READ.ID – Aksi intimidasi kembali menimpa insan pers saat menjalankan tugas jurnalistik di lapangan.
Pimpinan Redaksi Barakati.id, Arlan Pakaya, mengecam keras dugaan tindakan intimidasi terhadap wartawannya saat melakukan peliputan di wilayah operasional perusahaan tambang di Kabupaten Pohuwato.
Insiden tersebut terjadi ketika wartawan Barakati.id tengah menjalankan tugas jurnalistik melakukan peliputan terkait aktivitas penertiban dan situasi di kawasan tambang sebagaimana diberitakan dalam laporan sebelumnya. Dalam peristiwa itu, wartawan diduga mendapat perlakuan tidak pantas hingga diminta membuka atau melepas pakaian oleh oknum petugas di lokasi.
Arlan Pakaya menegaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk intimidasi terhadap kerja-kerja pers dan tidak dapat dibenarkan dalam negara demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan pers.
“Pers bekerja dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Tidak ada satu pihak pun yang berhak melakukan intimidasi, apalagi mempermalukan wartawan saat menjalankan tugas jurnalistik di lapangan,” tegas Arlan dalam keterangannya, Selasa (19/05/2026).
Menurutnya, wartawan yang bertugas telah menjalankan fungsi kontrol sosial dan menyampaikan informasi kepada publik secara profesional. Karena itu, segala bentuk tindakan yang menghalangi peliputan merupakan ancaman serius terhadap kemerdekaan pers.
Ia juga meminta seluruh pihak, termasuk perusahaan maupun aparat keamanan, agar menghormati tugas jurnalistik dan mengedepankan pendekatan humanis terhadap insan pers.
“Kami mengecam keras dugaan tindakan arogan tersebut. Jika benar terjadi, maka ini adalah bentuk pelecehan terhadap profesi wartawan sekaligus pelanggaran terhadap kebebasan pers,” ujarnya.
Selain itu, Arlan meminta aparat penegak hukum dan pihak terkait segera melakukan klarifikasi dan evaluasi terhadap oknum yang diduga terlibat dalam tindakan intimidatif tersebut.
Barakati.id, lanjutnya, akan terus mengawal persoalan itu demi memastikan perlindungan terhadap jurnalis saat menjalankan tugas di lapangan.
Sebelumnya, dugaan intimidasi terhadap wartawan saat meliput di kawasan tambang juga sempat menjadi perhatian sejumlah organisasi pers di Gorontalo. Beberapa kasus kekerasan dan pelarangan liputan terhadap jurnalis pernah terjadi dan menuai kecaman dari berbagai kalangan.












