruskan kepada petugas/stakeholder terkait, dan segera ditindaklanjuti dengan kaji cepat serta penanganan oleh Tim Reaksi Cepat di lapangan,” jelas Asriyanti.
Menurut Asriyanti, kecepatan informasi menjadi bagian penting dalam menentukan respons BPBD terhadap kejadian bencana.
“Jadi, semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula BPBD bergerak memberikan respons. Inilah komitmen kami, cepat menerima laporan, cepat bertindak, dan hadir untuk masyarakat,” ujarnya.
Memanfaatkan Platform yang Sudah Digunakan
Dalam proses penjaringan ide, WhatsApp Group dipilih sebagai media komunikasi karena mudah digunakan dan telah familiar bagi aparatur maupun pemangku kepentingan.

Platform tersebut juga mendukung kebutuhan pelaporan kebencanaan melalui fitur pengiriman foto, video, lokasi GPS dan dokumen.
Alternatif pembangunan aplikasi atau sistem informasi kebencanaan khusus sebelumnya turut dipertimbangkan. Namun, pilihan tersebut membutuhkan anggaran pembangunan dan pemeliharaan, proses pengadaan serta pelatihan bagi pengguna.
Sementara pelaporan secara berjenjang melalui surat, call center maupun mekanisme manual memiliki keterbatasan dalam hal kecepatan dan koordinasi banyak instansi secara bersamaan.
Atas pertimbangan tersebut, MOGUMAN dipilih dengan memanfaatkan WhatsApp Group sebagai sarana komunikasi terpadu lintas sektor.
Konsep ini tidak memerlukan pengembangan aplikasi baru maupun pengadaan server. Laporan juga dapat dilengkapi foto, video, titik koordinat GPS, rekaman suara maupun dokumen pendukung.
Diperkuat SOP dan PIC
Agar MOGUMAN berjalan terarah, dokumen inovasi tersebut mencantumkan kebutuhan terhadap regulasi atau SOP penggunaan grup.
Setiap instansi diharapkan menunjuk person in charge (PIC) yang bertanggung jawab dan siaga dalam grup. Komunikasi diarahkan khusus untuk laporan kejadian, koordinasi tindakan dan pembaruan penanganan bencana.
MOGUMAN ditujukan untuk memangkas waktu respons, mengoptimalkan sumber daya yang telah tersedia, meningkatkan koordinasi lintas instansi dan memperkuat perlindungan masyarakat ketika terjadi bencana.






