Dari Batu Bara ke Sekam Padi: Jalan Sunyi PLN NP Menuju Energi Hijau

IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia

READ.ID,- Di tengah kerasnya kritik terhadap ketergantungan Indonesia pada batu bara, sebuah pendekatan “setengah langkah” justru diam-diam sedang dipraktikkan PLN Nusantara Power (PLN NP). Namanya co-firing biomassa teknologi yang mungkin tidak terdengar seheroik panel surya atau mobil listrik, tetapi perlahan mulai mengubah wajah pembangkit listrik nasional.

Teknologi ini pula yang mengantarkan Ardi Nugroho, Vice President Technology Development PLN Nusantara Power, menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Jakarta.

Penghargaan itu bukan sekadar seremoni birokrasi. Ia menjadi simbol pengakuan negara terhadap satu kenyataan penting: transisi energi di Indonesia tidak selalu datang lewat revolusi besar, tetapi sering lahir dari kompromi teknologi yang realistis.

Melalui skema co-firing, PLTU yang selama puluhan tahun identik dengan batu bara mulai “dipaksa berdamai” dengan biomassa. Serbuk kayu, woodchip, sekam padi, hingga cangkang sawit dicampurkan ke dalam sistem pembakaran sebagai substitusi sebagian batu bara.

Bagi sebagian aktivis lingkungan, langkah ini mungkin belum cukup radikal. Namun bagi negara yang ekonominya masih bertumpu pada energi fosil, pendekatan seperti ini dianggap lebih mungkin dijalankan ketimbang mematikan PLTU secara mendadak.

PLN NP sendiri menjadi pionir program ini sejak uji coba pada 2018. Titik pentingnya terjadi pada 10 Juni 2020 saat PLTU Paiton menjalankan go-live komersial pertama co-firing biomassa di Indonesia. Sejak itu, model tersebut berkembang menjadi semacam “jalan tengah” antara tuntutan pengurangan emisi dan kebutuhan menjaga stabilitas listrik nasional.

Kini, program co-firing biomassa telah diterapkan di 25 PLTU. Bahkan beberapa unit disebut mampu mencapai full biomass firing 100 persen sesuatu yang dulu terdengar nyaris mustahil untuk pembangkit berbasis batu bara.

Dampaknya mulai terlihat dalam angka-angka yang kerap dipakai pemerintah sebagai amunisi narasi transisi energi. Sepanjang 2025, implementasi co-firing biomassa PLN NP menghasilkan 1.041 GWh energi hijau dan mengurangi emisi hingga 1,17 juta ton CO₂e. Pada kuartal pertama 2026 saja, tercatat produksi 245 GWh energi hijau dengan penurunan emisi sebesar 286 ribu ton CO₂e.

Namun yang lebih menarik sebenarnya bukan sekadar angka emisi, melainkan ekosistem ekonomi yang ikut bergerak di belakangnya.

Biomassa yang dipakai berasal dari limbah pertanian, kehutanan, hingga perkebunan. Artinya, sesuatu yang selama ini dianggap sampah kini memiliki nilai ekonomi baru. Di desa-desa, limbah sekam padi atau potongan kayu yang biasanya dibakar begitu saja mulai dilihat sebagai komoditas energi.

Di titik ini, co-firing bukan hanya soal teknologi pembangkit, tetapi juga tentang bagaimana transisi energi bisa menyentuh ekonomi rakyat kecil.

Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menyebut penghargaan yang diterima Ardi Nugroho sebagai representasi kerja kolektif perusahaan dalam menghadirkan inovasi energi yang lebih berkelanjutan. Sementara Ardi sendiri melihat co-firing sebagai bentuk transisi energi yang lebih inklusif dan realistis untuk Indonesia.

Co-firing biomassa membuktikan bahwa transisi energi bisa dilakukan secara bertahap dan berbasis potensi lokal,” ujarnya.

Pernyataan itu penting dicatat. Sebab selama ini, diskursus energi hijau di Indonesia sering terjebak pada romantisme teknologi mahal dan proyek-proyek raksasa. Padahal, bagi negara berkembang dengan kebutuhan listrik besar seperti Indonesia, transisi energi kemungkinan besar memang tidak akan berlangsung revolusioner. Ia akan berjalan lambat, penuh kompromi, dan mungkin tidak sempurna.

Tetapi dari sekam padi, limbah kayu, dan cangkang sawit itulah, Indonesia tampaknya sedang mencoba mencari jalannya sendiri menuju masa depan energi yang lebih hijau.

Baca berita kami lainnya di

banner 468x60