READ.ID,- Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, pendidikan tidak lagi cukup hanya mengajarkan angka, rumus, dan teori di ruang kelas. Dunia hari ini membutuhkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran tentang hubungan manusia dengan alam yang terus mengalami tekanan.
Karena itu, langkah PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan (UP) Gorontalo dalam mendukung pengembangan pendidikan berbasis lingkungan pada momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 menghadirkan pesan yang lebih dalam dari sekadar program seremonial tahunan.
Melalui kerja sama pengembangan kurikulum muatan lokal bertema keanekaragaman hayati, khususnya burung dan hutan, pendidikan mulai diarahkan untuk lebih dekat dengan realitas lingkungan di sekitar peserta didik. Alam tidak lagi diposisikan hanya sebagai objek pelengkap dalam buku pelajaran, tetapi menjadi bagian penting dari proses belajar itu sendiri.
Pendekatan ini terasa relevan di tengah situasi ketika banyak generasi muda semakin jauh dari ekosistem tempat mereka hidup. Anak-anak mengenal teknologi lebih cepat dibanding mengenali jenis pohon di sekitar rumahnya, memahami dunia digital lebih baik dibanding memahami pentingnya menjaga hutan dan satwa endemik.
Kurikulum muatan lokal berbasis lingkungan yang dikembangkan menjadi upaya untuk menjembatani jarak tersebut. Sekolah didorong agar tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan formal, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran ekologis sejak dini.
PLN Nusantara Power UP Gorontalo melalui program ini menunjukkan bahwa tanggung jawab perusahaan tidak selalu diwujudkan dalam bentuk pembangunan fisik semata. Ada investasi jangka panjang yang jauh lebih penting, yakni membangun cara pandang generasi muda terhadap lingkungan dan keberlanjutan hidup.
Manager PLN Nusantara Power UP Gorontalo, Hubertus Tri Adi Nugroho, menyampaikan bahwa keterlibatan perusahaan dalam program tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata dalam membangun sumber daya manusia yang peduli lingkungan.
Pernyataan itu mengandung makna penting: menjaga alam tidak bisa dimulai ketika kerusakan sudah terjadi, tetapi harus ditanamkan sejak proses pendidikan berlangsung.
Adi juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan pendidikan berbasis lingkungan. Pandangan ini memperlihatkan bahwa pendidikan hari ini tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah dan guru. Pemerintah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat memiliki tanggung jawab bersama dalam membentuk generasi masa depan.
Di tengah krisis lingkungan global yang semakin nyata, pendidikan berbasis lingkungan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan. Sebab masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju teknologi yang dimiliki sebuah bangsa, tetapi juga oleh seberapa besar kesadaran generasinya dalam menjaga bumi tempat mereka hidup.
Dan mungkin, dari ruang-ruang kelas kecil di Gorontalo, kesadaran itu sedang mulai ditanam perlahan.












