READ.ID –
Prof. Yowan Tamu, salah satu peneliti dalam program Partnership for Australia–Indonesia Research (PAIR), memaparkan perkembangan penelitian bertajuk Green Health: Community Health Center Net Zero Transition Regulatory Framework di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo, Senin (19/5/2026).
Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan kebijakan dan instrumen tata kelola yang memungkinkan sistem layanan kesehatan primer di Indonesia bertransisi menuju net zero emission.
Dalam pemaparannya, Prof. Yowan menjelaskan bahwa riset ini berlangsung selama dua tahun dan telah dimulai sejak Agustus 2025. Penelitian tersebut merupakan kolaborasi sejumlah universitas di Australia dan Indonesia dengan University of Melbourne sebagai AU Lead.
Sementara itu, mitra dari Indonesia terdiri atas Universitas Hasanuddin, Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Gorontalo melalui keterlibatan Prof. Yowan Tamu sebagai partner investigator dengan pendekatan socio-anthropological lens, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Sam Ratulangi.
Prof. Yowan menegaskan bahwa penelitian ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan dampak nyata bagi tata kelola kesehatan di daerah.
“Kami berupaya membangun kerangka regulasi yang berbasis bukti dan praktis untuk diterapkan di tingkat puskesmas, khususnya di Gorontalo dan Sulawesi Utara. Karena itu, dampak yang kami harapkan bukan hanya bersifat akademik, tetapi juga berorientasi pada kebijakan dan relevan secara langsung dalam memperkuat tata kelola kesehatan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, penelitian ini turut melibatkan berbagai impact partners, di antaranya Bappeda Provinsi Gorontalo yang berperan dalam integrasi hasil penelitian ke dalam RPJMD dan perencanaan sektoral. Selain itu, Dinas Kesehatan tingkat provinsi dan kabupaten juga dilibatkan dalam pemetaan regulasi serta adopsi kebijakan.
Sejumlah puskesmas terpilih menjadi lokasi pelaksanaan wawancara, focus group discussion (FGD), dan survei yang melibatkan sekitar 50 responden. Keterlibatan organisasi perangkat daerah lintas sektor juga dilakukan guna memperkuat koordinasi terkait mandat net zero di daerah.
Penelitian ini ditargetkan menghasilkan sejumlah dampak strategis, di antaranya rekomendasi kebijakan berbasis bukti untuk transisi net zero pada layanan kesehatan primer, kerangka insentif bagi dekarbonisasi fasilitas kesehatan, model regulasi yang dapat diadopsi otoritas kesehatan provinsi maupun nasional, hingga pendekatan antropologis agar regulasi yang disusun sesuai dengan konteks budaya dan kondisi lokal masyarakat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Deputi Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan harapannya agar hasil penelitian kolaboratif tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Semoga hasil penelitian ini bisa diterjemahkan menjadi dampak nyata,” ungkapnya.












