READ.ID – Bupati Gorontalo Utara, Thariq Modanggu, membuka kegiatan Temu Akbar Relawan Bercahaya yang dirangkaikan dengan refleksi satu tahun pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Gorontalo Utara. Dalam sambutannya, Thariq mengajak seluruh relawan dan masyarakat untuk menjadikan momentum tersebut sebagai ruang mengenang perjalanan politik sekaligus mengevaluasi capaian pemerintahan selama satu tahun terakhir.
Di hadapan relawan, anggota DPRD, pimpinan OPD, camat, kepala desa, dan tamu undangan, Thariq mengatakan perjalanan pasangan Bercahaya hingga memimpin Gorontalo Utara merupakan rangkaian proses panjang yang penuh tantangan dan keajaiban politik.
“Refleksi satu tahun ini sangat penting bagi kita untuk merenungkan berbagai hal dalam semangat perjuangan, bukan dengan memori yang sepotong-sepotong, tetapi dirangkai menjadi satu gambar utuh agar memberi nilai dan semangat untuk terus berjuang,” ujarnya.
Thariq mengulas perjalanan Pilkada Gorontalo Utara yang diwarnai perubahan regulasi, putusan Mahkamah Konstitusi, hingga pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) yang akhirnya mengantarkan pasangan Bercahaya meraih kemenangan.
Menurutnya, semangat perjuangan tidak berhenti setelah kontestasi politik usai. Hal itu dibuktikan dengan diadopsinya jargon “Bercahaya” sebagai visi resmi pembangunan daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Gorontalo Utara.
“Bercahaya bukan lagi sekadar simbol perjuangan politik, tetapi menjadi visi pembangunan lima tahun ke depan, yaitu Berdaya, Sinergi, Ceria, dan Berbudaya,” katanya.
Dalam refleksi satu tahun pemerintahan, Thariq juga menyinggung beratnya kondisi fiskal daerah. Ia mengungkapkan APBD Gorontalo Utara mengalami pengurangan sekitar Rp145 miliar, sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) masih berada di kisaran Rp50 miliar.
Meski demikian, ia menegaskan keterbatasan anggaran tidak menjadi alasan untuk berhenti berinovasi. Pemerintah daerah, kata dia, memilih mengusung semangat “berkreasi dalam keterbatasan” sebagaimana filosofi cahaya yang tetap mampu menerangi meski berasal dari sumber yang kecil.
Sebagai contoh, Thariq menyebut Program Gerakan 2 Kambing 10 Ayam (G2-10) yang awalnya merupakan program pemberdayaan masyarakat kini berkembang menjadi proyek hilirisasi peternakan ayam yang akan menjadi salah satu program strategis nasional.
Ia menjelaskan, proyek tersebut ditargetkan memproduksi hingga 250 ribu ekor ayam per hari melalui pola kemitraan dengan masyarakat. Warga akan memelihara ayam yang disediakan perusahaan, kemudian hasil panennya dibeli kembali oleh investor, sementara kebutuhan pakan juga akan diproduksi di Gorontalo Utara.
“Ini bukan hanya kebutuhan Gorontalo Utara. Kami juga diminta mengajak kabupaten-kabupaten lain untuk membangun kerja sama dalam pengembangan hilirisasi peternakan ayam ini,” ujar Thariq.
Melalui momentum refleksi tersebut, Thariq berharap semangat kebersamaan yang terbangun sejak masa perjuangan politik tetap terjaga dalam mengawal pembangunan Gorontalo Utara selama lima tahun ke depan.












