READ.ID,- Di tengah kehidupan modern yang semakin bergantung pada energi listrik, masih ada rumah-rumah yang malamnya diterangi cahaya seadanya. Bagi sebagian orang, listrik mungkin hanya bagian rutin dari kehidupan sehari-hari. Namun bagi warga yang belum menikmati akses energi, hadirnya sambungan listrik adalah perubahan besar yang menyentuh martabat hidup.
Karena itu, langkah yang dilakukan Lazis PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo bukan sekadar penyaluran bantuan sosial biasa. Ketika listrik gratis dan bantuan modal usaha diberikan kepada warga Kota Gorontalo yang membutuhkan, yang sesungguhnya sedang dihadirkan bukan hanya fasilitas, tetapi juga harapan tentang kehidupan yang lebih layak.
Melalui program sosial yang bersumber dari dana zakat, infak, dan sedekah karyawan muslim di lingkungan UP Gorontalo, Lazis PLN NP UP Gorontalo mencoba memperlihatkan bahwa keberadaan perusahaan tidak harus berhenti pada urusan operasional energi semata. Ada ruang kemanusiaan yang juga perlu dijaga.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Reynold Gobel selaku Ketua Lazis PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo. Bantuan tersebut diberikan kepada warga penerima rumah bantuan yang sebelumnya belum memiliki akses listrik, sekaligus disertai bantuan modal usaha untuk mendukung kemandirian ekonomi keluarga.
Dalam keterangannya, Reynold menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bentuk kepedulian insan PLN Nusantara Power terhadap masyarakat sekitar, khususnya warga yang membutuhkan dukungan akses energi dan penguatan ekonomi keluarga.
Pernyataan itu mengandung pesan yang lebih luas. Bahwa listrik bukan sekadar infrastruktur teknis, melainkan bagian penting dari kualitas hidup manusia. Dengan listrik, anak-anak dapat belajar lebih nyaman di malam hari, aktivitas rumah tangga menjadi lebih mudah, dan peluang ekonomi kecil bisa mulai tumbuh dari rumah-rumah sederhana.
Sementara bantuan modal usaha yang diberikan menunjukkan bahwa bantuan sosial tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu membangun kemandirian ekonomi secara perlahan.
Suasana haru yang menyertai penyerahan bantuan menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka pembangunan, masih ada persoalan dasar yang sangat berarti bagi masyarakat kecil. Sambungan listrik yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, bagi penerimanya bisa menjadi titik awal perubahan hidup.
Di tengah dunia yang semakin individual, langkah seperti ini memperlihatkan bahwa semangat gotong royong dan solidaritas sosial masih memiliki tempat. Bahwa perusahaan tidak hanya hadir sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem sosial yang ikut bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Pada akhirnya, energi yang paling dibutuhkan manusia bukan hanya listrik yang menerangi rumah, tetapi juga kepedulian yang mampu menjaga harapan tetap menyala.












